Tuesday, December 06, 2005

"Girls Science Camp 2005"Ulangan dan Kelinci Percobaan Jadi Hambatan

Dalam lomba karya ilmiah ini sebenarnya banyak karya peserta yang cukup inovatif. Sayangnya, waktu penelitian berbarengan dengan musim ulangan. Sampai ada empat finalis yang akhirnya enggak bisa mempresentasikan karya mereka.
"Menurut saya, dalam kehidupan sehari-hari itu yang terkena seriawan anak bayi. Soalnya, anak saya mengalaminya,” ungkap seorang guru. ”Apakah campuran getah dan jeruk nipis itu bisa buat bayi?”
Pertanyaan itu ditujukan kepada tiga cewek yang berdiri di podium. Wajah Indah, Ifi, dan Cindy tampak agak terkejut. Lantas mereka saling berpandangan dan berdiskusi sebentar. Sementara itu, juri, wartawan, peserta lain, dan guru di depan mereka menantikan jawaban dari cewek-cewek SMP Al Azhar Kelapa Gading, Jakarta, ini. Lantas Cindy mendekati mik, ”Getah jarak rasanya pahit. Campuran yang kami bikin memang buat obat seriawan, tetapi bukan buat bayi. Jadi menurut kami sebaiknya jangan diberikan kepada bayi.” Mendengar jawaban tegas itu, penonton pun bertepuk tangan.
Seperti itulah suasana yang terjadi ketika peserta L’Oreal Girls Science Camp 2005 mempresentasikan karya ilmiah mereka di Auditorium Pusat Bioteknologi LIPI, Cibinong, Bogor. Acara yang berlangsung Selasa, 21 Juni 2005, ini adalah lomba karya ilmiah untuk anak-anak SMP. Penyelenggaranya, perusahaan kosmetik L’Oreal. Dan pesertanya cewek semua. Makanya dinamakan L’Oreal Girls Science Camp 2005.
Ada enam kelompok dari enam SMP yang lolos ke babak final ini. Setiap kelompok wajib mempresentasikan karyanya di depan para juri, guru-guru, dan penonton yang hadir. Mereka juga harus bisa menjawab setiap pertanyaan yang diajukan oleh siapa pun yang hadir di ruang presentasi tersebut.
Terbentur ulangan
Sebenarnya event yang juga didukung oleh Lembaga Eijkman, Institut Pertanian Bogor, dan Pusat Penelitian Bioteknologi-LIPI ini diikuti oleh 35 SMP se-Jabotabek. Tetapi setelah melalui proses seleksi yang kriterianya meliputi orisinalitas ide penelitian, inovasi, metodologi, dan implikasi, akhirnya ada 10 sekolah yang dinyatakan lolos. Lalu mereka diminta membuat satu kelompok yang terdiri atas tiga orang untuk melakukan penelitian lebih mendalam.
Sayangnya hanya enam kelompok yang bisa melakukan penelitian dan menyerahkan hasil penelitiannya kepada panitia, yaitu SMP Al Azhar Kelapa Gading, Jakarta, SMPN 19 Jakarta, SMP Al Azhar 1 Jakarta, SMP Islam Tugasku, SMP Regina Pacis, Jakarta, dan SMP Islam Harapan Ibu. Empat sekolah lainnya enggak bisa menyelesaikan penelitian karena waktunya bersamaan dengan masa ulangan. Aduh... sayang banget, ya!
Kelompok dari SMPN 19 yang terdiri dari Janita, Norita, dan Yasmin yang penelitian ilmiahnya berjudul Hidroponik Budidaya Lidah Buaya berhasil mengatasi persoalan terlalu sedikitnya waktu yang mereka miliki untuk melakukan penelitian. ”Kebetulan di rumahku ada tumbuhan lidah buaya. Jadi, penelitiannya dilakukan di rumah saja,” kata Janita yang harus menyiram pohon lidah buayanya tiap jam enam pagi dan jam lima sore. ”Mau pohon lain, takut waktunya habis buat cari pohon,” kata Janita.
Banyak kendala
Kelompok dari SMP Regina Pacis, Jakarta, juga mengeluhkan sedikitnya waktu yang diberikan untuk melakukan penelitian. Akibatnya, masa penelitian mereka harus terpotong-potong karena ada ulangan umum. Padahal, waktu yang sempit itu hanya salah satu kendala yang dihadapi para peneliti muda ini. Masih banyak kendala lain yang menghadang mereka. Misalnya saja yang dialami oleh Indah dan kelompoknya dari SMP AL Azhar Kelapa Gading, Jakarta.
”Kami kesulitan mencari orang yang bersedia jadi obyek uji coba campuran yang kami buat,” ujar Indah. ”Padahal waktu yang kami miliki cuma tiga minggu untuk penelitian dan membuat makalah. Di kompleks rumahku ya enggak ada yang mau. Untungnya ada tetangga guruku yang mau, yaitu seorang bapak dan dua anak. Dalam waktu tiga hari, seriawan mereka sembuh,” ungkap Indah.
Kartika dan kelompoknya dari SMP Islam Harapan Ibu juga kesulitan mendapatkan ”kelinci percobaan”. Tak seorang pun yang rambutnya rontok bersedia jadi obyek penelitian mereka. Akhirnya Kartika, Neta, dan Ayu masing-masing menghitung sendiri berapa helai rambut mereka yang rontok. ”Ternyata, rambutku paling banyak rontoknya. Maka akulah yang dijadikan korbannya, ha-ha-ha...,” ujar Tika, panggilan Kartika.
Sebelum mendapat ide, Tika melihat literatur. Dia tahu kalau jeruk nipis bisa digunakan untuk mencegah munculnya ketombe dan rambut rontok. Tika pikir mengurangi kerontokan boleh juga karena hal itu sering mereka rasakan.
”Kita baru bisa dalam taraf mengurangi kerontokan. Maunya sih, penelitian kita sampai bagaimana supaya rambut enggak rontok. Tetapi waktunya enggak cukup buat meneliti, jadi ya… cuma mengurangi saja,” ungkap Tika.
Akhirnya penelitian Tika dan kelompoknya yang berjudul Jeruk Nipis untuk Mengatasi Kerontokan Rambut berhasil meraih juara kedua. Juara pertamanya adalah Indah dan kawan-kawan dari SMP Islam Al Azhar Kelapa Gading dengan penelitiannya yang berjudul Campuran Jeruk Nipis dan Getah Jarak Pagar sebagai Obat Sariawan. Berdasarkan penelitian yang mereka lakukan, campuran kedua elemen tersebut dapat menghasilkan suatu formula yang efektif dalam menyembuhkan seriawan hanya dalam tiga hari dengan rasa yang lebih disukai.
Sedangkan SMP Islam Al Azhar I Kebayoran meraih juara ketiga dengan tema penelitian Pemanfaatan Sukun di Kepulauan Seribu sebagai Upaya Meningkatkan Kesejahteraan Penduduk Setempat.
Selain penelitian kelompok, dilombakan juga karya tulis ilmiah perorangan. Untuk kategori ini yang jadi juara pertamanya adalah Gloria Ate, siswi SMPN 1 Cikini. Gloria menyisihkan peserta lainnya dengan karya tulisnya yang berjudul Pengembangan Daerah Aliran Sungai & Kanal di Wilayah Jakarta sebagai Pusat Kegiatan Masyarakat.
Biar lebih baik
Kalau tujuan utamanya ingin menumbuhkan minat anak SMP pada bidang sains, kelihatannya cukup berhasil ya. Buktinya walau di tengah suasana ulangan umum, cukup banyak juga pesertanya. Belum lagi kalau dilihat dari kualitasnya. Tema atau topik yang diajukan oleh peserta sangat menarik. Selain yang sudah disebutkan di atas, masih ada beberapa karya lain yang membuat orang ingin tahu lebih jauh.
Misalnya saja karya tulis ilmiahnya Effika Nurningtyas. Siswi SMP Al Azhar 1 ini mengangkat tema Pemanfaatan Buah Jarak sebagai Sumber Energi Alternatif Pengganti BBM. Di saat harga BBM yang semakin melambung tinggi, tentu karya Effika ini sangat menarik perhatian banyak orang. Iya enggak?
Nah, semoga saja tahun depan lomba ini digelar lagi. Tidak sebatas Jabotabek saja, tetapi bisa lebih luas lagi. Iya dong, cewek-cewek SMP dari luar Jabotabek kan ingin dapat kesempatan juga! Pasti deh akan lebih banyak lagi karya-karya yang berkualitas. Apalagi kalau waktu yang diberikan untuk melakukan penelitian lebih lama lagi. Hasilnya pasti lebih baik dari yang sekarang.
Oh iya, soal hadiah nih... masak sih untuk juara satu penelitian kelompok, hadiah uangnya cuma Rp 1,2 juta? Kayaknya enggak cukup tuh untuk bikin penelitian baru, he-he-he....!

FITRI HARIYADININGSIH Tim MUDA
Sumber: http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0506/24/muda/1836302.htm

No comments:

Tiga Tahun Lagi, Indonesia Yakin Lepas dari Impor Sapi

Jumat, 8 Januari 2016 Program sapi unggulan berhasil dikembangkan. VIVA.co.id - Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) bekerjasa...