Saturday, January 09, 2016

Pengembangan "Techno Park Banyumulek" Terus Berlanjut


altYunanto Wiji Utomo 230 pedet hasil program Inseminasi Buatan (IB) Sexing di Banyumulek, Mataram, Nusa Tenggara Barat, dipanen pada Rabu (12/12/2012).

JAKARTA, KOMPAS.com
 - Pengembangan Techno Park di kawasan Banyumulek, Nusa Tenggara Barat, yang masuk dalam daftar program kegiatan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) pada 2015 ini, masih akan berlanjut. Techno Park LIPI itu akan membantu mengembangkan salah satu komoditas pangan di Indonesia, yaitu daging sapi.


Dalam siaran pers diterima di Jakarta, Senin (21/12/2015), peneliti LIPI Dr Roni Ridwan mengatakan bahwa Techno Park merupakan salah satu program pemerintah untuk membangun kedaulatan pangan yang saat ini menjadi prioritas nasional. Terutama daging sapi, lanjut dia, merupakan prioritas andalan sebagai sumber protein hewani yang belum menunjukkan kedaulatan pangan secara nasional saat ini. 

"Ini (Techno Park) merupakan langkah strategis yang dapat digunakan untuk kedaulatan pangan," kata Roni. 

Dia melanjutkan, program tersebut merupakan suatu kawasan pengembangan yang disiapkan secara khusus untuk mengimplementasikan inovasi iptek di kalangan lembaga penelitian dan pengembangan (litbang) universitas, perusahaan, dan pemerintahan. Hasil pengembangan iptek tersebut selanjutnya dilakukan diseminasi kemasyarakat dan diupayakan peningkatan produksi menjadi produk komersil skala besar atau industri.

Arahan kebijakan pembangunan Techno Park di tingkat kabupaten atau kota nantinya akan dapat berfungsi sebagai pusat penerapan teknologi untuk mendorong perekonomian di wilayah masing-masing, menjadi tempat pelatihan, kegiatan magang, pusat diseminasi teknologi, dan pusat advokasi bisnis ke masyarakat luas.

Roni menjelaskan pemilihan daerah Banyumulek, NTB, itu didasarkan kepada potensi besar  daerah tersebut di bidang peternakan, terutama peternakan sapi dan pendukung bioresouces lainnya. 

"Keunggulan Banyumulek terutama untuk peternakan sapi yang berasal dari varietas sapi Bali. Varietas sapi Bali unggul dalam hal adaptasi terhadap makanan dan lingkungan Banyumulek," ujar Roni.

Adapun program pembangunan dan pengembangan Techno Park Banyumulek akan  dilaksanakan selama lima tahun mulai 2015 hingga 2019 mendatang. Program tersebut dilaksanakan secara terintegrasi dalam 6 klaster, yaitu pengolahan pakan (silase, konsentrat, dan probiotik), pengolahan limbah (pupuk dan biogas), pembibitan sapi Bali (produksi sperma sexing dan GBP) dan penggemukan sapi potong, pertanian organik (padidan hortikultur), pengolahan pasca panen (olahan daging), serta kajian sosial ekonomi masyarakat yang dikemas dalam manajemen bisnis dan pelayanan kepada masyarakat.

Dengan adanya Techno Park ini, Roni berharap kesejahteraan masyarakat Banyumulek dapat ikut terangkat. Techno Park LIPI Banyumulek itu rencananya akan berdiri di lahan seluas 30 hektare. Implementasinya bekerjasama dengan Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi NTB, Pemerintah daerah  provinsi NTB , Pemerintah daerah  Lombok Barat - NTB, Universitas Mataram, dan PT Gerbang NTB Emas.

Sebelumnya, Gubernur NTB, TGH M Zainul Majdi mengatakan berbagai pencapaian telah diraih pemerintah NTB. Namun, sampai saat ini masih banyak masalah ekonomi dan sosial di 10 kabupaten/kota. Oleh karena itu, sudah sepatutnya hari ulang tahun menjadi momentum untuk bersyukur dan intropeksi diri.

Zainul menjelaskan, pekerjaan rumah yang masih harus diintervensi adalah masih tingginya angka kemiskinan, juga ketimpangan antara yang tidak mampu dengan yang mampu.

"Jika tidak dipersempit akan menganggu pembangunan. Untuk itu, keamanan dan ketertiban masyarakat juga harus difokuskan," ujarnya.
Penulis: Latief Editor : Latief

Sumber : http://sains.kompas.com/read/2015/12/21/09575951/Pengembangan.Techno.Park.Banyumulek.Terus.Berlanjut

0 komentar:

Komisi Bioetika Nasional

CGIAR Site Updates

FAO: BIOTECHNOLOGY

  © Blogger templates The Professional Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP