Sunday, January 10, 2016

Balai penelitian pertanian buat pengganti terigu dari sorgum

Rabu, 9 Desember 2015 16:55 WIB | 6.033 Views
Pewarta: 
Balai penelitian pertanian buat pengganti terigu dari sorgum
Seorang petani mengairi tanaman sorgum yang diuji cobakan di lahan pasir di kawasan Pantai Baru, Srandakan, Bantul, Yogyakarta, Minggu (22/4). Sorgum merupakan jenis tanaman serelia yang mempunyai potensi besar untuk dikembangkan di Indonesia sebagai alternatif pengganti gandum dan beras. (FOTO ANTARA/Sigid Kurniawan)


Jakarta (ANTARA News) - Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian mengolah sorgum menjadi tepung yang bisa menggantikan tepung terigu.

Pelaksana Harian Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian Ridwan Rachmat di Bogor, Rabu, mengatakan sorgum merupakan komoditas pangan asli Indonesia yang belum banyak dibudidayakan serta diolah menjadi bahan pangan oleh masyarakat.

"Kami sudah memiliki teknologi penepungan sorgum ini sehingga nantinya (tepung sorgum) bisa diperbanyak oleh masyarakat," katanya di sela pengenalan Galery Inovasi Teknologi Pascapanen atau Gerai Pascapanen.

Menurut Ridwan Rachmat, sorgum memiliki kandungan glutenin yang lebih rendah dari gandum sehingga lebih menyehatkan daripada tepung terigu.

Selain itu, ia menjelaskan, sorgum memiliki berbagai keunggulan dibandingkan tanaman pangan lain yakni dapat ditanam di lahan suboptimal tanpa pemupukan dan bisa dikembangkan di lahan gambut.

Saat ini Balai Besar Pascapanen Pertanian mengembangkan sejumlah Model Agro Industri (MAI) sorgum, antara lain di Kabupaten Lamongan dan Madura Jawa Timur.

Peneliti Balai Besar Pascapanen Pertanian, Dr. Endang Yuli Purwani membuat teknologi penepungan sorgum untuk mengolah biji sorgum menjadi tepung.

PT Bukaka berminat menanamkan modal untuk mengembangkan tepung sorgum sebagai pengganti tepung terigu bermintra dengan Balai Besar Pascapanen selaku pemegang hak atas teknologi penepungan sorgum.

Manajer PT Bukaka Sofi Farid Bachtir menyatakan, minat untuk mengembangkan usaha tepung sorgum berawal dari penyakit yang dideritanya.

"Sorgum dengan kandungan glutenin rendah ternyata bagus untuk penderita diabetes. Sorgum ada zat antidiabetik," katanya.

Ia mengatakan saat ini salah satu kendala untuk mengembangkan usaha tepung sorgum adalah belum banyaknya petani yang membudidayakan tanaman tersebut karena pasarnya tidak ada.

Saat ini, ia menambahkan, masih sulit mendapat pasokan sorgum, keberlanjutan pasokannya tidak terjamin.

Padahal, Sofi menjelaskan, di Papua ada sorgum yang dipasarkan ke Italia dengan harga 6 sampai 8 dolar AS per kilogram, jauh lebih tinggi dari harga di tingkat petani yang hanya Rp2.500 per kilogram. 

Dia menyatakan pemanfaatan tepung sorgum akan mampu menekan impor terigu hingga 90 persen, karenanya sudah saatnya pemerintah mendorong pengembangan tanaman sorgum.

Saat ini ada lahan sorgum seluas 500 hektare di Kabupaten Pulang Pisau, Kalimantan Tengah, yang dikembangkan swasta untuk bahan baku gula cair.  
Editor: Maryati
COPYRIGHT © ANTARA 2015

0 komentar:

Komisi Bioetika Nasional

CGIAR Site Updates

FAO: BIOTECHNOLOGY

  © Blogger templates The Professional Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP