Friday, September 12, 2008

Plastik Ramah Lingkungan dari Kelapa Sawit


MEDAN, JUMAT - Peneliti Universitas Sumatera Utara, Basuki Wirjosentono, mengenalkan plastik ramah berbahan hasil samping minyak sawit mentah. Plastik yang selama ini beredar di masyarkat masih memakai zat kimia yang berpotensi mengganggu kesehatan manusia. Hasil samping sawit terbukti aman dari gangguan itu.

"Hasil samping ini sebagai pelunak plastik. Bahannya banyak terdapat di sekitar kita. Pemanfaatan hasil samping minyak sawit ini sekaligus bisa meningkatkan nilai jualnya," kata Basuki Wirjosentono di Kampus Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA), Universitas Sumatera Utara (USU), Medan, Jumat (22/8).

Gliserol menjadi bahan pengganti dioktil ftalat atau dalam istilah kimia dikenal dengan DOP. Bahan ini bagus bereaksi dan murah harganya. Sayangnnya, zat kimia ini bersifat racun penyebab kanker pada manusia. DOP dan glicerol sama-sama bisa menjadi bahan pelunak plastik. Namun gliserol lebih aman bagi kesehatan dan tidak mengandung racun.

Dalam penelitiannya, Basuki mengubah gliserol menjadi poli gliserol agar zat ini menjadi lebih kental. Selanjutnya dia mengubahnya lagi menjadi poligliserol asetat agar senyawa ini bisa bercampur baik dengan plastik. Dia mulai melakukan penelitian ini lima tahun lalu.

Sementara ini hasil penelitiannya belum dimanfaatkan secara komersial. Di sejumlah forum internasional, Basuki sudah mengenalkannya. Produksi alat pelunak plastik ini masih dalam skala laboratorium dalam jumlah liter.

Sumber: kompas.com

Bioinformatika, Open Source dan Dokter Masa Depan


Penulis: Arli Aditya Parikesit - detikinet



Jakarta - Dunia kedokteran telah berkembang secara pesat. Penyakit-penyakit yang di masa lalu belum ditemukan pengobatannya, seperti TBC, Polio, Campak, dan Diphteri telah berhasil diredam. Industri Kesehatan telah memiliki standar operasional yang baik, seperti aplikasi standar patient safety. Praktik manajemen modern, seperti ISO, telah diterapkan di industri kesehatan secara gradual. Harapan hidup pasien telah mencapai taraf yang lebih baik dibanding masa lalu, berkat profesionalitas praktisi kesehatan yang semakin baik.


Bersamaan dengan meningkatnya standar pelayanan industri kesehatan, maka tantangan yang dihadapi juga semakin meningkat. Abad ke 21 ini menjadi abad yang penuh tantangan. Berbagai macam penyakit masih menjadi tantangan utama dunia kedokteran, seperti Jantung/kardiovaskular, Kanker, HIV/AIDS, Glukoma, Diabetes, Alzheimer, Huntington, Sickle Cell dan Schizoprenia.

Diperlukan suatu terobosan baru, supaya berbagai penyakit tersebut bisa diatasi sebagaimana penyakit-penyakit lainnya. Dalam terobosan ini, maka diperlukan teknologi baru untuk melakukan diagnosa awal terhadap penyakit-penyakit tersebut. Tentu saja, diagnosa sendiri ini hanya merupakan diagnosa awal/uji awal, yang belum tentu berpengaruh pada diagnosa final oleh dokter. Namun paling tidak bisa memberi gambaran awal akan penyakitnya sendiri.

Dalam konteks tersebut, Information Technology (IT) memainkan peranan penting. Pada umumnya, penyakit memiliki basis genetis, dan diperlukan pengolahan data genetis yang efektif dan efisien. Penggunaan IT untuk menyelesaikan masalah kedokteran, disebut juga informatika kedokteran. Sistim e-health yang sudah dikenal, seperti pengunaan IT untuk pengelolaan manajerial Rumah Sakit, juga dapat dimasukkan dalam informatika kedokteran.

Namun artikel ini tidak membahas mengenai manajemen rumah sakit, melainkan membahas penggunaan IT untuk menyelesaikan terapi penyembuhan pasien dari penyakitnya secara langsung. Atau, dengan kata lain, penggunaan IT untuk membantu kedokteran secara klinis (biomedis).

Informatika kedokteran Biomedis bisa disebut juga Bioinformatika Kedokteran. Penggunaan open source development tools sangat diperlukan untuk mengembangkan aplikasi Bioinformatika kedokteran yang low cost dan dapat dipergunakan oleh banyak user.

Biosensor dan Bioinformatika

Bioinformatika Kedokteran ditopang oleh dua ilmu dasar, yaitu Biosensor dan Bioinformatika. Biosensor adalah ilmu untuk mendeteksi perubahan kuantitatif dan kualitatif dari suatu sampel biokimia. Bioinformatika adalah ilmu gabungan antara Biologi Molekular dan IT. Contoh aplikasi dari Biosensor dan Bioinformatika akan dijabarkan di bawah.

Biosensor merupakan suatu alat instrumen elektronik, yang bekerja untuk mendeteksi sampel biokimia. Contoh paling sederhana dari aplikasi biosensor adalah alat uji diabetes. Saat ini kit uji diabetes telah dijual bebas di apotik-apotik.

Prinsip uji diabetes adalah mempergunakan enzim untuk mendeteksi kelebihan kadar glukosa dalam darah. Enzim tersebut ditautkan kepada suatu sistim elektronik, sehingga kelebihan gula darah bisa dideteksi secara kuantitatif. Detektor tersebut mendeteksi perubahan elektronik, yang diinduksi oleh reaksi biokimiawi yang dikatalisis oleh enzim.

Bionformatika merupakan penggunaan IT untuk menyelesaikan permasalahan yang berhubungan dengan Biologi Molekular. Sepanjang sejarahnya, eksperimen biologi molekular telah mengumpulkan banyak sekali data ekspresi genetis. Dalam konteks kedokteran, data-data tersebut diambil dari sampel pasien.

Data dalam jumlah banyak tersebut, perlu diolah menjadi informasi yang berguna. Bioinformatika bertugas untuk mengolah data-data genetis tersebut, menjadi informasi yang berguna secara kedokteran, misalnya untuk keperluan diagnostik dan terapi terhadap penyakit.

Salah satu aplikasi konkrit dari bioinformatika adalah desain primer untuk mendeteksi keberadaan mikroba patogen, desain primer untuk mendeteksi kelainan genetis (uji genetis) dan desain vaksin untuk mencegah berbagai penyakit. Software yang digunakan pada umumnya bersifat open source, seperti Bioedit, Clustal, Deep-View, Pymol, dan Treeview32.

Penggunaan software tersebut tidak dipungut biaya, selama digunakan dalam lembaga akademik dan penelitian. Jurnal internasional Bioinformatika telah diterbitkan, contohnya Oxford Journal of Bioinformatics.

Kedua ilmu dasar tersebut akan menjadi penyangga utama informatika kedokteran biomedis, seperti yang akan dijelaskan selanjutnya.

Infomatika Kedokteran Biomedis

Di Amerika Serikat, uji genetis mulai menjadi populer. Dalam beberapa kasus ekstrim, jika seorang pasien didiagnosa akan menderita kanker payudara dalam beberapa tahun ke depan, maka sang pasien akan menyetujui tindakan medis untuk mengangkat payudara. Ini sebagai tindakan preventif sebelum kanker terjadi. Uji genetis juga dapat digunakan untuk mendeteksi penyakit keturunan lainnya, seperti sindrom down, huntington, atau sicke cell.

Prinsip Uji genetis adalah mengkawinkan ilmu biosensor dan bioinformatika. Bioinformatika bertugas untuk mencari kelainan genetis pada sekuens DNA atau protein yang umum ditemui pada pasien atau conserve region.

Dalam hal ini, software yang digunakan pada umumnya adalah Bioedit dan Clustal. Jika pola/pattern sudah ditemukan, maka pola tersebut akan dijadikan template untuk membentuk sistim biosensor genetis. Proses pencarian pola dimulai dengan penjajaran sekuens DNA pada editor teks, kemudian proses multiple sequence alignment di Clustal, dan pencarian conserve region di Bioedit. Semua dilakukan dengan aplikasi komputer.

Pembentukan instrumen biosensor tentu saja berbeda dengan biosensor konvensional, seperti pada sensor diabetes. Pada biosensor untuk uji genetis, yang ditautkan ke sistim elektronik bukanlah enzim, namun DNA template yang ditemukan secara komputasi. Sistim biosensor ini disebut juga sebagai DNA Biochips.

Dalam konteks ini, IT berperan sangat kuat dalam pencetakan DNA Biochips. Jika dalam praktik IT sehari-hari, kita menggunakan program pengolah kata, seperti Open Office atau Neo Office, dan kemudian dokumen hasil pengolahan tersebut di print, maka pencetakan DNA Biochips juga serupa. Ada aplikasi yang bertugas untuk mendesain model DNA biochips secara komputasi, dan ada printer khusus untuk mencetak DNA biochips.

Dokter akan menggunakan DNA biochips secara langsung untuk mendeteksi kelainan genetis pada pasien. Sampel darah diambil dari pasien secara langsung, dan ditorehkan pada DNA biochips. Lalu chips tersebut akan dimasukkan kedalam scanner yang terhubung dengan komputer, untuk mendeteksi kelainan genetis yang terjadi. Ada aplikasi yang bertugas untuk membaca DNA biochips yang telah tertoreh sampel darah. Jika conserve region dari DNA sampel sama dengan DNA template, maka bisa dipastikan terjadi kelainan genetis. Prinsip sederhana DNA biochips adalah seperti itu.

Peran IT Akan Semakin Dominan

Dunia IT semakin berkembang pesat. Komputer masa kini memiliki processing power yang lebih besar, namun memiliki ukuran yang lebih kecil. Sistim operasi semakin lama semakin user friendly. Linux menjadi pilihan banyak praktisi IT, karena open source. Dengan perkembangan dunia IT yang semakin maju, maka sudah seharusnya semua itu dimanfaatkan untuk menyelesaikan masalah kedokteran. Sekarang, sistim e-health dan asuransi kesehatan sudah sepenuhnya ditopang oleh IT.

Namun, ke depannya, sudah seharusnya kedokteran klinis juga ditopang secara penuh oleh berbagai perkembangan dunia IT, seperti open source, user friendly GUI, dan multi core processor. Bioinfomatika kedokteran akan semakin berperan dalam menyelesaikan permasalahan yang dihadapi pasien secara langsung.

Arli Aditya Parikesit adalah peneliti pada Departemen Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Indonesia. ( wsh / wsh )

Sumber : detik.com

Wednesday, September 03, 2008

RI-Australia sepakat tangkal agrobioterorisme

oleh : Stefanus Arief Setiaji

SOLO (Bisnis.com): Pemerintah Indonesia dan Australia sepakat untuk memfokuskan pembahasan mengenai penguatan pengamanan kedua negara dari ancaman agrobioterorisme terkait Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) dan Hama Penyakit Hewan (HPH) Karantina Indonesia dan Australia.

Salah satu wujud kerja sama yang ingin dipetik oleh Pemerintah Indonesia dalam hal capacity building dengan mengambil pengalaman Australia dalam menanggulangi hama dan penyakit, sehingga tidak menyebabkan wabah penyakit.

Ketua Delegasi Indonesia Syukur Iwantoro mengatakan dalam pertemuan tersebut, pemerintah akan mendorong Australia agar segera memfinalisasi persyaratan teknis impor buah manggis Indonesia ke negara kanguru tersebut. “Masalah rencana impor buah manggis sudah hampir satu tahun, dan itu belum selesai teknis karantinanya. Kita akan dorong permasalahan itu dalam pertemuan kali ini,” ujarnya kepada Bisnis disela 14th Australia-Indonesia Working Group on Agriculture, Food and forestry Cooperation (WGAFFC) di Solo, hari ini.

Selain masalah itu, lanjutnya, kedua negara sepakat untuk mengkaji status pelabuhan Indonesia terhadap Giant African Snail (GAS), Australia's Fruifly Free Area, Fumigation Scheme serta market akses bagi produk holtikultura Indonesia ke Australia.

Syukur Iwantoro yang juga menjabat sebagai Kepala Badan Karantina Pertanian, menyatakan pertemuan itu kemungkinan akan dilanjutkan dengan upaya kemitraan antara Indonesia Quarantine Strengthening Program (IQSP) dengan Australian Quarantine and Inspection Service (AQIS).

"Beberapa program kegiatan lewat kemitraan tersebut di antaranya meliputi analisis risiko hama penyakit hewan dan program kampanye publik mengenai flu burung,” ungkapnya.

Sejumlah daerah yang akan dijadikan action plan program kemitraan di antaranya Unit Pelaksana Teknis (UPT) Karantina Pertanian di Jakarta, Denpasar, Surabaya, Kupang, Entikong, Makasar, Ambon dan Timika.

Ketua Delegasi Australia Paul Morris mengungkapkan pemerintahnya sangat terbuka dengan peluang investasi di sektor pertanian dan peternakan dari Indonesia. Menurut dia, selama produk yang akan diekspor memenuhi persyaratan karantina, produk tersebut dapat di pasarkan di negara tersebut.(yn)

Sumber : www.bisnis.com

Presiden akan serahkan Anugerah Riset Masyarakat

JAKARTA (Bisnis.com): Presiden Susilo Bambang Yudhoyono didampingi oleh Ibu Negara akan menyerahkan sejumlah Anugerah Riset Masyarakat dalam rangka merayakan Hari Kebangkitan Teknologi ke-13.

Anugerah Riset Masyarakat diberikan untuk anggota masyarakat, baik perseorangan maupun kelompok, yang telah berhasil menciptakan atau mengembangkan karya nyata yang teruji manfaatnya dalam meningkatkan kesejahteraan sosial ekonomi masyarakat.

Penerima Anugerah Riset Masyarakat pada 2008 adalah Slamet Hardiseno, petani dari Desa Kepek, Wonosari, Daerah Istimewa Yogyakarta. Hasil temuannya adalah optimasi energi alternatif berbahan baku limbah untuk menggerakkan usaha desa.

Semua usaha yang dilakukannya adalah untuk memanfaatkan perpaduan teknologi pengolahan hasil tani, seperti pabrik tahu dan energi biogas dari kotoran sapi.

Anugerah riset lainnya adalah anugerah ristek+medco energi yang diraih oleh Sunit Hendrana dari Pusat Penelitian Fisika-Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI)Bandung sebagai juara pertama, Mahyudin Abdul Rahman dan Eniya Listiani Dewi dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi sebagai juara kedua, dan Ika Ismet, Shohib, serta Eryla Septa Rosa dari Pusat Penelitian Elektronika dan Telekomunikasi LIPI.(er)
Sumber : www.bisnis.com

Menuju swasembada bahan bakar murah

Harga bahan bakar minyak (BBM) melonjak tinggi. Ini bukan pertama kali terjadi. Tiga dekade lalu kasus serupa pernah terjadi dan memicu kondisi resesi dunia. Brasil memutuskan berkonsentrasi mengembangkan metanol sebagai substitusi BBM.

Saat kelangkaan BBM terulang, keras kepala Brasil menuai pujian. Indonesia latah mengikuti meski tergagap. Maklum, 30 tahun lalu Indonesia termasuk negara yang terlena dengan windfall profit dari meroketnya harga minyak.

Kini Indonesia bukan negara makmur lagi. Utang menumpuk, sementara ketergantungan pada BBM semakin menjadi-jadi karena semakin murahnya kendaraan mesin bakar.

Minyak jarak memang sempat digaungkan, tetapi pelaksanaannya tak sederhana. Adapun bahan bakar air yang di banderol sebagai blue energy justru membuat Presiden SBY malu bukan kepalang ketika Joko Suprapto ternyata gombal.

Toh lepas dari adanya desas-desus campur tangan mafia minyak terhadap penemuan Joko, tuntutan terhadap bahan bakar murah sudah menjadi hal yang tak tertahankan karena berimbas langsung pada keamanan dapur rakyat dan bujet anggaran negara.

Beberapa penemu Indonesia seperti Poempida Hidayatullah, Futung Mustari hingga Djoko Sutrisno bereksperimen dengan penggunaan substitusi brown energy pada mesin bakar.

Dari Yogyakarta muncul nama Adji Koesoemo yang menemukan bahan bakar nusantara (BBN). Apalagi ini? Menurut cicit Sultan Hamengkubuwono VII, BBN-ya sama dengan BBM!

"BBM atau BBN ya sama. Sama-sama dari plankton atau ganggang yang tumbuh di lautan. Saya hanya merekayasa waktu untuk mendapatkan minyak dari biota laut itu," ujar pria yang tak lulus Fakultas Filsafat UGM itu beberapa waktu lalu.

Temuan BBN yang seliter bisa diproduksi seharga tak lebih dari Rp500 atau seharga sepotong tempe goreng-bahkan bisa lebih murah-itu sudah disampaikan kepada pemerintah, tetapi kurang mendapat respons.

Sayang ayah tiga anak itu enggan membeberkan bagaimana BBN bisa dihasilkan. Adji hanya meminta Pemerintah Indonesialah yang mengurus ini. Dirinya tak meminta sepeser pun keuntungan dari BBN yang dijamin melimpah ruah.

"Penangkaran plankton pada areal satu meter persegi dapat memproduksi bensin 14 liter per sepuluh hari, dengan ongkos produksi hanya Rp 380. Kalau dikembangkan kita dapat menikmati BBM harga murah," ujarnya.

Terbukti ilmiah

Sepintas omongan Adji hanya bualan di warung kopi, tetapi alasan ilmiah BBN menemukan jawaban saat IPB menggelar seminar bertajuk Oil Algae Seminar: The Next Prospective Environmental Biofuel Feedstock.

Dalam seminar yang digelar akhir Agustus itu, kampus para petani itu menyatakan siap mengembangkan mikroalga atau ganggang mikro sebagai sumber energi terbarukan.

"Sejumlah mikroalga telah dikembangkan [IPB] untuk bahan baku kosmetik dan farmasi, namun aplikasinya untuk pengembangan biofuel masih jarang dilakukan," kata Peneliti Surfactant and Bioenergy Research Center (SBRC) IPB, Mujizat Kawaroe.

Mikroalga merupakan kelompok tumbuhan berukuran renik, baik sel tunggal maupun koloni yang hidup di seluruh wilayah perairan air tawar dan laut.

Mikroalga lazim disebut fitoplankton. Mikroalga saat ini menjadi salah satu alternatif sumber energi baru yang sangat potensial. Makanan utama mikroalga ialah karbon dioksida.

Biota ini mampu tumbuh cepat dan dipanen dalam waktu singkat yakni 7 hari-10 hari. Kegiatan kultivasi tumbuhan produsen primer ini menghemat ruang (save space), memiliki efisiensi dan efektivitas tinggi.

Panen mikroalga minimal 30 kali lebih banyak dibandingkan dengan tumbuhan darat. Untuk mendapatkan satu liter biofuel dibutuhkan 5 ton mikroalga. Jumlah bahan baku ini termasuk masih sedikit.

Di dunia ini ada empat kelompok mikroalga antara lain: diatom (Bacillariophyceae), ganggang hijau (Chlorophyceae), ganggang emas (Chrysophyceae), dan ganggang biru (Cyanophyceae). Keempatnya bisa dimanfaatkan sebagai bahan baku biofuel.

Dari ratusan jenis mikroalga Indonesia, SBRC IPB telah melakukan penelitian kandungan senyawa bioaktif mikroalga yang ideal sebagai bahan baku biofuel. Beberapa di antaranya Chlorella dan Dunaliella. Chlorella ini memiliki kandungan lemak dan karbohidrat masing-masing adalah 14-22% dan 17%, sedangkan Dunaliella masing-masing 6% dan 32%.

SBRC IPB juga meneliti kandungan minyak mentah mikroalga (crude alga oil) Chlorella (17%), Dunaliella salina (23%), Isochrysis galbana (20-35%), dan Nannochloropsis oculata (31-68 %).

Menurut Mujizat, karakteristik spesies mikroalga ideal yang dikembangkan menjadi biofuel antara lain: memiliki kandungan lemak tinggi, adaptif terhadap perubahan lingkungan dan cepat laju pertumbuhannya.

Tak hanya itu, IPB juga telah memperbandingkan produksi biofuel per luas wilayah kultivasi antara lain: mikroalga A (136.900 liter per hektare), mikroalga B (58.700 liter per hektare), kelapa sawit (5.960 liter per hektare), kelapa (2.689 liter per hektare), jarak pagar (1.892 liter per hektare), kedelai (44 liter per hektare) dan jagung (172 liter per hektare).

Selanjutnya, Mujizat menjelaskan proses pembuatan mikroalga menjadi biofuel. Pertama-tama dilakukan identifikasi dan isolasi mikroalga. Mikroalga kemudian dikembangbiakkan (kultivasi) dan dipanen

Proses selanjutnya adalah ekstraksi (pemisahan) dengan pelarut hexan atau dietil eter. Metode ekstraksi bisa dipilih sesuai dengan kebutuhan.

Direktur Utama PT Diatoms Cell Bioenergy, Dudy Christian menyampaikan prospek dan nilai ekonomi pengembangan biofuel mikroalga.

"Kondisi iklim tropis Indonesia dengan cahaya matahari sepanjang tahun sangat sesuai untuk kehidupan mikroalga. Mikroalga sangat prospektif dikembangkan di Indonesia," ujarnya optimistis.

Sementara itu, Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan IPB, Yonny Koesmaryono menambah optimisme dengan statistik bahwa dua per tiga luas wilayah Indonesia terdiri dari perairan.

Sumber : www.bisnis.com

Kepadatan penduduk? Solusinya bioteknologi

oleh : Lahyanto Nadie

CHICAGO: Amerika Serikat memang tidak mau tanggung-tanggung jika menggelar hajat. Kali ini ia mengundang seluruh pelaku agribisnis dari seluruh dunia melalui BIO 2006. Sayang, tak satu pun pengusaha dari Indonesia memanfaatkan ajang ini.


Memang dari Asean hanya Singapura yang berani tampil dalam ajang sebesar ini. Tapi negara tetangga seperti Korea Selatan, India, Taiwan, Jepang, China dan Australia, memajang standnya dengan bangga. Tadi malam ajang bisnis itu dibuka dengan upacara yang megah berupa resepsi mewah suguhan musik dan tari.

Presiden Biotechnology Industry Organization Jim Greenwood menyatakan bioteknologi tidak dapat dihindari karena penduduk dunia terus bertambah. Jika pada 1999, jumlah penduduk baru enam miliar maka pada 2050 mendatang diperkirakan sudah mencapai sembilan miliar. Sementara area per kapita terus mengalami penurunan. Pada 1996 area per kapita seluas 0,45 hektare dan turun drastis pada 1998 jadi 0,28 hektare. "Nanti pada 2050 diperkirakan tinggal 0,15 hektare."

Bagi para pelaku bisnis mulai dari petani sampai kepada industriawan bioteknologi jelas mendatangkan manfaat yaitu dapat menekan biaya menjadi lebih rendah dan pendapatan yang tinggi yang pada akhirnya akan mendatangkan keuntungan yang lebih besar.

Bagi Negara berkembang seperti Indonesia sebenarnya tidak terlalu sulit untuk mengembangkan bioteknologi karena tinggal belajar dari AS. PT Monstanto, misalnya, yang didirikan pada 1901 dan sejak 1990 telah melakukan pengujian terhadap jagung, kacang kedelai dan kapas yang ternyata aman bagi manusia. Untuk biaya risetnya saja sebesar US$588 juta per tahun tapi penjualannya telah mencapai US$6 miliar.

Namun tak ada yang sempurna dalam acara itu. Rencananya pembalap Paul Dana ke konvensi internasional tahunan 11 April untuk menjawab pertanyaan tentang tim Ethanol Indi Car dan melakukan diskusi mengenai dunia balap mobil kepada para pengunjung.

Tapi ia meninggal secara tragis di arena balap Miami. Dana dipilih sebagai pembicara karena ia adalah pembalap yang mempersiapkan untuk melakukan racing dengan menggunakan 100% etanol pada 2007. ?Kami berterima kasih kepadanya karena mendukung penggunaan etanol sebagai bahan bakar alternatif", kata Greenwood Senin.

BIO akan dihadiri oleh sedikitnya 1.100 perusahaan bioteknologi, institusi pendidikan, pusat bioteknologi pemerintahan dan organisasi yang berkaitan dengan bioteknologi di Amerika Serikat dan 31 negara lainnya. Para peserta BIO meliputi penelitian dan pengembangan kesehatan, agribisnis, industri dan produk bioteknologi lingkungan.

Greenwood menjelaskan bahwa sedikitnya 12 gubernur dari negara bagian AS akan hadir dalam acara itu. Selain membuka acara seremonial mereka juga akan menggelar konferensi pers dan mengikuti kegiatan santai seperti bernyanyi atau bermain musik.

"Gubernur yang hadir dalam BIO yang merupakan konferensi internasional tahunan ini tentu menyadari bahwa pameran ini merupakan potensi yang besar bagi perkembangan industri bioteknologi untuk mengembangkan pembangunan ekonomi dan meningkatkan kulitas hidup", ujar Greenwood.

Pameran ini menjadi ajang terbesar sepanjang sejarah karena mampu mengumpulkan para pelaku bioteknologi yang mencakup lebih dari 1.600 perusahaan, organisasi dan institusi yang mewakili semua aspek mengenai industri bioteknologi.

Lebih dari 170.000 kaki persegi, ruangan itu kira-kira ukurannya sama dengan tiga kali lapangan sepakbola. Pameran ini diiikuti oleh 43 negara bagian di AS dan 36 negara lainnya dari seluruh dunia. Kegiatan ringan yang menambah semaraknya suasana adalah pegelaran musik dan tari serta peragaan busana yang merupakan hasil dari produk bioteknologi.

Sumber : www.bisnis.com

WORKSHOP : TANTANGAN PENELITIAN AVIAN INFLUENZA DI INDONESIA

Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) akan menyelenggarakan Workshop Ilmiah dengan tema : "Tantangan Penelitian Avian Influenza di Indonesia" pada tanggal 4 September 2008 di Ruang seminar Besar Gd. Widya Graha Lt.1 LIPI Jakarta.

Workshop akan mengupas progress penelitian flu burung,kendala dan tantangan serta mendiskusikan solusi bagi penelitian di Indonesia.

Pembicara dan Pembahas yang akan hadir adalah :

1. Dr. Bayu Krisnamurti (Komnas FBPI)
2. Prof. Dr. Amin Subandrio
3. Dr. Chairul Nidom (UNAIR)
4. Dr. Darminto (Deptan)
5. Dr. Dewi Prawiradilaga
6. Dr. sri Sulandari
7. Dr. Bambang Sunarko
8. Drh. Wiku Adisasmito
9. Dr. edi Basuno

Bagi para pakar, peneliti, akademisi yang berminat dapat menghubungi panitia di
rrnu001@lipi.go.id, rube001@lipi.go.id atau bkpilipi@yahoo.com
atau melalui telpun 021-5225711 ext 236/237/233

Mengingat keterbatasan tempat bagi peserta, pendaftaran ditutup tanggal 2 September 2008

Tiga Tahun Lagi, Indonesia Yakin Lepas dari Impor Sapi

Jumat, 8 Januari 2016 Program sapi unggulan berhasil dikembangkan. VIVA.co.id - Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) bekerjasa...