Wednesday, March 23, 2011

TWAS Fellowships: 2011 call for applications now open

Postgraduate, postdoctoral, visiting scholar and advanced research fellowships available to scientists from developing countries. Deadlines vary.

As of 1 March, TWAS is accepting applications for its postgraduate, postdoctoral, visiting scholars and advanced research fellowship programmes. The fellowships are offered to scientists from developing countries and are tenable at centres of excellence in various countries in the South, including Brazil, China, Kenya, India, Malaysia, Mexico, Pakistan, Thailand. Eligible fields include: agricultural and biological sciences, medical and health sciences, chemistry, engineering, astronomy, space and earth sciences, mathematics and physics.

Please see www.twas.org > Programmes > Exchange for the latest information regarding all these programmes, including eligibility criteria, deadlines, etc, and to download the application forms. Women scientists are especially encouraged to apply.

Source : http://www.twas.org/

Read more...

Beasiswa untuk studi pascasarjana di Jerman 2012/2013

The German Academic Exchange Service/Deutscher Akademischer Austausch Dienst (DAAD) memberikan beasiswa bagi Peneliti LIPI untuk program pasca sarjana dengan relevansi ke negara-negara berkembang Tahun 2012/2013 untuk Gelar Master dan PhD. Batas Pendaftaran tanggal 28 Juli 2011.
Program Studi sebagai berikut :
1. Economic Sciences/Business Administration/Political Economics
2. Development Co-operation
3. Engineering and related Sciences
4. Mathematics
5. Regional Planning
6. Agricultural and Forest Sciences
7. Environmental Sciences
8. Public Health/Vertenary Medice/Medicine
9. Social Sciences, Education and Law
10. Media Studies
Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi Ms. Muji/Ms. Dwi
Telp. (021) – 520 08 70, 525 28 07
Fax. (021) – 526 28 22
e-mail : info@daadjkt.org

Read more...

Tanaman Pangan Tahan Perubahan Iklim

Penulis: Yunanto Wiji Utomo | Editor: Tri Wahono
Rabu, 2 Maret 2011 | 22:34 WIB

SHUTTERSTOCK Sorghum

JAKARTA, KOMPAS.com - Di tengah ancaman perubahan iklim yang bisa menyebabkan kegagalan panen dan krisis pangan, ada satu harapan. Sorghum, salah satu jenis tanaman serealia yang kini banyak dikembangkan di Afrika dan India, ternyata bisa bertahan di tengah kondisi tersebut.

"Perubahan iklim adalah salah satu kesempatan bagi sorghum. Perubahan iklim menyebabkan kebanyakan area dimana kita menanam tanaman pangan mengalami kekeringan dan peningkatan suhu," kata Tesfaye T. Tesso Ph.D, peneliti sorghum dari Amerika Serikat di Jakarta, Rabu (2/3/2011). Ia menjadi salah satu pembicara seminar mengenai teknologi sorghum yang digelar Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan).

Tesso mengatakan, komplikasi yang lebih parah bisa mengakibatkan marginalisasi lahan dan berkurangnya kesuburan tanah. Dalam situasi tersebut, menurutnya, tak banyak jenis tanaman pangan yang bisa dibudidayakan karena tidak toleran terhadap suhu tinggi dan kekeringan.

"Karena adaptasi alaminya, sorghum memiliki potensi besar untuk memberi pangan pada kondisi tersebut," papar Tesso.

Menurut Tesso, sorghum memiliki kapasitas untuk mengekstrak kelembapan tanah yang rendah, tingkat penguapan air di daun yang rendah serta kapasitas untuk mengekstrak nutrisi dari tanah jadi bisa bertahan. Berdasarkan kondisi pengembangan sorghum saat ini, Tesso mengatakan bahwa 5 negara yang bisa memproduksi sorghum terbesar adalah Amerika Serikat, Nigeria, Sudan, India, dan Ethiophia.

Indonesia sendiri cukup memiliki potensi asalkan serius dalam mengembangkannya. Salah satunya dengan pemuliaan bibit yang sesuai kondisi lahan di Indonesia dengan teknologi nuklir. Dalam seminar di mana Tesso menjadi salah satu pembicaranya itu, dipamerkan beberapa produk pangan berbasis sorghum, diantaranya brondong sorghum, pilus sorghum, dan kue sorghum.

Read more...

Sorghum Jadi Bahan "Fast Food" buat Sapi

Penulis: Yunanto Wiji Utomo | Editor: Tri Wahono
Rabu, 2 Maret 2011 | 22:38 WIB

SHUTTERSTOCK Sorghum

JAKARTA, KOMPAS.com - Peneliti dari Badan Tenaga Atom Nasional (Batan), Ir. Suharyono M.Rur. Sci., kini tengah mengembangkan fast food untuk ternak. Bahan dasar dari fast food tersebut adalah sorghum, jenis tanaman serealia yang bisa tumbuh di lahan kering.


Untuk membuatnya, sorghum terlebih dahulu dibuat menjadi silase. Dalam prosesnya, sorghum dipotong-potong menjadi lebih pendek, kemudian dimasukkan dalam wadah kedap udara dan difermentasi.

"Setelah jadi silase, lalu ditambahkan biosuplemen dan bahan-bahan lain sebagai media," kata Suharyono yang merupakan peneliti nutrisi ternak Pusat Aplikasi Teknologi Isotop dan Radiasi Badan Tenaga Nuklir Nasional.

Sorghum yang menjadi bahan dasar pembuatan fast food ini diketahui lebih bernutrisi dari jenis pakan lain seperti rumput gajah. Salah satu indikatornya, sorghum memiliki kandungan protein yang lebih tinggi, yakni 10-12%. Selama ini, sorghum yang diberikan pada ternak berupa silase dan sorghum segar yang telah dipotong-potong.

Diketahui, sorghum juga adalah pangan ternak yang sangat potensial untuk diberikan pada sapi. Fast food untuk ternak ini kini tengah dikembangkan namun wujudnya nanti belum bisa diketahui. Suharyono mengungkapkan, dengan fast food ini, diharapkan penggunaan sorghum lebih meluas dan ternak pun mendapatkan nutrisi yang lebih baik.

Lalu, dimana peran teknologi isotop dan radiasi dalam pengembangan pakan ternak ini? "Dengan isotop, kita bisa tahu apakah pakan itu bagus bagi ternak dengan melihat jumlah fosfor yang terserap. Dengan radiasi, kita bisa tahu logam berat dan mineral yang terdapat di bahan pakan," kata Suharyono.

Sorghum adalah tanaman yang bisa dimanfaatkan biji, batang dan daunnya. Selain bisa dimanfaatkan untuk pakan ternak, tanaman ini juga punya potensi sebagai bahan pangan manusia. Jenis serealia ini bisa ditanam di lahan kering sehingga bisa jadi alternatif bagi penduduk dimana padi, jagung atau gandum sulit dibudidayakan.


Read more...

CALL FOR PAPERS http://asian-transactions.org

CALL FOR PAPERS http://asian-transactions.org/CallForPapers.pdf (also find the attached file)

Dear Associate,

We take this opportunity to invite you and your associates to visit the online Asian Transactions (AT) at http://www.asian-transactions.org and submit research papers in all the fields of Engineering, Sciences, Computing and Technology. The Asian Transactions aims to provide a spacious range of the highly quality, creative, original, and excellent technological publications covering a broad area of research activities in the Engineering, Computing and Sciences principles. It makes the exchange of scientific and practical knowledge; and information among technology professionals. All articles in Asian Transactions are peer reviewed and our expert referees ensure that the papers accepted for publication conform to the high scientific standards of Asian Transactions.


Sincerely,
The Editorial Board of Asian Transactions
Contact information: editor@asian-transactions.org
Journal web site: http://www.asian-transactions.org


CALL FOR PAPERS ( http://www.asian-transactions.org )


I. Asian Transactions on Engineering
ATE

ISSN : 2221 - 4267
Volume: 01 Issue: 02

· Paper Submission : 31st March 2011

· Author Notification : 15th April 2011

· Journal Publication : 30th April 2011



II. Asian Transactions on Computers
ATC

ISSN: 2221-4275

Volume: 01 Issue: 02

· Paper Submission : 31st March 2011

· Author Notification : 15th April 2011

· Journal Publication : 30th April 2011


III. Asian Transactions on Basic dan Applied Sciences
ATBAS

ISSN: 2221-4291

Volume: 01 Issue: 02

· Paper Submission : 31st March 2011

· Author Notification : 15th April 2011

· Journal Publication : 30th April 2011



IV. Asian Transactions on Sciences dan Technology
ATST

ISSN: 2221-4283

Volume: 01 Issue: 02

· Paper Submission : 31st March 2011

· Author Notification : 15th April 2011

· Journal Publication : 30th April 2011


V. Asian Transactions on Fundamentals of Electronics, Communication dan Multimedia
ATFECM

ISSN: 2221-4305

Volume: 01 Issue: 02

· Paper Submission : 31st March 2011

· Author Notification : 15th April 2011

· Journal Publication : 30th April 2011

Submit: editor@asian-transactions.org OR chiefeditor.at@gmail.com
Publisher: AT Publishers



Sincerely,

Chief Editor AT
Asian Transactions
editor@asian-transactions.org

Thanks For Your Interest,
Manager.

Asian Transactions
http://www.asian-transactions.org/
Publish Journals of Engineering, Computing, Sciences dan Technology

Read more...

Saturday, March 19, 2011

Biotechnology tools

BioExchange.com has assembled an impressive array of valuable tools for the Life Sciences.

Download Vector NTI Suite 6.0 Windows
Download Vector NTI Suite 5.3 Mac

Read more...

New technique helps identify multiple DNA regulatory sites

Scientists at Lawrence Livermore National Laboratory (LLNL) and the Linnaeus Centre for Bioinformatics (LCB) at Uppsala University in Sweden have developed a new bioinformatics technique for systematically analyzing key regions in DNA that help control gene activity. The cooperative efforts were headed by Krzysztof Fidelis in the United States and by Jan Komorowski in Sweden.

Understanding the complex regulatory mechanisms that tell genes when to switch on and off is one of the toughest challenges facing researchers attempting to discover how life works. “Binding sites,” or areas of DNA that interact with the proteins that help control gene expression, can be a long distance on the DNA strand from the genes they influence. Recent research also has shown that gene expression can be controlled by several regulatory proteins working together at a combination of different binding sites.

(Regulatory proteins are known as “transcription factors”; transcription is the first step in the process by which the genetic information in DNA is decoded by the cell to manufacture proteins, the building blocks of life.)

It’s difficult to experimentally observe how transcription factors bind to DNA at a distance from a gene, or how regulation happens, said Fidelis, a computational biologist in Livermore’s Biosciences Directorate. But you can identify their binding sites in a promoter or regulatory region – there are usually a few of these for each gene. We wanted to see if we could somehow deduce how many transcription factors at a time, or combinations of factors, are coming together physically and how these combinations regulate genes.

“To accomplish this,” Komorowski said, “we used a machine learning technique called rough sets to mathematically model general rules that could associate known binding sites and gene expression in yeast, which is one of the most widely studied organisms.” From the analysis of gene activity under a variety of environmental conditions, the teams were able to develop a set of rules for predicting the location of binding site combinations based on limited binding site and gene expression data.

“We found that the same transcription factors, in slightly different combinations, could be responsible for the regulation of different genes,” said Torgeir R. Hvidsten of the LCB. “Thus we now know that binding sites can be combined to allow a large number of expression outcomes using relatively few transcription factors.”

Others collaborating in the project were Jerzy Tiuryn of the Faculty of Mathematics, Informatics, and Mechanics at Warsaw University in Poland; Bartosz Wilczynski of the Institute of Mathematics, Polish Academy of Sciences, and LLNL; and Andriy Kryshtafovych of LLNL. A report on the joint work appears in the June issue of the journal Genome Research.

The rough sets technique was developed by Zdzislaw Pawlak in Poland in the 1980s and is particularly suitable to build models from incomplete and uncertain data. It has been used in applications ranging from medical and financial data analysis to voice recognition and image processing. Applied to gene regulation, the approach was able to predict the location of regulatory sites for about one-third of the genes in the yeast genome – a success rate as good as or better than other current techniques.

“The next step is to test this approach on different organisms, including microbes and vertebrates,” Fidelis said. The growing number of organisms whose genomes have been sequenced has generated a wealth of DNA sequence information that could provide the raw material for analysis.

Primary funding for the research was provided by LLNL’s Laboratory Directed Research and Development Program, the Knut and Alice Wallenberg Foundation, and the Swedish Foundation for Strategic Research.

Founded in 1952, Lawrence Livermore National Laboratory has a mission to ensure national security and to apply science and technology to the important issues of our time. Lawrence Livermore National Laboratory is managed by the University of California for the U.S. Department of Energy’s National Nuclear Security Administration.

The Linnaeus Centre for Bionformatics is a joint initiative between Uppsala University and the Swedish University of Agricultural Sciences. The LCB researchers are involved in many interdisciplinary bioinformatics projects, including epigenetics, evolutionary studies, functional genomics, and computational tool integration for life sciences.

www.bioexchange.com

Read more...

China Temukan Virus pada Kutu yang Tewaskan 36 Orang

Beijing (ANTARA News) - Para ilmuwan China telah menemukan sebuah virus, yang sebelumnya tidak diketahui, dibawa oleh kutu yang menyebabkan setidaknya 36 kematian di enam provinsi pada September lalu, menurut edisi terbaru New England Journal of Medicine yang diterbitkan Kamis.

Virus SFTSV (demam berat dengan bunyavirus sindrom trombositopenia) baru-baru ini ditemukan oleh para ilmuwan di Pusat China untuk Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC).

Kantor berita Xinhua melaporkan, orang-orang dengan virus tersebut dapat mengalami demam dan kegagalan banyak organ.

Kehadiran virus itu dikonfirmasi pada 171 pasien dari enam provinsi di China. Hal ini mengakibatkan setidaknya 36 kematian pada September 2010.

Direktur CDC Wang Yu mengatakan, antara akhir Maret dan pertengahan Juli 2009, gejala penyakit menular pada manusia itu dilaporkan di daerah pedesaan Hubei tengah dan provinsi Henan, tapi penyebab dari gejala-gejala tidak diketahui kemudian.

Gejala klinis utama termasuk demam, trombositopenia, gejala gastrointestinal, dan leukocytopenia, dan ada "kasus dengan tingkat kematian awal sangat tinggi 30 persen," kata Wang.

Li Dexin, direktur lembaga virus CDC, mengatakan petani yang tinggal di daerah pegunungan yang paling rentan terhadap gigitan kutu yang lazim antara bulan Mei dan Juli.

Lembaga virus itu telah melakukan tes pada lebih dari 600 serum darah pasien, yang menunjukkan bahwa SFTSV adalah si pembunuh.

(H-AK/B002/S026)

Editor: Suryanto
COPYRIGHT © 2011

Sumber : www.antaranews.com

Read more...

Saturday, March 12, 2011

Australia Habiskan Rp20 Miliar Teliti Sapi Lombok

Mataram (ANTARA News) - Manager Program Penelitian Pusat Penelitian Pertanian Internasional Australia (ACIAR) Peter Horne mengaku telah mengeluarkan sekitar Rp20 miliar untuk melakukan penelitian sapi bali di Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat.

"Sejak tahun 2000, kami telah mengeluarkan dana penelitian sapi bali di Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB) sekitar Rp20 miliar. Dana itu dikucurkan dalam tiga tahap, yakni pada 2000 sekitar Rp5 miliar, kemudian 2004 sekitar Rp7 miliar, dan terakhir pada 2008 sekitar Rp8 miliar," katanya usai penandatanganan Letter of Intent (LoI) antara Universitas Mataram (Unram) dengan Pemerintah Timor Leste, di Mataram, Senin.

Peter Horne yang didampingi Dekan Fakultas Peternakan Unram, Prof. Yusuf Ahyar Sutaryono, mengatakan dana penelitian sekitar Rp20 miliar tersebut, dimanfaatkan untuk membiayai keperluan para peneliti dari Australia sebesar Rp15 miliar dan belanja langsung sebesar Rp10 miliar.

Dana belanja langsung itu yang dialokasikan untuk membantu melakukan penelitian yang bertujuan meningkatkan populasi sapi Bali di Pulau Lombok. Penelitian itu melibatkan 1.500 peternak.

Hasil penelitian yang sudah diimplementasikan adalah satu indukan bisa menghasilkan satu ekor anak sapi (pedet) dalam jangka waktu dua belas bulan, lebih cepat dibandingkan sebelum masuknya program ACIAR ke Lombok, yakni satu induk menghasilkan dua ekor pedet selama tiga tahun.

"Itu hasil dari penelitian yang kami lakukan sejak 2000. Memang kami tidak memiliki data populasi sapi yang dihasilkan dari program ACIAR secara detail, namun ,wujud nyata dari hasil penelitian kami adalah satu induk sapi mampu melahirkan satu ekor pedet dalam waktu 12 bulan," ujarnya.

Dekan Fakultas Peternakan Unram, Prof. Yusuf Ahyar Sutaryono, Proyek penelitian yang dilakukan ACIAR bekerjasama dengan Fakultas Peternakan Universitas Mataram dan Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) NTB untuk penelitian sapi Bali berlokasi di Kabupaten Lombok Tengah dan di Kecamatan Kayangan, Kabupaten Lombok Utara.

Penelitian tersebut melibatkan 1.500 peternak yang tergabung dalam 48 kelompok peternak.

Populasi sapi di kelompok peternak yang sudah berkembang sejak proyek penelitian dilakukan pada tahun 2000 sekitar 5.000 hingga 6.000 ekor.

"Program penelitian ACIAR bertujuan untuk membantu mendongkrak pendapatan petani melalui dua cara, yakni meningkatkan produktivitas tanaman, peternakan dan perikanan budidaya serta dengan memperkuat pembangunan agribisnis yang terintegrasi yang difokuskan pada komoditas bernilai ekonomis tinggi dan mempunyai pasar yang kuat," ujarnya.

Ia berharap hasil penelitian yang dibiayai ACIAR tersebut bisa diadopsi oleh Pemerintah Provinsi NTB untuk mewujudkan program NTB bumi sejuta sapi (BSS) pada 2013.
(KR-WLD/M025)
Editor: Aditia Maruli
COPYRIGHT © 2011

Read more...

Perkembangan Farmasi Berteknologi Nano Sangat Pesa

Jakarta (ANTARA News) - Perkembangan farmasi menggunakan teknologi nano saat ini sudah tumbuh demikian pesat bahkan untuk ukuran Indonesia masih jauh tertinggal dibandingkan negara lain di dunia.

"Pemanfaatan teknologi nano dalam dunia farmasi dapat berperan dalam meningkatkan kualitas produksi dan keamanan (safety performance)," kata pakar teknologi nano ITB, Prof. Dr. Heny Rachmawati saat dihubungi, Rabu.

Teknologi nano sendiri merupakan teknologi yang memungkinkan suatu produk dipecah menjadi skala nanometer atau sepersemiliar meter.

Teknologi nano merupakan salah satu teknologi yang disebut-sebut mampu mendorong pertumbuhan industri dan ekonomi di segala bidang.

Produk yang menggunakan teknologi nano akan lebih cepat diserap, dibandingkan produk yang tidak menggunakan teknologi ini, sehingga dari segi penggunaan akan lebih efisien, jelasnya.

Heny mengatakan, teknologi nano di bidang farmasi saat ini banyak dipergunakan untuk ekstrak obat-obatan tradisional seperti gingseng juga kandungan kosmetik misalnya untuk cream tabir surya.

Sehingga gingseng melalui teknologi nano mampu lebih cepat diserap tubuh dan menjadikan kandungan "ginsenosides" (kandungan persentase ginseng untuk menghasilkan stamina) yang lebih tinggi dibandingkan gingseng lainnya.

Teknologi nano dapat dipergunakan dalam dunia farmasi karena akan membantu kelarutan, stabilitas, dan kemapuan penyerapan "Dalam dunia farmasi seluruh persyaratan itu harus dipenuhi," jelasnya.

"Terkadang senyawa obat tertentu mengalami kesulitan untuk larut dan melakukan penetrasi, untuk kondisi yang demikian teknologi nano dapat mengambil peranan," ujar dia.

Heny kembali mencontohkan, kandungan kalsium dalam susu yang juga harus dibuat menggunakan teknologi nano agar dapat efektif terserap ke dalam tulang.

Dia mengungkapkan, tenologi nano merupakan penemuan terkini setelah sebelumnya juga dikenal dengan teknologi mikro untuk dunia farmasi, makanan, dan kosmetik.

"Teknologi sekrang ini banyak dikembangkan sektor industri mengingat untuk memproduksinya bukan hal mudah membutuhkan keahlian, evaluasi modifikasi sehingga sampai ke skala nano," ujar dia.

BP POM sendiri saat ini sangat ketat dalam melakukan pengawasan terhadap produk yang menggunakan teknologi nano, apakah teknologi itu benar diterapkan dalam suatu produk jangan sampai publikasinya nano tetapi kenyataannya tidak ada, ujar dia.

"Perkembangan teknologi nano di Indonesia sendiri baru berusia lima tahun, padahal di luar negeri teknologi ini sudah berkembang sejak 10 tahun yang lalu (tahun 1990 an)," ujar Heny.

Heny mengatakan, kalau Indonesia tidak memperdalam teknologi nano maka industri kita termasuk yang tertinggal.

Seperti dunia farmasi dengan teknologi nano memungkinkan penggunaan dosis obat tidak terlalu besar, sehingga sangat efisien dalam memanfaatkan bahan baku, ujar dia.
(ANT)


Editor: Anang
COPYRIGHT © 2011
Sumber : www.antaranews.com

Read more...

Wednesday, March 09, 2011

Seminar Bioteknologi Pertanian “Global Overview of Biotech/GM Crops 2010”, Senin, 14 Maret 2011

Indonesian Biotechnology Information Centre (IndoBIC) dan Badan Litbang Pertanian, didukung oleh International Services for the Acquisition of Agri-biotech Application (ISAAA), Perhimpunan Bioteknologi Pertanian Indonesia (PBPI) dan SEAMEO BIOTROP kembali menyelenggarakan sebuah Seminar dengan tema “Global Overview of Biotech/GM Crops 2010: Current Status, Impact and Future Prospect”. Seminar tersebut Insya Allah akan dilaksanakan pada:

Hari/Tanggal : Senin, 14 Maret 2011

Waktu : Pukul 11.00-16.00 WIB

Tempat : Auditorium Gedung D Departemen Pertanian, Kanpus Deptan

Jl. Harsono RM No. 3, Ragunan, Jakarta

Dr. Clive James, Direktur ISAAA akan menyampaikan status pemanfaatan tanaman bioteknologi di seluruh dunia pada tahun 2010.

Seminar ini ditujukan pada para pengurus organisasi petani, peneliti, pemulia, para pejabat terkait, industri bibit dan mahasiswa.


AGENDA ACARA
Seminar “Global Status of Commercialized Biotech/GM Crops in 2010”
Auditorium Gd. D, Kanpus Deptan, Senin, 14 Maret 2011
11.00 – 12.00 Press Conference
12.00 - 12.45 Makan Siang
12.45 - 13.00 Registrasi Peserta
13.00 - 13.10 Welcome Remarks (Dr. Bambang Purwantara, Direktur IndoBIC)
13.10 - 13.20 Opening Remarks (Ir. Suswono, MMA, Menteri Pertanian RI)
13.20 - 13.35 Sekilas tentang ISAAA (Dr. Randy Hautea, Global Coordinator of ISAAA)
13.35 – 14.20 Presentasi ISAAA: Progress & Global Status of Commercialized Biotech/GM Crops in 2010 (Dr Clive James, Founder & Chairman, of ISAAA)
14.20 – 15.20 Diskusi dan tanya jawab
15.20 - Selesai Penutupan

Read more...

Monday, March 07, 2011

Perpustakaan Puslit Bioteknologi LIPI

Saat ini perpustakaan Puslit Bioteknologi LIPI telah membuka layanan penelusuran online melalui OPAC (Online Public Access Catalog) berbasis web. Pada web ini pengunjung dapat menelusur koleksi tercetak dan dijital yang dimiliki oleh perpustakaan. Perpustakaan Puslit Bioteknologi LIPI pun sudah membuka kesempatan bagi umum yang beraktivitas (magang, pkl, penelitian, training) di Puslit Bioteknologi LIPI untuk menjadi anggota perpustakaan.

Web Perpustakaan Puslit Bioteknologi LIPI dapat di akses di http://www.biotek.lipi.go.id/perpus

Read more...

Database Forkomikro dan BTCC













Saat ini database Forkomikro dan BTCC Puslit Bioteknologi LIPI sudah bisa di akses secara online melalui web Puslit Bioteknologi LIPI di http://www.biotek.lipi.go.id

Read more...

Anda Ingin Tahu Status Terkini Mengenai Pangan Transgenic?

* Apa saja Isu dan Perkembangan Pangan Transgenik dan Relevansinya untuk Ketahanan Pangan Indonesia?
* Apa Peluang dan Tantangan Bahan Pangan Transgenik di Indonesia ?
* Bagaimana sistem dan Manajemen Keamanan Pangan Transgenik di Indonesia ?
* Bagaimana Metode Evaluasi Keamanan Pangan Transgenik dan Perkembangannya ?
* Bagaimana Visi Pemerintah dalam menyikapi perkembangan Pangan Transgenik ?

Hadiri Seminar :

Update on Biotechnology in Food Industry

IPB International Convention Center, Bogor

Kamis 17 Maret 2011

Pukul 08.30-16.30



Para Pembicara :

Dr Haryono, Kementrian Pertanian RI

Dr Bambang Purwantara, IndoBIC

Prof Antonius Suwanto, Institut Pertanian Bogor

Ir. Tetty Sihombing, Badan POM RI

Dr Dahrul Syah, Perhimpunan Ahli Teknologi Pangan Indonesia (PATPI)



Biaya Seminar Rp 500.000/orang



Hubungi kami untuk keterangan lebih lanjut dan pendaftaran :

0251 719 1945

0856 9755 7535 (Fitria)

0817 9035 069 (Tissa)

marketing@foodreview.biz



Organizer :

FOODREVIEW INDONESIA

SEAFAST CENTER


--
PT Media Pangan Indonesia
FOODREVIEW INDONESIA
KULINOLOGI INDONESIA
Jl Pandu Raya No 151-153, Indraprasta II
Bogor 16152, Indonesia
Ph. +62 251 7191945 / Fax. +62 251 8328 376
Mobile +62 857 8247 5179
www.foodreview.biz / www.kulinologi.biz

Read more...

Komisi Bioetika Nasional

CGIAR Site Updates

FAO: BIOTECHNOLOGY

  © Blogger templates The Professional Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP