Thursday, September 25, 2008

Indonesia's 20% Budget Increased For Agricultural R&D

Indonesian Vice President Jusuf Kalla said the Indonesian government has increased to 20% the State Revenue and Expenditure Budget (APBN) to be granted for Agricultural Research and Development.

Furthermore, he pointed out that seven non-rice main food commodities should be developed such as wheat, soybean, chicken meat and egg in order to release Indonesia from a "food trap" made by developed countries and global capitalism. These seven commodities currently vary depending on import products.

This next year's budget increase is aimed to improve the capacity of Indonesian human and natural resources to play important roles in the agricultural sector. Technological innovations in the agricultural sector are currently playing a strategic role in increasing food production despite shrinking farmland area. Indonesian universities are also encouraged to support the Government's program for local food sustainability and global food competitiveness.

For more details visit: http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/09/02/00395277/wapres.akui.riset.pertanian.masih.lemah

Read more...

Limited Release of GM Cotton in Australia

Australia's Department of Health and Ageing Office of the Gene Technology Regulator has issued a license to Monsanto Australia Limited for the limited and controlled release of up to 504 cotton lines genetically modified (GM) for enhanced water use efficiency. Field trials will be done at 20 local government areas in New South Wales and Wyndham-East Kimberly covering a maximum total area of 80 hectares from 2008-10.

The executive summary, technical summary and complete finalized Risk Assessment and Risk Management Plan (RARMP), together with a set of Questions and Answers on this decision and a copy of the license, can be obtained online from http://www.ogtr.gov.au.

Read more...

FAO: Increase Farm Production to End Food Crisis

Increased agricultural production is the way out of the global food crisis. This was underscored by Food and Agriculture Organization Director General Jacques Diouf during a joint hearing on the impact of higher food prices on food security by the Foreign and Agricultural Committees of Italy's Senate and Chamber of Deputies.

FAO is working with the G8, an international forum representing member countries, and the international community to set-up a Global Partnership on Food and Agriculture. It already made preliminary contact with Italian authorities on creating a world network of food and agriculture experts in order to assess future needs and risks. "We are facing a challenge of enormous proportions," Diouf said. With Italy as President of the G8 in 2009, Italy is expected to bear "a historic responsibility".

Diouf said that the FAO's Food Price Index increased by 12 percent between 2005 and 2006, by 24 percent in 2007 and by some 50 percent up to July 2008. He added that the world's poorest countries would be at continued risk as prices were likely to stay high for several years. Prior to price increases in 2007-2008, there were 850 million malnourished people in the world. The figure increased by 75 million immediately after.

View the FAO press release at http://www.fao.org/newsroom/en/news/2008/1000922/index.html

Read more...

28 Produk Makanan Ditarik, Akan diteliti apakah ada kandungan melamin.

JAKARTA -- Badan Pengawas Obat dan Makanan kemarin memerintahkan penarikan 28 jenis makanan berbagai merek karena menggunakan bahan baku susu asal Cina. Langkah pengamanan ini dilakukan berkaitan dengan kasus ditambahkannya melamin pada susu formula untuk bayi di negeri itu.

"Larangan itu mulai berlaku hari ini (kemarin)," kata Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Husniah Rubiana Thamrin setelah rapat dengar pendapat dengan Komisi Agama, Sosial, dan Pemberdayaan Perempuan Dewan Perwakilan Rakyat di Jakarta kemarin.

Makanan yang dilarang beredar itu bermacam-macam, dari es krim, susu, sampai wafer dan permen. Di Cina, produk susu tercemar itu menyebabkan empat bayi tewas dan 53 ribu lainnya sakit. Sebanyak 12 ribu lebih bayi mulai sembuh setelah dirawat di rumah sakit. Sedangkan 104 bayi lainnya kini masih dirawat karena gangguan pada ginjal.

Menurut Husniah, produk makanan dan minuman berkandungan susu asal Cina itu akan diteliti di laboratorium. Dia memastikan tak ada susu buatan Cina untuk bayi yang beredar di Indonesia . Susu impor dari Cina yang beredar di Indonesia hanya untuk konsumsi orang dewasa. "Susunya tidak mengandung melamin," katanya. Tapi produk ini ikut disegel.

Menurut Kepala Pusat Komunikasi Publik Sekretariat Jenderal Departemen Kesehatan Lily Sulistyowati, susu buatan Cina untuk orang dewasa itu, Guozhen, punya izin edar. "Itu pun susu krim," kata Lily kepada Tempo semalam. Tidak tertutup kemungkinan susu Cina tak punya izin edar, masuk dengan cara diselundupkan.

Sebagai langkah antisipasi, Badan POM telah mengirimkan surat kepada Asosiasi Peretail Indonesia untuk mengambil langkah pengamanan. "Bentuknya menarik dan menyegel susu dan produk yang menggunakan susu asal Cina untuk dilaporkan ke Badan POM," kata Lily. Produk yang akan diteliti itu terdiri atas 28 jenis.

Badan POM, menurut dia, mulai hari ini akan meneliti apakah produk tersebut terbukti mengandung melamin. Kapan hasil penelitian itu akan diumumkan, Lily mengatakan tak bisa menjawab. "Kewenangan itu ada di Badan POM," katanya.

Asosiasi Pengusaha Retail Indonesia (Aprindo) akan menghentikan distribusi produk yang mengandung susu asal Cina. "Tanpa tunggu apa-apa lagi, langsung kami patuhi dan segera hentikan," kata Sekretaris Jenderal Aprindo Tutum Rahanta.

Dia mengatakan pihaknya tak mau mengambil risiko dengan tetap mengedarkan produk-produk yang diduga berbahaya. Namun, Tutum belum memastikan kapan langkah penghentian peredaran itu dilakukan karena dia belum melihat surat permintaan dari Badan POM. Informasi soal susu Cina yang akan ditarik itu baru diperoleh dari Departemen Perdagangan kemarin siang.

Ketua Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia Thomas Darmawan mengimbau agar pemerintah berhati-hati terkait dengan rencana penarikan susu Cina dan produk turunannya yang diduga membahayakan. "Harus benar-benar berdasarkan penelitian dengan prinsip kehati-hatian," katanya.

Menurut dia, tidak semua produk Cina di Indonesia, termasuk 28 item yang akan ditarik dari distribusinya, mengandung melamin yang membahayakan. Dengan pengumuman rencana penarikan, produk lain yang berbau Cina pun bisa kena imbasnya. "Ujung-ujungnya merugikan peretail kecil dan industri," katanya. "Apalagi kita tidak impor susu dari Cina, tapi dari Australia ." CORNILA DESYANA | HARUN MAHBUB

Setitik Melamin di Susu Cina

Heboh susu mengandung melamin di Cina, yang menyebabkan 53 ribu bayi sakit ginjal, akhirnya sampai juga ke Indonesia . Senin lalu, 22 September, Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari menarik susu bubuk merek Guozhen produksi Cina. Sehari kemudian, Badan Pengawas Obat dan Makanan mengeluarkan surat edaran agar Asosiasi Peretail Indonesia mengamankan 28 jenis makanan yang mengandung susu asal Cina.

KRONOLOGI:

Desember 2007: Perusahaan susu Sanlu Group, Cina, menerima keluhan produk mereka membuat bayi sakit.

Juni 2008: Sanlu menemukan susu bubuknya mengandung melamin.

30 Juni 2008: Lima bayi di Hunan sakit batu ginjal karena susu Sanlu.

11 September 2008: Sanlu, yang sahamnya dikuasai Fonterra, Selandia Baru, menarik 700 ton susu formula.

21 September 2008: Departemen Kesehatan Cina mengumumkan 53 ribu bayi sakit dan empat meninggal karena susu beracun itu.

22 September 2008: Departemen Kesehatan RI menarik susu Guozhen produksi Cina.

23 September 2008: Badan Pengawas Obat dan Makanan mengumumkan 28 jenis makanan yang mengandung susu asal Cina.

APAKAH MELAMIN ITU

Melamin adalah bahan kimia berbasis organikyang banyak ditemukan dalam bentuk kristal putihdalam nitrogen. Biasanya digunakan sebagai bahan campuran plastik dan pupuk. Melamintak punya nilai nutrisi, tapi kaya nitrogen, sehingga bila dicampur dengan susu akan membuat kadar protein susu seolah lebih tinggi ketimbang aslinya.

Produk yang ditarik dari peredaran:

1. Jinwel Yougoo Susu Fermentasi Rasa Jeruk

2. Jinwel Yougoo Aneka Buah

3. Jinwel Yougoo tanpa Rasa

4. Guozhen susu bubuk full cream

5. Meiji Indoeskrim Gold Monas Rasa Cokelat

6. Meiji Indoeskrim Gold Monas Rasa Vanila

7. Oreo Stick Wafer

8. Oreo Stick Wafer (disebut dua kali, karena ukuran berbeda)

9. Oreo Cokelat Sandwich Cookies

10. M&M’s Kembang Gula Cokelat Susu

11. M&M’s Cokelat Susu

12. Snicker’s (biskuit-nougat lapis cokelat)

13. Dove Choc Kembang Gula Cokelat

14. Dove Choc

15. Dove Choc (disebut dua kali, karena ukuran berbeda)

16. Natural Choice Yoghurt Flavoured Ice Bar

17. Yili Bean Club Matcha Red Bean Ice Bar

18. Yili Bean Club Red Bean Ice Bar

19. Yili Prestige Chocliz

20. Yili Chestnut Ice Bar

21. Nestle Dairy Farm UHT Pure Milk

22. Yili High Calcium Low Fat Milk Beverage

23. Yili High Calcium Milk Beverage

24. Yili Pure Milk 205 ml

25. Yili Pure Milk 1 L

26. Dutch Lady Strawberry Flavoured Milk

27. White Rabbit Creamy Candy

28. Yili Choice Dairy Frozen Yoghurt Bar (kembang gula)

SUMBER: PUSAT KOMUNIKASI PUBLIK SEKRETARIAT JENDERAL DEPARTEMEN KESEHATAN RI

http://www.korantempo.com

Read more...

Postdoctoral Fellow:ALUF-supported project

IRRI is seeking a postdoctoral fellow to join its staff at headquarters in the Philippines. This annual, renewable position is funded by the project: Engineering Rice for High Beta-Carotene, Vitamin E, and Enhanced Fe and Zn Bioavailability. The position will be supervised by plant biotechnology scientists in IRRI’s Plant Breeding, Genetics, and Biotechnology Division.

Responsibilities

The successful candidate will join IRRI’s research program on Rice and Human Health: Overcoming the Consequence of Poverty. An international, multi-disciplinary team is involved in the development and dissemination of nutritionally enhanced rice in Asia and Africa. Within this context, the postdoctoral fellow will work to improve nutritional characteristics of rice varieties with the major target being to understand the roles of different iron homeostasis genes in iron accumulation.

The successful candidate will 1) study biochemical pathway related to iron accumulation in the rice grain, 2) design and construct the plant transformation vectors for expression of candidate genes in rice, 3) conduct molecular analysis and biochemical analysis of the gene expression in transgenic rice, and 4) interact with scientists working on different aspects of human nutrition improvement using rice.

Qualifications

Candidates should have 1) a PhD in molecular biology, biochemist, or related fields; 2) experience in vector design and construction; 3) understanding of plant biochemistry; 4) proven ability to perform in a multidisciplinary and multicultural environment; and 5) excellent interpersonal skills.

Perquisites and IRRI environment
The position is located at IRRI headquarters at Los Baños, 70 kilometers south of Manila, Philippines. IRRI offers salary and perquisites that are internationally competitive, including support for education of children, transport allowance, and medical benefits. IRRI provides a gender-sensitive environment and welcomes women applicants. Citizens of developing countries, particularly rice-producing countries, are encouraged to apply. The Institute is committed to assisting families in making personal and, to the extent possible, professional adjustments to the local environment. IRRI has an accredited international school and preparatory school for younger children within the headquarters compound.

Applications

Applicants should send via email a comprehensive curriculum vitae and names and email addresses of three referees to:

Ms. Selene M. Ocampo
Officer-HR Coordination
International Rice Research Institute

Read more...

Global food situation at a crossroads : World can avert major problems but must act now

Los Baños, Philippines – Declining agricultural productivity and continued growing demand have brought the world food situation to a crossroads. Failure to act now through a wholesale reinvestment in agriculture—including research into improved technologies, infrastructure development, and training and education of agricultural scientists and trainers—could lead to a long-term crisis that makes the price spikes of 2008 seem a mere blip.

This stark warning, in line with calls from organizations such as the World Bank, the World Food Program, and Asian Development Bank (ADB), was issued by members of the Board of Trustees (BOT) of the International Rice Research Institute (IRRI) following their meeting on 16-19 September at Institute headquarters in Los Baños, Philippines.

The global community needs to remember two key things,” said BOT Chair Elizabeth Woods. “First, that growth in agricultural productivity is the only way to ensure that people have access to enough affordable food. Second, that achieving this is a long-term effort. A year or two of extra funding for agricultural research is not enough. To ensure that improved technologies flow from the research and development pipeline, a sustained re-investment in agriculture is crucial.”

Dr. Woods pointed out that the annual rice yield growth rate has dropped to less than 1% in recent years, compared with 2–3% during the Green Revolution period of 1967-90. Based on projected income and population growth, annual productivity growth of almost 1.5% will be needed at least until 2020.

The meeting coincided with the release of a report by the Food and Agriculture Organization of the United Nations stating that higher food prices are partly to blame for the number of hungry people growing by 75 million to around 925 million worldwide—and further jeopardizing the UN Millennium Development Goal of halving hunger and poverty by 2015.

Another report, released this week by the ADB, argued that, for Asian countries to prevent future food price surges, agriculture needs wide-scale structural reform. This report also warned that, with demand remaining higher than supply, any supply shock would further increase cereal prices.

An ADB report released in August increased the cut-off level for poverty from US$1 per day to $1.35 per day, meaning that millions more people are trapped in poverty than previously thought. Disturbingly, the new measure does not take into account the higher food and fuel prices of 2008, which, according to some estimates, have plunged a further 100 million people below the poverty line. Although the export price of rice has settled from more than $1,000 per ton in May to around $700 per ton, it is still double the price of one year ago.

The current crisis serves as a timely wakeup call for governments, multilateral organizations, and donors to refocus on agriculture. Various national and international bodies have called for a second Green Revolution to feed the world in the face of a growing population and shrinking land base for agricultural uses.

Unlike the first Green Revolution, in which productivity growth was achieved with the introduction of modern varieties in tandem with assured irrigation and inputs (such as fertilizer), and guaranteed prices, the second Green Revolution needs to achieve the same goal in the face of several 21st-century challenges. These challenges include water and land scarcity, environmental degradation, skyrocketing input prices, and globalized marketplaces, all within the context of global climate change.

In short, the second Green Revolution will have to expand productivity sustainably, with fewer resources.

Source : IRRI

Read more...

Wednesday, September 17, 2008

The American National Standards Institute (ANSI)

ANSI oversees the creation, promulgation and use of thousands of norms and guidelines that directly impact businesses in nearly every sector:
from semiconductor devices to pharmaceuticals, from dairy and livestock production to chemical manufacturing, and many more. ANSI is also actively engaged in accrediting programs that assess conformance to standards including globally-recognized cross-sector programs such as the ISO 9000 (quality) and ISO 14000 environmental management systems. Find out more at www.webstore.ansi.org.

Read more...

Friday, September 12, 2008

BPPT Biakkan Plankton untuk Menyerap Karbondioksida

JAKARTA, RABU — Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) mulai melakukan riset fotobioreaktor yang menggunakan plankton untuk menyerap karbon (CO2) dari udara. Teknologi tersebut akan dipakai sebagai upaya pengurangan gas rumah kaca (GRK) yang menjadi biang pemanasan global.

"Plankton mampu menyerap karbon, karena itu kita perlu membudidayakan plankton," kata Direktur Pusat Teknologi Lingkungan BPPT Kardono PhD seusai seminar "Perubahan Iklim (Global Warming): Isu Internasional, Kebijakan Pemerintah Indonesia dan Peran BPPT" di Jakarta, Selasa (19/8).

Plankton, katanya, selain menyerap karbon juga bisa dibudidayakan menjadi bahan bakar nabati (biofuel) dengan memasukkannya ke dalam cerobong asap pabrik, tempat pembuangan karbon. Setelah jenuh CO2, plankton tersebut dipanen. Ia menambahkan, uji coba plankton sebagai penyerap karbon di dunia masih dalam skala riset di laboratorium, tapi Jerman sudah melakukan riset skala pilot project.

BPPT juga sedang membuat neraca GRK dengan mencari dan membuat metode penghitungan penyerapan karbon, baik oleh hutan maupun laut. Dengan ini dapat dihitung berapa emisi udara yang dikeluarkan secara total nasional dan berapa yang diserap oleh sumber daya nasional yang ada.

"Kita hitung juga dari sektor energi, dari transportasi, industri, pertanian, dan limbah. Ini penting untuk hitung-hitungan skema Mekanisme Pembangunan Bersih (CDM) dan REDD (Reducing Emissions from Deforestation and Forest Degradation) yang disetujui dalam Bali Roadmap, dana adaptasi, dan alih teknologi," katanya.

Namun, elaborasi dari Bali Roadmap masih akan dibahas pada Conference of Parties (COP) ke-14 United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC) di Polandia, sedangkan perjanjian perubahan iklim pasca-2012 masih akan dilakukan di COP ke-15 di Denmark pada 2009.

Plt Kepala BPPT Wahono Sumaryono dalam pidato kuncinya mengatakan, dari penelitian yang dilakukan di beberapa lokasi, kenaikan muka air laut Indonesia sudah mencapai 8 mm per tahun. Bila upaya pengurangan emisi gas rumah kaca tidak dilakukan, diperkirakan kenaikan muka air laut bisa mencapai 60 cm pada tahun 2070.

"Indonesia perlu membuat analisis komprehensif dan rinci soal kebutuhan teknologi yang mempunyai potensi besar menurunkan emisi CO2 dan dalam adaptasi terhadap dampak perubahan iklim karena Indonesia merupakan negara kepulauan dan memiliki daerah pantai yang panjang yang rentan perubahan iklim dan harus diprioritaskan UNFCCC," katanya.

WAH
Sumber : Antara
www.kompas.com

Read more...

Plastik Ramah Lingkungan dari Kelapa Sawit


MEDAN, JUMAT - Peneliti Universitas Sumatera Utara, Basuki Wirjosentono, mengenalkan plastik ramah berbahan hasil samping minyak sawit mentah. Plastik yang selama ini beredar di masyarkat masih memakai zat kimia yang berpotensi mengganggu kesehatan manusia. Hasil samping sawit terbukti aman dari gangguan itu.

"Hasil samping ini sebagai pelunak plastik. Bahannya banyak terdapat di sekitar kita. Pemanfaatan hasil samping minyak sawit ini sekaligus bisa meningkatkan nilai jualnya," kata Basuki Wirjosentono di Kampus Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA), Universitas Sumatera Utara (USU), Medan, Jumat (22/8).

Gliserol menjadi bahan pengganti dioktil ftalat atau dalam istilah kimia dikenal dengan DOP. Bahan ini bagus bereaksi dan murah harganya. Sayangnnya, zat kimia ini bersifat racun penyebab kanker pada manusia. DOP dan glicerol sama-sama bisa menjadi bahan pelunak plastik. Namun gliserol lebih aman bagi kesehatan dan tidak mengandung racun.

Dalam penelitiannya, Basuki mengubah gliserol menjadi poli gliserol agar zat ini menjadi lebih kental. Selanjutnya dia mengubahnya lagi menjadi poligliserol asetat agar senyawa ini bisa bercampur baik dengan plastik. Dia mulai melakukan penelitian ini lima tahun lalu.

Sementara ini hasil penelitiannya belum dimanfaatkan secara komersial. Di sejumlah forum internasional, Basuki sudah mengenalkannya. Produksi alat pelunak plastik ini masih dalam skala laboratorium dalam jumlah liter.

Sumber: kompas.com

Read more...

Bioinformatika, Open Source dan Dokter Masa Depan


Penulis: Arli Aditya Parikesit - detikinet



Jakarta - Dunia kedokteran telah berkembang secara pesat. Penyakit-penyakit yang di masa lalu belum ditemukan pengobatannya, seperti TBC, Polio, Campak, dan Diphteri telah berhasil diredam. Industri Kesehatan telah memiliki standar operasional yang baik, seperti aplikasi standar patient safety. Praktik manajemen modern, seperti ISO, telah diterapkan di industri kesehatan secara gradual. Harapan hidup pasien telah mencapai taraf yang lebih baik dibanding masa lalu, berkat profesionalitas praktisi kesehatan yang semakin baik.


Bersamaan dengan meningkatnya standar pelayanan industri kesehatan, maka tantangan yang dihadapi juga semakin meningkat. Abad ke 21 ini menjadi abad yang penuh tantangan. Berbagai macam penyakit masih menjadi tantangan utama dunia kedokteran, seperti Jantung/kardiovaskular, Kanker, HIV/AIDS, Glukoma, Diabetes, Alzheimer, Huntington, Sickle Cell dan Schizoprenia.

Diperlukan suatu terobosan baru, supaya berbagai penyakit tersebut bisa diatasi sebagaimana penyakit-penyakit lainnya. Dalam terobosan ini, maka diperlukan teknologi baru untuk melakukan diagnosa awal terhadap penyakit-penyakit tersebut. Tentu saja, diagnosa sendiri ini hanya merupakan diagnosa awal/uji awal, yang belum tentu berpengaruh pada diagnosa final oleh dokter. Namun paling tidak bisa memberi gambaran awal akan penyakitnya sendiri.

Dalam konteks tersebut, Information Technology (IT) memainkan peranan penting. Pada umumnya, penyakit memiliki basis genetis, dan diperlukan pengolahan data genetis yang efektif dan efisien. Penggunaan IT untuk menyelesaikan masalah kedokteran, disebut juga informatika kedokteran. Sistim e-health yang sudah dikenal, seperti pengunaan IT untuk pengelolaan manajerial Rumah Sakit, juga dapat dimasukkan dalam informatika kedokteran.

Namun artikel ini tidak membahas mengenai manajemen rumah sakit, melainkan membahas penggunaan IT untuk menyelesaikan terapi penyembuhan pasien dari penyakitnya secara langsung. Atau, dengan kata lain, penggunaan IT untuk membantu kedokteran secara klinis (biomedis).

Informatika kedokteran Biomedis bisa disebut juga Bioinformatika Kedokteran. Penggunaan open source development tools sangat diperlukan untuk mengembangkan aplikasi Bioinformatika kedokteran yang low cost dan dapat dipergunakan oleh banyak user.

Biosensor dan Bioinformatika

Bioinformatika Kedokteran ditopang oleh dua ilmu dasar, yaitu Biosensor dan Bioinformatika. Biosensor adalah ilmu untuk mendeteksi perubahan kuantitatif dan kualitatif dari suatu sampel biokimia. Bioinformatika adalah ilmu gabungan antara Biologi Molekular dan IT. Contoh aplikasi dari Biosensor dan Bioinformatika akan dijabarkan di bawah.

Biosensor merupakan suatu alat instrumen elektronik, yang bekerja untuk mendeteksi sampel biokimia. Contoh paling sederhana dari aplikasi biosensor adalah alat uji diabetes. Saat ini kit uji diabetes telah dijual bebas di apotik-apotik.

Prinsip uji diabetes adalah mempergunakan enzim untuk mendeteksi kelebihan kadar glukosa dalam darah. Enzim tersebut ditautkan kepada suatu sistim elektronik, sehingga kelebihan gula darah bisa dideteksi secara kuantitatif. Detektor tersebut mendeteksi perubahan elektronik, yang diinduksi oleh reaksi biokimiawi yang dikatalisis oleh enzim.

Bionformatika merupakan penggunaan IT untuk menyelesaikan permasalahan yang berhubungan dengan Biologi Molekular. Sepanjang sejarahnya, eksperimen biologi molekular telah mengumpulkan banyak sekali data ekspresi genetis. Dalam konteks kedokteran, data-data tersebut diambil dari sampel pasien.

Data dalam jumlah banyak tersebut, perlu diolah menjadi informasi yang berguna. Bioinformatika bertugas untuk mengolah data-data genetis tersebut, menjadi informasi yang berguna secara kedokteran, misalnya untuk keperluan diagnostik dan terapi terhadap penyakit.

Salah satu aplikasi konkrit dari bioinformatika adalah desain primer untuk mendeteksi keberadaan mikroba patogen, desain primer untuk mendeteksi kelainan genetis (uji genetis) dan desain vaksin untuk mencegah berbagai penyakit. Software yang digunakan pada umumnya bersifat open source, seperti Bioedit, Clustal, Deep-View, Pymol, dan Treeview32.

Penggunaan software tersebut tidak dipungut biaya, selama digunakan dalam lembaga akademik dan penelitian. Jurnal internasional Bioinformatika telah diterbitkan, contohnya Oxford Journal of Bioinformatics.

Kedua ilmu dasar tersebut akan menjadi penyangga utama informatika kedokteran biomedis, seperti yang akan dijelaskan selanjutnya.

Infomatika Kedokteran Biomedis

Di Amerika Serikat, uji genetis mulai menjadi populer. Dalam beberapa kasus ekstrim, jika seorang pasien didiagnosa akan menderita kanker payudara dalam beberapa tahun ke depan, maka sang pasien akan menyetujui tindakan medis untuk mengangkat payudara. Ini sebagai tindakan preventif sebelum kanker terjadi. Uji genetis juga dapat digunakan untuk mendeteksi penyakit keturunan lainnya, seperti sindrom down, huntington, atau sicke cell.

Prinsip Uji genetis adalah mengkawinkan ilmu biosensor dan bioinformatika. Bioinformatika bertugas untuk mencari kelainan genetis pada sekuens DNA atau protein yang umum ditemui pada pasien atau conserve region.

Dalam hal ini, software yang digunakan pada umumnya adalah Bioedit dan Clustal. Jika pola/pattern sudah ditemukan, maka pola tersebut akan dijadikan template untuk membentuk sistim biosensor genetis. Proses pencarian pola dimulai dengan penjajaran sekuens DNA pada editor teks, kemudian proses multiple sequence alignment di Clustal, dan pencarian conserve region di Bioedit. Semua dilakukan dengan aplikasi komputer.

Pembentukan instrumen biosensor tentu saja berbeda dengan biosensor konvensional, seperti pada sensor diabetes. Pada biosensor untuk uji genetis, yang ditautkan ke sistim elektronik bukanlah enzim, namun DNA template yang ditemukan secara komputasi. Sistim biosensor ini disebut juga sebagai DNA Biochips.

Dalam konteks ini, IT berperan sangat kuat dalam pencetakan DNA Biochips. Jika dalam praktik IT sehari-hari, kita menggunakan program pengolah kata, seperti Open Office atau Neo Office, dan kemudian dokumen hasil pengolahan tersebut di print, maka pencetakan DNA Biochips juga serupa. Ada aplikasi yang bertugas untuk mendesain model DNA biochips secara komputasi, dan ada printer khusus untuk mencetak DNA biochips.

Dokter akan menggunakan DNA biochips secara langsung untuk mendeteksi kelainan genetis pada pasien. Sampel darah diambil dari pasien secara langsung, dan ditorehkan pada DNA biochips. Lalu chips tersebut akan dimasukkan kedalam scanner yang terhubung dengan komputer, untuk mendeteksi kelainan genetis yang terjadi. Ada aplikasi yang bertugas untuk membaca DNA biochips yang telah tertoreh sampel darah. Jika conserve region dari DNA sampel sama dengan DNA template, maka bisa dipastikan terjadi kelainan genetis. Prinsip sederhana DNA biochips adalah seperti itu.

Peran IT Akan Semakin Dominan

Dunia IT semakin berkembang pesat. Komputer masa kini memiliki processing power yang lebih besar, namun memiliki ukuran yang lebih kecil. Sistim operasi semakin lama semakin user friendly. Linux menjadi pilihan banyak praktisi IT, karena open source. Dengan perkembangan dunia IT yang semakin maju, maka sudah seharusnya semua itu dimanfaatkan untuk menyelesaikan masalah kedokteran. Sekarang, sistim e-health dan asuransi kesehatan sudah sepenuhnya ditopang oleh IT.

Namun, ke depannya, sudah seharusnya kedokteran klinis juga ditopang secara penuh oleh berbagai perkembangan dunia IT, seperti open source, user friendly GUI, dan multi core processor. Bioinfomatika kedokteran akan semakin berperan dalam menyelesaikan permasalahan yang dihadapi pasien secara langsung.

Arli Aditya Parikesit adalah peneliti pada Departemen Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Indonesia. ( wsh / wsh )

Sumber : detik.com

Read more...

Wednesday, September 03, 2008

RI-Australia sepakat tangkal agrobioterorisme

oleh : Stefanus Arief Setiaji

SOLO (Bisnis.com): Pemerintah Indonesia dan Australia sepakat untuk memfokuskan pembahasan mengenai penguatan pengamanan kedua negara dari ancaman agrobioterorisme terkait Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) dan Hama Penyakit Hewan (HPH) Karantina Indonesia dan Australia.

Salah satu wujud kerja sama yang ingin dipetik oleh Pemerintah Indonesia dalam hal capacity building dengan mengambil pengalaman Australia dalam menanggulangi hama dan penyakit, sehingga tidak menyebabkan wabah penyakit.

Ketua Delegasi Indonesia Syukur Iwantoro mengatakan dalam pertemuan tersebut, pemerintah akan mendorong Australia agar segera memfinalisasi persyaratan teknis impor buah manggis Indonesia ke negara kanguru tersebut. “Masalah rencana impor buah manggis sudah hampir satu tahun, dan itu belum selesai teknis karantinanya. Kita akan dorong permasalahan itu dalam pertemuan kali ini,” ujarnya kepada Bisnis disela 14th Australia-Indonesia Working Group on Agriculture, Food and forestry Cooperation (WGAFFC) di Solo, hari ini.

Selain masalah itu, lanjutnya, kedua negara sepakat untuk mengkaji status pelabuhan Indonesia terhadap Giant African Snail (GAS), Australia's Fruifly Free Area, Fumigation Scheme serta market akses bagi produk holtikultura Indonesia ke Australia.

Syukur Iwantoro yang juga menjabat sebagai Kepala Badan Karantina Pertanian, menyatakan pertemuan itu kemungkinan akan dilanjutkan dengan upaya kemitraan antara Indonesia Quarantine Strengthening Program (IQSP) dengan Australian Quarantine and Inspection Service (AQIS).

"Beberapa program kegiatan lewat kemitraan tersebut di antaranya meliputi analisis risiko hama penyakit hewan dan program kampanye publik mengenai flu burung,” ungkapnya.

Sejumlah daerah yang akan dijadikan action plan program kemitraan di antaranya Unit Pelaksana Teknis (UPT) Karantina Pertanian di Jakarta, Denpasar, Surabaya, Kupang, Entikong, Makasar, Ambon dan Timika.

Ketua Delegasi Australia Paul Morris mengungkapkan pemerintahnya sangat terbuka dengan peluang investasi di sektor pertanian dan peternakan dari Indonesia. Menurut dia, selama produk yang akan diekspor memenuhi persyaratan karantina, produk tersebut dapat di pasarkan di negara tersebut.(yn)

Sumber : www.bisnis.com

Read more...

Presiden akan serahkan Anugerah Riset Masyarakat

JAKARTA (Bisnis.com): Presiden Susilo Bambang Yudhoyono didampingi oleh Ibu Negara akan menyerahkan sejumlah Anugerah Riset Masyarakat dalam rangka merayakan Hari Kebangkitan Teknologi ke-13.

Anugerah Riset Masyarakat diberikan untuk anggota masyarakat, baik perseorangan maupun kelompok, yang telah berhasil menciptakan atau mengembangkan karya nyata yang teruji manfaatnya dalam meningkatkan kesejahteraan sosial ekonomi masyarakat.

Penerima Anugerah Riset Masyarakat pada 2008 adalah Slamet Hardiseno, petani dari Desa Kepek, Wonosari, Daerah Istimewa Yogyakarta. Hasil temuannya adalah optimasi energi alternatif berbahan baku limbah untuk menggerakkan usaha desa.

Semua usaha yang dilakukannya adalah untuk memanfaatkan perpaduan teknologi pengolahan hasil tani, seperti pabrik tahu dan energi biogas dari kotoran sapi.

Anugerah riset lainnya adalah anugerah ristek+medco energi yang diraih oleh Sunit Hendrana dari Pusat Penelitian Fisika-Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI)Bandung sebagai juara pertama, Mahyudin Abdul Rahman dan Eniya Listiani Dewi dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi sebagai juara kedua, dan Ika Ismet, Shohib, serta Eryla Septa Rosa dari Pusat Penelitian Elektronika dan Telekomunikasi LIPI.(er)
Sumber : www.bisnis.com

Read more...

Menuju swasembada bahan bakar murah

Harga bahan bakar minyak (BBM) melonjak tinggi. Ini bukan pertama kali terjadi. Tiga dekade lalu kasus serupa pernah terjadi dan memicu kondisi resesi dunia. Brasil memutuskan berkonsentrasi mengembangkan metanol sebagai substitusi BBM.

Saat kelangkaan BBM terulang, keras kepala Brasil menuai pujian. Indonesia latah mengikuti meski tergagap. Maklum, 30 tahun lalu Indonesia termasuk negara yang terlena dengan windfall profit dari meroketnya harga minyak.

Kini Indonesia bukan negara makmur lagi. Utang menumpuk, sementara ketergantungan pada BBM semakin menjadi-jadi karena semakin murahnya kendaraan mesin bakar.

Minyak jarak memang sempat digaungkan, tetapi pelaksanaannya tak sederhana. Adapun bahan bakar air yang di banderol sebagai blue energy justru membuat Presiden SBY malu bukan kepalang ketika Joko Suprapto ternyata gombal.

Toh lepas dari adanya desas-desus campur tangan mafia minyak terhadap penemuan Joko, tuntutan terhadap bahan bakar murah sudah menjadi hal yang tak tertahankan karena berimbas langsung pada keamanan dapur rakyat dan bujet anggaran negara.

Beberapa penemu Indonesia seperti Poempida Hidayatullah, Futung Mustari hingga Djoko Sutrisno bereksperimen dengan penggunaan substitusi brown energy pada mesin bakar.

Dari Yogyakarta muncul nama Adji Koesoemo yang menemukan bahan bakar nusantara (BBN). Apalagi ini? Menurut cicit Sultan Hamengkubuwono VII, BBN-ya sama dengan BBM!

"BBM atau BBN ya sama. Sama-sama dari plankton atau ganggang yang tumbuh di lautan. Saya hanya merekayasa waktu untuk mendapatkan minyak dari biota laut itu," ujar pria yang tak lulus Fakultas Filsafat UGM itu beberapa waktu lalu.

Temuan BBN yang seliter bisa diproduksi seharga tak lebih dari Rp500 atau seharga sepotong tempe goreng-bahkan bisa lebih murah-itu sudah disampaikan kepada pemerintah, tetapi kurang mendapat respons.

Sayang ayah tiga anak itu enggan membeberkan bagaimana BBN bisa dihasilkan. Adji hanya meminta Pemerintah Indonesialah yang mengurus ini. Dirinya tak meminta sepeser pun keuntungan dari BBN yang dijamin melimpah ruah.

"Penangkaran plankton pada areal satu meter persegi dapat memproduksi bensin 14 liter per sepuluh hari, dengan ongkos produksi hanya Rp 380. Kalau dikembangkan kita dapat menikmati BBM harga murah," ujarnya.

Terbukti ilmiah

Sepintas omongan Adji hanya bualan di warung kopi, tetapi alasan ilmiah BBN menemukan jawaban saat IPB menggelar seminar bertajuk Oil Algae Seminar: The Next Prospective Environmental Biofuel Feedstock.

Dalam seminar yang digelar akhir Agustus itu, kampus para petani itu menyatakan siap mengembangkan mikroalga atau ganggang mikro sebagai sumber energi terbarukan.

"Sejumlah mikroalga telah dikembangkan [IPB] untuk bahan baku kosmetik dan farmasi, namun aplikasinya untuk pengembangan biofuel masih jarang dilakukan," kata Peneliti Surfactant and Bioenergy Research Center (SBRC) IPB, Mujizat Kawaroe.

Mikroalga merupakan kelompok tumbuhan berukuran renik, baik sel tunggal maupun koloni yang hidup di seluruh wilayah perairan air tawar dan laut.

Mikroalga lazim disebut fitoplankton. Mikroalga saat ini menjadi salah satu alternatif sumber energi baru yang sangat potensial. Makanan utama mikroalga ialah karbon dioksida.

Biota ini mampu tumbuh cepat dan dipanen dalam waktu singkat yakni 7 hari-10 hari. Kegiatan kultivasi tumbuhan produsen primer ini menghemat ruang (save space), memiliki efisiensi dan efektivitas tinggi.

Panen mikroalga minimal 30 kali lebih banyak dibandingkan dengan tumbuhan darat. Untuk mendapatkan satu liter biofuel dibutuhkan 5 ton mikroalga. Jumlah bahan baku ini termasuk masih sedikit.

Di dunia ini ada empat kelompok mikroalga antara lain: diatom (Bacillariophyceae), ganggang hijau (Chlorophyceae), ganggang emas (Chrysophyceae), dan ganggang biru (Cyanophyceae). Keempatnya bisa dimanfaatkan sebagai bahan baku biofuel.

Dari ratusan jenis mikroalga Indonesia, SBRC IPB telah melakukan penelitian kandungan senyawa bioaktif mikroalga yang ideal sebagai bahan baku biofuel. Beberapa di antaranya Chlorella dan Dunaliella. Chlorella ini memiliki kandungan lemak dan karbohidrat masing-masing adalah 14-22% dan 17%, sedangkan Dunaliella masing-masing 6% dan 32%.

SBRC IPB juga meneliti kandungan minyak mentah mikroalga (crude alga oil) Chlorella (17%), Dunaliella salina (23%), Isochrysis galbana (20-35%), dan Nannochloropsis oculata (31-68 %).

Menurut Mujizat, karakteristik spesies mikroalga ideal yang dikembangkan menjadi biofuel antara lain: memiliki kandungan lemak tinggi, adaptif terhadap perubahan lingkungan dan cepat laju pertumbuhannya.

Tak hanya itu, IPB juga telah memperbandingkan produksi biofuel per luas wilayah kultivasi antara lain: mikroalga A (136.900 liter per hektare), mikroalga B (58.700 liter per hektare), kelapa sawit (5.960 liter per hektare), kelapa (2.689 liter per hektare), jarak pagar (1.892 liter per hektare), kedelai (44 liter per hektare) dan jagung (172 liter per hektare).

Selanjutnya, Mujizat menjelaskan proses pembuatan mikroalga menjadi biofuel. Pertama-tama dilakukan identifikasi dan isolasi mikroalga. Mikroalga kemudian dikembangbiakkan (kultivasi) dan dipanen

Proses selanjutnya adalah ekstraksi (pemisahan) dengan pelarut hexan atau dietil eter. Metode ekstraksi bisa dipilih sesuai dengan kebutuhan.

Direktur Utama PT Diatoms Cell Bioenergy, Dudy Christian menyampaikan prospek dan nilai ekonomi pengembangan biofuel mikroalga.

"Kondisi iklim tropis Indonesia dengan cahaya matahari sepanjang tahun sangat sesuai untuk kehidupan mikroalga. Mikroalga sangat prospektif dikembangkan di Indonesia," ujarnya optimistis.

Sementara itu, Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan IPB, Yonny Koesmaryono menambah optimisme dengan statistik bahwa dua per tiga luas wilayah Indonesia terdiri dari perairan.

Sumber : www.bisnis.com

Read more...

Kepadatan penduduk? Solusinya bioteknologi

oleh : Lahyanto Nadie

CHICAGO: Amerika Serikat memang tidak mau tanggung-tanggung jika menggelar hajat. Kali ini ia mengundang seluruh pelaku agribisnis dari seluruh dunia melalui BIO 2006. Sayang, tak satu pun pengusaha dari Indonesia memanfaatkan ajang ini.


Memang dari Asean hanya Singapura yang berani tampil dalam ajang sebesar ini. Tapi negara tetangga seperti Korea Selatan, India, Taiwan, Jepang, China dan Australia, memajang standnya dengan bangga. Tadi malam ajang bisnis itu dibuka dengan upacara yang megah berupa resepsi mewah suguhan musik dan tari.

Presiden Biotechnology Industry Organization Jim Greenwood menyatakan bioteknologi tidak dapat dihindari karena penduduk dunia terus bertambah. Jika pada 1999, jumlah penduduk baru enam miliar maka pada 2050 mendatang diperkirakan sudah mencapai sembilan miliar. Sementara area per kapita terus mengalami penurunan. Pada 1996 area per kapita seluas 0,45 hektare dan turun drastis pada 1998 jadi 0,28 hektare. "Nanti pada 2050 diperkirakan tinggal 0,15 hektare."

Bagi para pelaku bisnis mulai dari petani sampai kepada industriawan bioteknologi jelas mendatangkan manfaat yaitu dapat menekan biaya menjadi lebih rendah dan pendapatan yang tinggi yang pada akhirnya akan mendatangkan keuntungan yang lebih besar.

Bagi Negara berkembang seperti Indonesia sebenarnya tidak terlalu sulit untuk mengembangkan bioteknologi karena tinggal belajar dari AS. PT Monstanto, misalnya, yang didirikan pada 1901 dan sejak 1990 telah melakukan pengujian terhadap jagung, kacang kedelai dan kapas yang ternyata aman bagi manusia. Untuk biaya risetnya saja sebesar US$588 juta per tahun tapi penjualannya telah mencapai US$6 miliar.

Namun tak ada yang sempurna dalam acara itu. Rencananya pembalap Paul Dana ke konvensi internasional tahunan 11 April untuk menjawab pertanyaan tentang tim Ethanol Indi Car dan melakukan diskusi mengenai dunia balap mobil kepada para pengunjung.

Tapi ia meninggal secara tragis di arena balap Miami. Dana dipilih sebagai pembicara karena ia adalah pembalap yang mempersiapkan untuk melakukan racing dengan menggunakan 100% etanol pada 2007. ?Kami berterima kasih kepadanya karena mendukung penggunaan etanol sebagai bahan bakar alternatif", kata Greenwood Senin.

BIO akan dihadiri oleh sedikitnya 1.100 perusahaan bioteknologi, institusi pendidikan, pusat bioteknologi pemerintahan dan organisasi yang berkaitan dengan bioteknologi di Amerika Serikat dan 31 negara lainnya. Para peserta BIO meliputi penelitian dan pengembangan kesehatan, agribisnis, industri dan produk bioteknologi lingkungan.

Greenwood menjelaskan bahwa sedikitnya 12 gubernur dari negara bagian AS akan hadir dalam acara itu. Selain membuka acara seremonial mereka juga akan menggelar konferensi pers dan mengikuti kegiatan santai seperti bernyanyi atau bermain musik.

"Gubernur yang hadir dalam BIO yang merupakan konferensi internasional tahunan ini tentu menyadari bahwa pameran ini merupakan potensi yang besar bagi perkembangan industri bioteknologi untuk mengembangkan pembangunan ekonomi dan meningkatkan kulitas hidup", ujar Greenwood.

Pameran ini menjadi ajang terbesar sepanjang sejarah karena mampu mengumpulkan para pelaku bioteknologi yang mencakup lebih dari 1.600 perusahaan, organisasi dan institusi yang mewakili semua aspek mengenai industri bioteknologi.

Lebih dari 170.000 kaki persegi, ruangan itu kira-kira ukurannya sama dengan tiga kali lapangan sepakbola. Pameran ini diiikuti oleh 43 negara bagian di AS dan 36 negara lainnya dari seluruh dunia. Kegiatan ringan yang menambah semaraknya suasana adalah pegelaran musik dan tari serta peragaan busana yang merupakan hasil dari produk bioteknologi.

Sumber : www.bisnis.com

Read more...

WORKSHOP : TANTANGAN PENELITIAN AVIAN INFLUENZA DI INDONESIA

Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) akan menyelenggarakan Workshop Ilmiah dengan tema : "Tantangan Penelitian Avian Influenza di Indonesia" pada tanggal 4 September 2008 di Ruang seminar Besar Gd. Widya Graha Lt.1 LIPI Jakarta.

Workshop akan mengupas progress penelitian flu burung,kendala dan tantangan serta mendiskusikan solusi bagi penelitian di Indonesia.

Pembicara dan Pembahas yang akan hadir adalah :

1. Dr. Bayu Krisnamurti (Komnas FBPI)
2. Prof. Dr. Amin Subandrio
3. Dr. Chairul Nidom (UNAIR)
4. Dr. Darminto (Deptan)
5. Dr. Dewi Prawiradilaga
6. Dr. sri Sulandari
7. Dr. Bambang Sunarko
8. Drh. Wiku Adisasmito
9. Dr. edi Basuno

Bagi para pakar, peneliti, akademisi yang berminat dapat menghubungi panitia di
rrnu001@lipi.go.id, rube001@lipi.go.id atau bkpilipi@yahoo.com
atau melalui telpun 021-5225711 ext 236/237/233

Mengingat keterbatasan tempat bagi peserta, pendaftaran ditutup tanggal 2 September 2008

Read more...

Komisi Bioetika Nasional

CGIAR Website Updates

FAO Newsroom RSS

  © Blogger templates The Professional Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP