Sunday, January 10, 2016

Tiga Tahun Lagi, Indonesia Yakin Lepas dari Impor Sapi

Jumat, 8 Januari 2016

Program sapi unggulan berhasil dikembangkan.

VIVA.co.id - Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) bekerjasama dengan PT Karya Anugeran Rumpin (KAR), di bawah Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi tengah menggodok teknologi untuk menghasilkan sapi lokal dengan kualitas unggul.

Penelitian hingga hilirisasi itu pun berhasil. Menteri Riset Teknologi dan Perguruan Tinggi, Mohamad Nasir mengatakan, berkat teknologi canggih itu, berat sapi berusia tiga tahun bisa mencapai berat hingga 700 kilogram.
 
“Ini (teknologi) genetika, yang tadinya (berat) hanya sampai 200 hingga 250 kilogam per ekor dalam waktu tiga tahun, sekarang bisa diperbaiki, yang (jenis) Bali bisa 500 kilogram, Sumba Ongole 600 sampai 700 kilogram," kata Nasir saat berbincang dengan awak media di sela kunjungannya ke PT KAR di Bogor, Kamis 7 Januari 2016.

Dalam kunjungan tersebut juga dihadiri oleh Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman dan Wakil Gubernur DKI Jakarta, Djarot Saiful Hidayat.
Nasir mengatakan dengan demikian ada nilai tambah yang luar biasa. Tapi, menurutnya, permasalahan saat ini adalah bagaimana populasi tersebut bisa ditingkatkan di Indonesia.

Nasir pun menyatakan optimis Indonesia bisa lepas dari sapi impor tiga tahun lagi. Dalam kunjungan itu, Nasir mengungkapkan teknologi tersebut bisa maju dengan kerja sama yang berkesinambungan antara Kementerian Pertanian dan Pemprov DKI Jakarta.
“Oleh karena itu, dengan bapak Menteri Pertanian, nanti kami harapkan bisa terjadi kerja sama, nanti dari bapak Menteri Pertanian bisa menyediakan indukannya, kami akan sediakan bibitnya. Dengan bapak wakil Gubernur membantu menyediakan lahan untuk pengembangan (sapi),” ungkap Nasir.

“Saya rasa ini sudah cukup berhasil, tinggal kita pengembangbiakkannya, pengembangbiakan, kalau satu satu tahun, tahun ini di IB (Inseminasi Buatan), tahun ketiga sudah besar, sudah mulai swasembada jadi tiga sampai empat tahun ke depan,” kata Nasir.

Lepas impor
Optimisme Nasir itu pun disambut hangat oleh Wagub Djarot. Dia akan segera menyediakan lahan, jika memang itu diperlukan untuk Indonesia maju, dan lepas dari impor sapi.
“Kita dari dulu DKI, ingin mendorong swadaya swasembada sapi, kita semua persyaratan punya, teknologi kita punya, SDM kita punya, anggaran kita punya, lahannya subur, ada lahannya. Satu yang perlu kita dorong, semangat dan keberanian,” katanya.

Oleh karena itu, Djarot berjanji akan melibatkan Perum Perhutani untuk meninjau lahan yang tak jauh dari posisi letak PT KAR saat ini.
“DKI segera meninjau lahan yang kita kerjasamakan dengan Perum Perhutani, sekitar setengah jam dari sini ada 1.000 hektare,” tuturnya.
Kemudian, Menteri Pertanian Andi pun ikut menjawab tantangan dari Menristek bahwa kemungkinan itu bisa terwujud. Bobot sapi yang biasanya hanya memiliki berat 200 kilogram bisa meningkat menjadi 700 kilogram.

“Kita harus kembangkan terus, bisa dibayangkan, dulu kalau tiga tahun itu beratnya hanya 200 kilogram, ini bisa 700 kilogram dengan waktu yang sama, artinya apa, kita bisa menghasilkan dua tiga kali lipat dalam waktu yang sama,” kata Andi.

Untuk diketahui, LIPI dan KAR di bawah bimbingan Kemenristekdikti sejak 2009 berkerjasama untuk produksi embrio in vivo dan invitro Sapi, pelaksanaan aplikasi transfer embrio Sapi. Dalam prosesnya, embrio dipilih dari sperma-sperma sapi lokal yang unggul untuk mendapatkan keturunan yang sama dengan induknya.

0 komentar:

Komisi Bioetika Nasional

CGIAR Site Updates

FAO: BIOTECHNOLOGY

  © Blogger templates The Professional Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP