Thursday, November 22, 2012
Makhluk Aneh Bertahan dengan Makan DNA
Hasil studi terbaru yang dilakukan Alan Tunnacliffe dari University of Cambridge menambah keanehan makhluk ini. Menurut dia, 10 persen dari DNA bdelloidea ternyata berasal dari organisme uniseluler lainnya, seperti jamur dan bakteri.
Friday, May 04, 2012
Belum Ada Eksplorasi Mikroba Goa
Sunday, April 03, 2011
Ganggang Mikro Bersihkan Limbah Nuklir
AFPPara pekerja di PLTN Fukushima, Jepang, Rabu (23/3/2011), berupaya untuk mendinginkan PLTN itu. Sistem pendingin reaktor PLTN itu rusak akibat gempa dan tsunami pada 11 Maret lalu.KOMPAS.com - Closterium moniliferum, salah satu jenis ganggang mikro yang hidup di air tawar, memiliki potensi untuk membersihkan limbah nuklir yang larut dalam air. Potensi tersebut dipaparkan oleh ilmuwan Northwestern University di Evanston Illinois, Minna Krejci, dalam acara American Chemical Society di Anaheim, California.
Menurut Krejci, alga tersebut mampu membersihkan limbah Strontium-90, salah satu limbah nuklir paling berbahaya dan memiliki waktu paruh 30 tahun. Closterium moniliferum akan menyaring Strontium-90 dari air, mengakumulasi dalam bagian sel-nya yang disebut vakuola dan mengendapkannya dalam bentuk kristal.
Ada sekian tantangan untuk mewujudkan potensi itu. Pertama, limbah reaktor nuklir maupun material radioaktif yang tak sengaja keluar lebih kaya akan kalsium daripada strontium. Ini mempersulit akumulasi strobnsium ke sel alga tanpa harus mengakumulasikan klasiumnya. "Kita butuh metode pemilihan yang sangat selektif dan efisien," kata Krejci.
Kedua, sebenarnya alga ini lebih "cinta" pada Barium sehingga cenderung mengambil unsur tersebut daripada strontium. Tapi, karena strontium memiliki ukuran dan karakteristik antara barium dan kalsium, maka nantinya strontium juga akan terambil. Sementara, kalsium yang memiliki sifat lebih jauh dari unsur tersebut akan tertinggal atau tak terakumulasi.
Kini Kreijci sedang berupaya untuk mengetahui pembentukan kristal dan akumulasi strontium yang lebih selektif. Sejauh ini, telah diketahui bahwa alga tak pernah sengaja membawa strontium ke dalam sel. Kristal terbentuk karena tingginya konsentrasi sulfat dalam vakuola, menyebabkan barium dan strontium dengan kelarutannya yang rendah cepat mengendap.
Untuk mengoptimalkan akumulasi strontium, Kerijci punya beberapa alternatif. Limbah reaktor nuklir atau material radioaktif yang tak sengaja keluar bisa diperkaya dengan barium sehingga memacu alga untuk mengambil strontium pula. Menurut Kreijci, ini bukanlah hal sulit sebab hanya sedikit saja barium yang dibutuhkan.
Kemungkinan lain adalah merekayasa konsentrasi sulfat di lingkungan alga tumbuh sehingga akan mempengaruhi perubahan konsentrasi sulfat di dalam vakuola. "Sekali kita mengetahui bagaimana sel merespon kondisi ini, kita bisa berpikir dengan lebih elegan tentang cara memanipulasinya," papar Kreijci yang memublikasikan idenya di Jurnal Nature.
Hingga kini Kreijci belum mengetes ketahanan Closterium moniliferum di lingkungan radioaktif. Tapi, meski ketahanannya rendah, alga pasti bisa mengakumulasi strontium sebab prosesnya cuma memakan waktu singkat. "Hanya 30 menit hingga 1 jam untuk mengendapkan kristal. Jika tambahan dibutuhkan, mereka mudah untuk dikulturkan," kata Kreijci.
Gija Geme, ahli kimia dari University of Central Missouri mengatakan, "ini adalah hot topics." Menurutnya, kajian Krejci tentang pengakumulasian logam sangat signifikan dampaknya bagi lingkungan. Ia meminta Kreijci untuk tak terlalu lama meneliti mengapa alga mengakumulasi unsur tersebut sebelum mengetesnya langsung dalam membersihkan limbah radioaktif.
Sumber : http://sains.kompas.com/read/2011/04/01/15093177/Ganggang.Mikro.Bersihkan.Limbah.Nuklir
Wednesday, February 23, 2011
Gunakan Bakteri Lokal Untuk Kembangkan Industri Enzim
"Siklodekstrin banyak digunakan di industri farmasi, kosmetik, pangan dan penanganan lingkungan dan nilai komersialnya tinggi. Namun sayangnya masih diimpor dari luar negeri," kata Catur Riani di Jakarta, Jumat, yang telah memaparkan makalahnya untuk meraih hibah yang dikhususkan bagi pengembangan iptek tersebut.
Karena itu, dosen ITB yang membawakan proposal "Aktivitas Siklodekstrin Glikosiltransferase Basillus Alkalofilik Strain Indonesia" itu mencoba mencari strain lokalnya dan bisa dikembangkan untuk industri dalam negeri.
"Untuk itu beberapa strain bakteri telah diskrining di laboratorium kami dan satu strain Bacillus yang bersifat basa atau alkalofilik (LT1B) menunjukkan aktivitas CGTase (Siklodekstrin glikosiltransferase) pada media seleksi," kata pakar mikrobiologi tersebut.
Di Industri pangan, siklodekstrin digunakan sebagai bahan enkapsulasi untuk beberapa bahan yang beraroma, sebagai penstabil emulsi, pewarna alami, dan mengurangi kadar kolesterol, di industri kosmetika digunakan untuk meningkatkan stabilitas parfum sehingga tahan lama.
Di industri farmasi siklodekstrin digunakan sebagai bahan pengkomplek dengan vitamin A, E dan K agar stabil terhadap oksidasi dan digunakan untuk memodifikasi aktivitas kimiawi suatu molekul dengan proteksi suatu gugus tertentu, serta mengurangi efek toksisitas suatu senyawa.
Menurut dia, hibah ITSF sebesar Rp44,19 juta tersebut akan dialokasikan untuk penelitiannya mengidentifikasi spesies Bacillus LT1B barunya dan menskriningnya dengan menggunakan metode molekular.
Ia juga akan mengkarakterisasi aktivitas CGTasenya yang meliputi aspek spesifisitas, dan kapasitasnya memroduksi siklodekstrin, sumber karbon yang sesuai dan stabilitas CGTase yang dihasilkan pada pH dan suhu tertentu.
"Pengetahuan tentang Siklodekstrin memberi tantangan untuk upaya memberikan strain bakteri yang memiliki aktivitas CGTase dengan karakteristik yang sesuai untuk skala industri," ujarnya.
CGTase dapat mengatalisis tiga jenis reaksi, yaitu transglikolisasi intramolekular (siklisasi), transglikolisasi intermolekular dan hidrolisis pati. (D009/Z002/K004)
Editor: B Kunto Wibisono
COPYRIGHT © 2011
Sumber : www.antaranews.com
Monday, February 22, 2010
Indonesian Seminar of Indonesian Society for Micobiology 4-7 October 2010
Bogor, Indonesia 4-7 October 2010
General Information
Conference language
The official language of the conference and workshop is english.
Time Zone
Jakarta is 7 hours ahead of Greenwich Mean Time (GMT+7)
Currency
The unit of Indonesian currency is Rupiah (Rp). US dollars and other major currencies in banknotes or travelers cheque are easily exchangeable in banks or at authorised money changers in main tourist destinations.
Airport Tax
An airport tax Rp 140,000 is imposed by the airport for travelers on international routes and Rp 35,000 for those on domestic routes.
Tipping
At most hotels and restaurants service charge 21% tax and service is added to the bill. An airport or hotel porter expects Rp 5,000 per bag. Taxi drivers will round up to the nearest Rp 500 or Rp 1,000. Leaving the change is appreciated but not mandatory. It is advisable to carry small change as taxi drives are often short of change.
Office Hours
Government offices open from 8.00 a.m. to 4.00 p.m. from Monday to Friday in Jakarta and close on Saturday and Sunday. Business offices have staggered hours. Banks are open from either 8.00 or 8.30 a.m. to 2.00 p.m. Banks in hotels stay open longer hours, and money changers till the evening. Shopping centers open from 10.00 a.m. to 10.00 p.m. everyday.
Electricity
Power supply is usually 220 volts/50 cycles, but 110 volts is still used in some region. Normal outlets are plugs with two rounded prongs. It is advisable to check before using your appliances.
Telephone
Telephone Dial 62 from outside Indonesia, then the city code and telephone number. Within Indonesia, the city code must be preceded by a zero (0) from most phones. To dial an international calls press 001 or 008 or find an International Direct Dial (IDD) in hotels or private telephone service (Wartel). For operator assistance dial 101 or 104. For general information in a province inside the country please dial (code area + 008) or dial 003 for time information.
Climate
Climatewise, Indonesia is distinctly tropical. The east monsoon from June to September brings dry weather while the west monsoon from December to March is moisture-laden bringing rain. Temperatures range from 21 °C (70 F) to 33 °C. (90 F). Humidity is between 60-100 %.
Visa
All travelers to Indonesia must be in possession of passport valid for at least six months from date of arrival and have proof (tickets) of onward or return passage. Immigration authority will provide Free Tourist Visas for a period of 30 days to national s from 11 countries only on the basis of reciprocity. The countries are Thailand, Malaysia, Singapore, Brunei Darussalam, the Philippines, Hong Kong SAR, Macao SAR, Chile, Morocco, Peru and Vietnam. Visa on Arrival (VOA) will be given to citi zens of Australia, Argentina, Brazil, Denmark, Canada, Finland, France, Germany, Great Britain, Hungary, Italy, Japan, Norway, Poland, South Africa, South Korea, Switzerland, New Zealand, Taiwan, the United Arab Emirates, and the United States of America, Austria, Belgium, India,Ireland, Kuwait, Luxemburg, Maldives, Egypt, Oman, Portuguese, Qatar, The People of Republic China, Russian, Saudi Arabian, Spain, Bahrain, Bulgaria, Cambodia, Cyprus, Estonia, Greece , Iran, Iceland, Laos PDR, Liechtenstein, Malta, Mexico, Monaco, Nederland, Suriname, Sweden, Aljazair, Czechoslovakia, Fiji, Latvia, Libya, Lithuania, Panama, Slovakia, Slovenia, Rumania, Tunisia. Visa on arrival is valid for 30 days. Other nationals must apply for visa at Indonesia Embassies or Consulates in their home country. In addition, the visa cannot be replaced with any other of immigration letters. Some conditions apply; please visit www.indonesia.com for further information.
Etiquette
It is inappropriate to use the left hand to eat or to give or receive anything.
Visit Indonesia
www.my-indonesia.info
Futher information : http://www.isism2010.com/
Tuesday, June 16, 2009
Membersihkan Laut dengan Mikrobakteri
Memakai alam untuk membersihkan alam adalah metode yang paling tepat. Demikian pula hasil penelitian Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dengan National Institute of Technology and Evaluation (NITE) Jepang yang didiseminasikan di Jakarta, Selasa (10/2).
Memakai alam untuk membersihkan alam adalah metode yang paling tepat. Demikian pula hasil penelitian Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dengan National Institute of Technology and Evaluation (NITE) Jepang yang didiseminasikan di Jakarta, Selasa (10/2).
Ketika wilayah laut di Indonesia akhirnya disadari sering dicemari oleh tanker-tanker minyak yang membawa minyak mentah dari kawasan Timur Tengah ke negara-negara Asia Timur, mikrobakteri yang hidup bebas di laut bisa digunakan untuk mengurai minyak di laut lebih cepat.
"Nama prosesnya bioremediasi, artinya mengeliminasi polutan dengan proses biologi. Ini sudah ada dari dulu. Cuma proses biodegradasi, Indonesia belum punya," ujar peneliti teknik lingkungan LIPI, Dwi Susilaningsih, di Jakarta.
Proses biodegradasi adalah penguraian minyak di laut dengan material biologi, salah satunya dengan bakteri. Dalam kurun waktu tiga tahun penelitian ini dilakukan, ditemukan 182 spesies dan 53 genus baru di tiga wilayah perairan Indonesia yang menjadi rute utama kapal tanker, yaitu Selat Malaka, Selat Sunda, dan Selat Lombok.
Dwi menjelaskan, daripada memikirkan bahan-bahan dengan kandungan zat kimia untuk membersihkan laut dan akhirnya malah kembali mencemarkan, lebih baik Indonesia memanfaatkan kekayaan bakterinya di laut. "Coba bayangkan, polusi minyak, contohnya di Pulau Pramuka, sudah kayak aspal kerasnya menempel di akar-akar bakau. Itu bisa diuraikan dengan bakteri," ujar Dwi.
Fumiyoshi Okazaki, salah satu peneliti dari NITE Jepang, memaparkan penelitiannya yang bertajuk "Diversity and Functional Analysis of Petroleum Hydrocarbon-degrading Bacterial Communities in Coastal Zones of Indonesia".
Penelitian yang berpusat di Selat Malaka dan Selat Lombok ini menyebutkan peran Acinetobacter dan Alcanivorax yang sangat dominan dalam biodegradasi. "Mikroba alam itu yang bertanggung jawab terhadap remediasi minyak," ujar Okazaki. "Populasi bakteri secara konstan bekerja dan kadar n-Alkanes secara konstan pula menurun setelah tujuh hari masa inkubasi," tuturnya.
Sementara itu, Dwi berharap agar hasil penelitian ini menjadi rekomendasi bagi pemerintah untuk menelurkan regulasi terkait sistem bioremediasi untuk menangani polusi minyak di wilayah laut Indonesia.
Oleh : Lin
Sumber : Kompas (10 Februari 2009)
DITEMUKAN 182 SPESIES MIKROBAKTERI PENGURAI MINYAK DI LAUT INDONESIA
Pencemaran limbah minyak yang kerap dilakukan oleh berbagai tanker di laut, ternyata bisa diuraikan oleh mikrobakteri yang hidup bebas di laut. Dalam kurun waktu tiga tahun penelitian, telah ditemukan 182 spesies dan 53 genus baru di tiga wilayah perairan Indonesia yang menjadi rute utama kapal tanker, yaitu Selat Malaka, Selat Sunda, dan Selat Lombok.
Pencemaran limbah minyak yang kerap dilakukan oleh berbagai tanker di laut, ternyata bisa diuraikan oleh mikrobakteri yang hidup bebas di laut. Dalam kurun waktu tiga tahun penelitian, telah ditemukan 182 spesies dan 53 genus baru di tiga wilayah perairan Indonesia yang menjadi rute utama kapal tanker, yaitu Selat Malaka, Selat Sunda, dan Selat Lombok.
Mikrobakteri yang hidup bebas di laut bisa digunakan untuk mengurai minyak di laut lebih cepat. Hal itu merupakan hasil penelitian Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dengan National Institute of Technology and Evaluation (NITE) Jepang yang bertajuk Diseminasi Hasil Penelitian LIPI-NITE Jepang, Conservation and Sustainable Use of Microbial Resources, di Jakarta, Selasa (10/2).
Menurut Peneliti Pusat Penelitian Biologi LIPI Yantyati Widyastuti, penelitian itu penting, karena disadari bahwa wilayah laut di Indonesia sering dicemari oleh tanker-tanker minyak yang membawa minyak mentah dari kawasan Timur Tengah ke negara-negara Asia Timur, "Nama prosesnya bioremediasi, artinya mengeliminasi polutan dengan proses biologi. Ini sudah ada dari dulu. Cuma proses biodegradasi, Indonesia belum punya," ujarnya.
Proses biodegradasi adalah penguraian minyak di laut dengan material biologi, salah satunya dengan bakteri. Dia menjelaskan, daripada memikirkan berbagai bahan dengan kandungan zat kimia untuk membersihkan laut dan akhirnya malah kembali mencemarkan, lebih baik Indonesia memanfaatkan bakteri. [W-12]
Sumber : Suara Pembaruan (12 Februari 2009)
Tiga Tahun Lagi, Indonesia Yakin Lepas dari Impor Sapi
Jumat, 8 Januari 2016 Program sapi unggulan berhasil dikembangkan. VIVA.co.id - Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) bekerjasa...
-
Nature 451 , 397-399 (24 January 2008) | doi :10.1038/451397a ; Published online 23 January 2008 A tale of two citations M...
-
Jumat, 8 Januari 2016 Program sapi unggulan berhasil dikembangkan. VIVA.co.id - Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) bekerjasa...
-
Sabtu, 5 Desember 2015 11:39 WIB | 8.491 Views Para peneliti menemukan resep baru untuk mengembangkan penawar rasa sakit generasi selan...

