Wednesday, September 03, 2008

RI-Australia sepakat tangkal agrobioterorisme

oleh : Stefanus Arief Setiaji

SOLO (Bisnis.com): Pemerintah Indonesia dan Australia sepakat untuk memfokuskan pembahasan mengenai penguatan pengamanan kedua negara dari ancaman agrobioterorisme terkait Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) dan Hama Penyakit Hewan (HPH) Karantina Indonesia dan Australia.

Salah satu wujud kerja sama yang ingin dipetik oleh Pemerintah Indonesia dalam hal capacity building dengan mengambil pengalaman Australia dalam menanggulangi hama dan penyakit, sehingga tidak menyebabkan wabah penyakit.

Ketua Delegasi Indonesia Syukur Iwantoro mengatakan dalam pertemuan tersebut, pemerintah akan mendorong Australia agar segera memfinalisasi persyaratan teknis impor buah manggis Indonesia ke negara kanguru tersebut. “Masalah rencana impor buah manggis sudah hampir satu tahun, dan itu belum selesai teknis karantinanya. Kita akan dorong permasalahan itu dalam pertemuan kali ini,” ujarnya kepada Bisnis disela 14th Australia-Indonesia Working Group on Agriculture, Food and forestry Cooperation (WGAFFC) di Solo, hari ini.

Selain masalah itu, lanjutnya, kedua negara sepakat untuk mengkaji status pelabuhan Indonesia terhadap Giant African Snail (GAS), Australia's Fruifly Free Area, Fumigation Scheme serta market akses bagi produk holtikultura Indonesia ke Australia.

Syukur Iwantoro yang juga menjabat sebagai Kepala Badan Karantina Pertanian, menyatakan pertemuan itu kemungkinan akan dilanjutkan dengan upaya kemitraan antara Indonesia Quarantine Strengthening Program (IQSP) dengan Australian Quarantine and Inspection Service (AQIS).

"Beberapa program kegiatan lewat kemitraan tersebut di antaranya meliputi analisis risiko hama penyakit hewan dan program kampanye publik mengenai flu burung,” ungkapnya.

Sejumlah daerah yang akan dijadikan action plan program kemitraan di antaranya Unit Pelaksana Teknis (UPT) Karantina Pertanian di Jakarta, Denpasar, Surabaya, Kupang, Entikong, Makasar, Ambon dan Timika.

Ketua Delegasi Australia Paul Morris mengungkapkan pemerintahnya sangat terbuka dengan peluang investasi di sektor pertanian dan peternakan dari Indonesia. Menurut dia, selama produk yang akan diekspor memenuhi persyaratan karantina, produk tersebut dapat di pasarkan di negara tersebut.(yn)

Sumber : www.bisnis.com

0 komentar:

Komisi Bioetika Nasional

CGIAR Site Updates

FAO: BIOTECHNOLOGY

  © Blogger templates The Professional Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP