Thursday, October 22, 2009

Cahaya bagi Penuaan dan Kanker

Oleh BRIGITTA ISWORO L

Mereka yang ”takut” pada proses penuaan, dan berpendapat penyakit kanker adalah penyakit tak tersembuhkan, telah menemukan ujung lorong cahaya melalui penemuan yang mengarah pada lorong jawab.

Tiga ilmuwan—Elizabeth Blackburn, Carol Greider, dan Jack Szostak—Senin (5/10), menerima Hadiah Nobel Kedokteran tahun 2009 karena menemukan dan mengidentifikasi sebuah mekanisme kunci dalam operasi genetis sel, sebuah penemuan yang telah mengilhami penelitian-penelitian baru dalam penuaan dan kanker.



Mereka, pada akhir 1970-an dan 1980-an, telah berhasil memecahkan persoalan besar di bidang biologi, ”Bagaimana kromosom mampu mengopi diri secara sempurna saat membelah diri dan bagaimana mereka melindungi diri mereka dari degradasi”, demikian tertulis pada sitat.

Ini kemenangan kedua mereka bertiga setelah tahun 2006 mereka memenangi Lasker Prize karena mampu memprediksi dan menemukan suatu enzim yang disebut telomerase yang membantu menahan kromosom sel tetap muda. Mereka menemukan solusinya di ujung kromosom, di bagian yang disebut telomere yang sering dibandingkan dengan bagian plastik pada ujung-ujung tali sepatu yang menahan tali sepatu itu agar tidak terurai (Kompas, 6/10). Greider mengatakan, ”Pendekatan kami menunjukkan bahwa saat kami melakukan riset untuk menjawab sesuatu tentang penyakit yang spesifik, kami juga hanya bisa melakukannya dengan mengikuti hidung kami (naluri).”

Molekul deoxyribo nucleic acid (DNA) yang panjang seperti benang, pembawa gen-gen manusia, terkumpul menjadi kromosom. Telomere yang dihasilkan telomerase ini merupakan tutup di ujungnya. Telomere sebenarnya telah ditemukan beberapa dekade sebelumnya, tetapi Blackburn ingin tahu bagaimana itu dikopi sehingga bisa mencegah penuaan. ”Jam tidak berputar ke belakang, tetapi ada pertanyaan bagaimana kita bisa memperpanjang kesehatan kita,” ujarnya.

Hasil kerja mereka memang berbatasan dengan bidang kerja kimia. Sempat muncul dugaan bahwa mereka juga akan sekaligus menerima Nobel Kimia tahun 2009. ”Penemuan Blackburn, Greider, dan Szostak telah menambahkan dimensi baru pada pemahaman kita tentang sel, menjatuhkan cahaya pada mekanisme penyakit, dan menstimulasi perkembangan terapi baru yang berpotensi,” ungkap Komite Penghargaan Nobel.

Pemimpin Eksekutif Dewan Riset Kedokteran Inggris (Britain’s Medical Research Council) Sir Leszek Borysiewicz dalam pernyataannya menyatakan, ”Penelitian tentang kromosom membantu meletakkan dasar dari penelitian pada masa depan tentang kanker, sel punca, juga proses penuaan. Ini wilayah-wilayah yang amat penting.”

Tidak menunggu

Blackburn yang lahir di Australia dan kini memegang dua kewarganegaraan, AS dan Australia, mengakui, dia tidak menunggu-nunggu telepon dari Komite Penghargaan Nobel meskipun namanya berada di urutan teratas daftar penerima penghargaan. ”Saya terbangun dan perlu sementara waktu sebelum menyadarinya,” katanya menambahkan.

Dia mengatakan telah berada di California Selatan sehari sebelumnya untuk mengunjungi ibu mertuanya yang berulang tahun ke-95. ”Telepon berdering, dan saya meraba-raba di kegelapan untuk menerimanya,” ujarnya.

Blackburn, yang berani bicara blakblakan, dipecat pada 2004 dari Dewan Bioetik bentukan Presiden AS George W Bush karena mengkritik kebijakannya terkait riset tentang sel punca.

Riset lainnya yang sekarang dilakukan Blackburn menunjukkan bahwa stres kronis dan perilaku gaya hidup tertentu dapat mematikan telomere dan telomerase. Hal ini suatu ketika akan menjadi pintu masuk dari pemahaman baru dari dampak stres dan kemunculan dini penyakit yang terkait proses penuaan, seperti kebutaan dan kardiovaskular.

Untuk ayah

Greider mempersembahkan kemenangannya kepada sang ayah, yang ahli fisika, yang telah mendorong dia untuk terjun ke dunia ilmu pengetahuan.

”Dia akan mengatakan, ’Kami bisa melakukan apa pun yang kamu ingin lakukan, tetapi kamu harus menyukai apa yang kamu lakukan’,” ujarnya mengenang sang ayah.

Dia memulai penelitian telomerase pada akhir 1970-an dengan Blackburn, penasihat akademisnya yang memelopori riset mengenai kromosom dan DNA di Universitas California. Dia menambahkan, Hadiah Nobel itu merupakan pengakuan nilai penemuan yang didorong oleh rasa ingin tahu murni.

Stephen Desiderio, Direktur John’s Hopkins Institute for Basic Biomedical Sciences, tempat Greider bekerja, menandaskan, ”Sebagai rekan sesama ilmuwan, mentor, dan perempuan di dunia keilmuan, dia adalah inspirasi bagi bangsa ini dan dunia.” Kemenangan Greider membuat universitas itu amat gembira.

Greider mengatakan, ”Pendekatan kami menunjukkan bahwa saat kami melakukan riset untuk menjawab sesuatu tentang penyakit yang spesifik, kami juga bisa hanya melakukannya dengan mengikuti hidung kita (naluri).”

Penghargaan tertinggi

Sementara itu, Szostak memandang penghargaan tersebut sebagai penghargaan tertinggi. Jadi, amat menyenangkan menerima pengakuan seperti itu, lagi pula bisa berbagi dengan rekannya, koleganya. ”Saya rasa kami membutuhkan keseimbangan antara ilmu dasar dan riset terapan,” ujarnya.

Szostak memang sejak 1970-an terus-menerus meneliti telomerase. Menurut Berg, ”Dia mencoba menemukan bagaimana dia dapat membuat proto-sel dan membuatnya menyalin materi genetiknya. Ini sama dengan benar-benar menciptakan kehidupan di tabung percobaan.”

Sejumlah perusahaan telah mencoba mendapatkan hasil penelitian telomerase. Geron Corp dari Menlo Park, California, telah meluncurkan uji klinis untuk mengetes telomerase guna melihat kemungkinannya memerangi kanker.

Tidak ada obat atau perawatan yang sudah di depan mata. Konselor UCSF Susan Desmond-Hellmann mengatakan, ”Penelitian Blackburn menjadi amat penting bagi bioteknologi dan perusahaan farmasi.” Dia sebelumnya adalah pejabat eksekutif perusahaan bioteknologi besar Genentech. (AP/AFP/Reuters/Berbagai Sumber)

Sumber : http://cetak.kompas.com/

0 komentar:

Komisi Bioetika Nasional

CGIAR Site Updates

FAO: BIOTECHNOLOGY

  © Blogger templates The Professional Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP