Monday, October 29, 2007

BIOTEKNOLOGI BERPELUANG : BISA BERSAING SECARA GLOBAL

Industri bioteknologi berpeluang paling besar untuk bersaing secara global karena Indonesia memiliki sumber daya genetik yang berlimpah। Hal ini ditekankan Iskandar Alisjahbana (76) saat menerima Penghargaan Sarwono Prawirohardjo dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Rabu (22/8).Industri bioteknologi berpeluang paling besar untuk bersaing secara global karena Indonesia memiliki sumber daya genetik yang berlimpah। Hal ini ditekankan Iskandar Alisjahbana (76) saat menerima Penghargaan Sarwono Prawirohardjo dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Rabu (22/8). Penghargaan ilmiah tertinggi dalam rangka peringatan 40 tahun Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) kepada Iskandar itu didasarkan atas prestasinya di bidang inovasi teknologi telekomunikasi. Iskandar sejak tahun 1968 merintis pengembangan teknologi satelit komunikasi. Ia berhasil membangun Sistem Komunikasi Satelit Domestik (SKSD) Palapa. Selain Iskandar, LIPI juga menganugerahkan penghargaan yang sama kepada Emil Salim (77) atas dasar prakarsa pelestarian lingkungan hidup dengan pembangunan berkelanjutan. Dalam pidatonya, Emil Salim menekankan peranan tokoh-tokoh LIPI, dimulai dari almarhum Sarwono Prawirohardjo sebagai Kepala LIPI pertama, kemudian Aprilani Sugiarto, Otto Soemarwoto, John A Katili, hingga Setiyarti Sastrapradja. Mereka berjasa memberikan berbagai pemahaman ekologi kepada Emil Salim. Iskandar mengatakan, "Saya menganjurkan supaya LIPI lebih banyak memusatkan perhatian pada kemungkinan dan kesempatan besar pada industri-industri bioteknologi baru yang dapat didirikan di Indonesia. Ini karena berlimpahnya genetic resource di Indonesia." Tidak boleh mengeluh Kepala LIPI Umar Anggara Jenie mengatakan, kalangan peneliti tidak boleh mengeluh akan adanya keterbatasan anggaran penelitian dari pemerintah. Pemecahan masalah ini harus terus dicari, di antaranya dengan mengembangkan kerja sama penelitian dengan pihak luar negeri. Pada kesempatan itu, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dalam orasi ilmiahnya menyampaikan, para peneliti dapat mengembangkan usaha dari hasil- hasil penelitian. "Saat ini masih sangat sulit untuk mendapatkan anggaran riset teknologi. Kebijakan pada politik anggaran masih dilarang untuk mengambil dana dari luar," kata Mulyani. Dia mengakui, anggaran riset LIPI tahun ini termasuk banyak yang dipotong pemerintah. Namun, keinginan untuk mewujudkan komunitas-komunitas ilmiah sudah terpenuhi sumber-sumbernya. Dia mengakui, anggaran riset LIPI tahun ini termasuk banyak yang dipotong pemerintah. Namun, keinginan untuk mewujudkan komunitas-komunitas ilmiah sudah terpenuhi sumber-sumbernya. Tidak boleh mengeluh Iskandar menegaskan, lembaga penelitian, seperti LIPI dan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) serta perguruan tinggi, harus meninggalkan filsafat "menara gading". "Filsafat menara gading itu adalah melakukan penelitian demi penelitian saja, terpisah dari masyarakat. Perguruan tinggi dan lembaga penelitian itu harus bisa memberikan sesuatu kepada masyarakat. "Penelitian itu harus dapat digunakan masyarakat, bisa dibuat secara industri," tegasnya. Dia menekankan pentingnya inkubator bagi peneliti LIPI patut didirikan untuk menunjang bantuan hukum, modal awal, dan cara-cara bisnis menuju persaingan global. Inkubator adalah tempat pembinaan industri mula. Dia menambahkan, untuk menghubungkan kegiatan penelitian dan industri, pemerintah perlu membuat regulasi. Sumber : Kompas (23 Agustus 2007)

No comments:

Tiga Tahun Lagi, Indonesia Yakin Lepas dari Impor Sapi

Jumat, 8 Januari 2016 Program sapi unggulan berhasil dikembangkan. VIVA.co.id - Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) bekerjasa...