PT. Sahabat Lingkungan Hidup (SLH-Labs), perusahaan swasta yang bergerak di bidang biofarmasi, makanan dan supplemen,. PT. Sahabat Lingkungan Hidup
(SLH-Labs), perusahaan swasta yang bergerak di bidang biofarmasi, makanan dan supplemen,serta obat2 alternatif dari bahan organic tumbuhan dan hewan yang berlokasi di Surabaya.
Perusahaan ini memerlukan Staf Kultur Jaringan Tumbuhan dengan criteria sbb:
1. Sarjana S1 atau magister (S2) bidang biologi
2. Kuat/sangat menguasai ilmu Biologi Sel, Mikrobiologi dan Kultur jaringan Tumbuhan
3. Menguasai bahasa Inggris secara aktif, dapat membaca dan menelaah paper/jurnal
berbahasa Inggris
Bagi yang memenuhi criteria tersebut diatas silahkan langsung mengirimkan lamaran ke:
pt. SAHABAT LINGKUNGAN HIDUP
u.p Mr. P. Sugita
JL. Embong Malang 80 Surabaya 60275 INDONESIA
TEL.: 62 (31 )534 0971 FAX.: 62 (31 ) 546 8479
Email : slhshark@indo. net.id
Rekrutmen staf ini sifatnya SANGAT SEGERA, diharapkan pelamar yang lolos seleksi dapat
mulai bekerja pada bl Desember 2007.[info dari milis biotek@yahoogroups.com]
Thursday, November 29, 2007
Monday, October 29, 2007
LIPI SUSUN INDIKATOR BIOTEKNOLOGI
Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) akan mengembangkan konsep indikator bioteknologi untuk memacu pertumbuhan bidang ilmu itu. Deddy Setiapermana, Kepala Pusat Penelitian Perkembangan Iptek (PAPPIPTEK) LIPI, menyatakan bahwa bioteknologi merupakan teknologi yang memiliki banyak kontribusi terhadap sektor prioritas, yaitu makanan dan kesehatan.
"Pada masa datang, bioteknologi diperkirakan bakal menjadi industri yang berkembang pesat," kata Deddy di Jakarta kemarin. "Mau tak mau negara seperti Indonesia akan bergerak dari industri padat karya menjadi teknologi intensif, seperti Jepang dan Korea Selatan."
Sampai saat ini, Deddy mengakui LIPI belum memiliki indikator pengembangan bioteknologi karena sejak 1990-an pengembangan indikator ilmu pengetahuan dan teknologi di Tanah Air mengalami pasang surut. Setelah sempat menelurkan indikator tersebut pada 1993, program ini sempat mandek. Tak ada pengambil kebijakan yang serius mengembangkan konsep itu sampai 2003. "Kami sempat mengalami masa vakum," katanya.
Diharapkan, pada akhir 2008, LIPI telah memiliki potret yang lebih baik tentang sektor bioteknologi. Indikator itu akan memberikan gambaran tentang kondisi industri, pasar, serta prioritas program bioteknologi di Indonesia sehingga mempermudah penentu kebijakan mengambil keputusan.
Peneliti PAPPIPTEK, Yan Rianto, mengatakan Indonesia memiliki potensi besar di bidang bioteknologi yang belum dieksplorasi. Dia menunjukkan bahwa kekayaan alam hayati Indonesia mencapai lebih dari 1 juta jenis tumbuhan, hewan, dan jasad renik. "Kekayaan sebesar itu baru 10 persen yang diteliti dan hanya 2,5 persen sudah dimanfaatkan untuk berbagai keperluan," ujar Yan dalam seminar "Indikator Iptek Indonesia" di Widya Graha LIPI.
Yan menyatakan Indonesia mengalami ketertinggalan dibandingkan dengan negara tetangga, seperti Malaysia, Thailand, dan Filipina. "Banyak data sektor bioteknologi yang kosong," ujarnya. "Itu kesulitan kami dalam mengumpulkan dan mengolah data karena tercecer di mana-mana dan tidak tersusun."
Sumber : Koran Tempo (13 September 2007)
"Pada masa datang, bioteknologi diperkirakan bakal menjadi industri yang berkembang pesat," kata Deddy di Jakarta kemarin. "Mau tak mau negara seperti Indonesia akan bergerak dari industri padat karya menjadi teknologi intensif, seperti Jepang dan Korea Selatan."
Sampai saat ini, Deddy mengakui LIPI belum memiliki indikator pengembangan bioteknologi karena sejak 1990-an pengembangan indikator ilmu pengetahuan dan teknologi di Tanah Air mengalami pasang surut. Setelah sempat menelurkan indikator tersebut pada 1993, program ini sempat mandek. Tak ada pengambil kebijakan yang serius mengembangkan konsep itu sampai 2003. "Kami sempat mengalami masa vakum," katanya.
Diharapkan, pada akhir 2008, LIPI telah memiliki potret yang lebih baik tentang sektor bioteknologi. Indikator itu akan memberikan gambaran tentang kondisi industri, pasar, serta prioritas program bioteknologi di Indonesia sehingga mempermudah penentu kebijakan mengambil keputusan.
Peneliti PAPPIPTEK, Yan Rianto, mengatakan Indonesia memiliki potensi besar di bidang bioteknologi yang belum dieksplorasi. Dia menunjukkan bahwa kekayaan alam hayati Indonesia mencapai lebih dari 1 juta jenis tumbuhan, hewan, dan jasad renik. "Kekayaan sebesar itu baru 10 persen yang diteliti dan hanya 2,5 persen sudah dimanfaatkan untuk berbagai keperluan," ujar Yan dalam seminar "Indikator Iptek Indonesia" di Widya Graha LIPI.
Yan menyatakan Indonesia mengalami ketertinggalan dibandingkan dengan negara tetangga, seperti Malaysia, Thailand, dan Filipina. "Banyak data sektor bioteknologi yang kosong," ujarnya. "Itu kesulitan kami dalam mengumpulkan dan mengolah data karena tercecer di mana-mana dan tidak tersusun."
Sumber : Koran Tempo (13 September 2007)
BIOTEKNOLOGI BERPELUANG : BISA BERSAING SECARA GLOBAL
Industri bioteknologi berpeluang paling besar untuk bersaing secara global karena Indonesia memiliki sumber daya genetik yang berlimpah। Hal ini ditekankan Iskandar Alisjahbana (76) saat menerima Penghargaan Sarwono Prawirohardjo dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Rabu (22/8).Industri bioteknologi berpeluang paling besar untuk bersaing secara global karena Indonesia memiliki sumber daya genetik yang berlimpah। Hal ini ditekankan Iskandar Alisjahbana (76) saat menerima Penghargaan Sarwono Prawirohardjo dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Rabu (22/8). Penghargaan ilmiah tertinggi dalam rangka peringatan 40 tahun Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) kepada Iskandar itu didasarkan atas prestasinya di bidang inovasi teknologi telekomunikasi. Iskandar sejak tahun 1968 merintis pengembangan teknologi satelit komunikasi. Ia berhasil membangun Sistem Komunikasi Satelit Domestik (SKSD) Palapa. Selain Iskandar, LIPI juga menganugerahkan penghargaan yang sama kepada Emil Salim (77) atas dasar prakarsa pelestarian lingkungan hidup dengan pembangunan berkelanjutan. Dalam pidatonya, Emil Salim menekankan peranan tokoh-tokoh LIPI, dimulai dari almarhum Sarwono Prawirohardjo sebagai Kepala LIPI pertama, kemudian Aprilani Sugiarto, Otto Soemarwoto, John A Katili, hingga Setiyarti Sastrapradja. Mereka berjasa memberikan berbagai pemahaman ekologi kepada Emil Salim. Iskandar mengatakan, "Saya menganjurkan supaya LIPI lebih banyak memusatkan perhatian pada kemungkinan dan kesempatan besar pada industri-industri bioteknologi baru yang dapat didirikan di Indonesia. Ini karena berlimpahnya genetic resource di Indonesia." Tidak boleh mengeluh Kepala LIPI Umar Anggara Jenie mengatakan, kalangan peneliti tidak boleh mengeluh akan adanya keterbatasan anggaran penelitian dari pemerintah. Pemecahan masalah ini harus terus dicari, di antaranya dengan mengembangkan kerja sama penelitian dengan pihak luar negeri. Pada kesempatan itu, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dalam orasi ilmiahnya menyampaikan, para peneliti dapat mengembangkan usaha dari hasil- hasil penelitian. "Saat ini masih sangat sulit untuk mendapatkan anggaran riset teknologi. Kebijakan pada politik anggaran masih dilarang untuk mengambil dana dari luar," kata Mulyani. Dia mengakui, anggaran riset LIPI tahun ini termasuk banyak yang dipotong pemerintah. Namun, keinginan untuk mewujudkan komunitas-komunitas ilmiah sudah terpenuhi sumber-sumbernya. Dia mengakui, anggaran riset LIPI tahun ini termasuk banyak yang dipotong pemerintah. Namun, keinginan untuk mewujudkan komunitas-komunitas ilmiah sudah terpenuhi sumber-sumbernya. Tidak boleh mengeluh Iskandar menegaskan, lembaga penelitian, seperti LIPI dan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) serta perguruan tinggi, harus meninggalkan filsafat "menara gading". "Filsafat menara gading itu adalah melakukan penelitian demi penelitian saja, terpisah dari masyarakat. Perguruan tinggi dan lembaga penelitian itu harus bisa memberikan sesuatu kepada masyarakat. "Penelitian itu harus dapat digunakan masyarakat, bisa dibuat secara industri," tegasnya. Dia menekankan pentingnya inkubator bagi peneliti LIPI patut didirikan untuk menunjang bantuan hukum, modal awal, dan cara-cara bisnis menuju persaingan global. Inkubator adalah tempat pembinaan industri mula. Dia menambahkan, untuk menghubungkan kegiatan penelitian dan industri, pemerintah perlu membuat regulasi. Sumber : Kompas (23 Agustus 2007)
Friday, May 19, 2006
Sel Bahan Bakar dari Enzim
Sel bahan bakar mulai diminati karena bebas polusi.Koran Tempo menurunkan artikel ilmu pengetahuan tentang kereta api berpenggerak sel bahan bakar yang telah dibuat di Jepang. Tapi kebanyakan sel bahan bakar berbasis katalis kimia dan menggunakan bahan bakar hidrogen serta oksigen. Sehingga penggunaannya terbatas pada mesin-mesin besar, seperti mobil hibrida dan kereta.
Padahal, kalau sel bahan bakar ditujukan untuk pengganti baterai konvensional, tentu harus dapat digunakan untuk berbagai keperluan, termasuk yang kecil, dari senter, jam dinding, sampai alat medis. Menggunakan sel bahan bakar dengan hidrogen tentu
menjadi tidak efisien untuk kepentingan seperti itu. Tidak adakah alternatif pengembangannya?
Jawabannya ada, yaitu menggunakan sel bahan bakar dari enzim atau dikenal dengan nama biofuel cell.
Sel bahan bakar dari enzim menggunakan bahan bakar glukosa dan enzim PQQ glukosa dehidrogenase sebagai katalis. Glukosa, yang setelah bercampur enzim, akan
menghasilkan senyawa glukono-delta-lakton dan satu elektron.
Ide ini muncul dari alat ukur gula darah yang digunakan penderita diabetes melitus. Alat ukur yang dahulu menggunakan enzim glukosa okidase sekarang diganti enzim PQQ glukosa dehidrogenase yang memiliki akurasi, efisiensi, dan kecepatan ukur lebih baik. Penulis terlibat penelitian itu di Jepang dan Indonesia.
Karena dalam reaksi enzim saat mengukur gula menghasilkan elektron, dalam prinsipnya dapat digunakan untuk membangun sel bahan bakar dari enzim.
Menggunakan enzim PQQ glukosa dehidrogenase sebanyak 100 unit pada anodanya dan enzim bilirubin oksidase sebanyak 5 unit pada katodanya, dalam eksperimen dengan sirkuit terbuka bertegangan 600 mV dapat dihasilkan kerapatan daya 61 mikro ampere/cm2 serta kerapatan tenaga 18 mikro watt/cm2.
Jumlah itu cukup untuk menggerakkan alat pengukur gula darah yang bertenaga internal. Karena enzim adalah molekul biologi yang dapat rusak, usia sel bahan bakar
dari enzim ini ada batasnya.
Menggunakan enzim PQQ glukosa dehidrogenase asli, sel ini dapat bekerja selama 5 jam. Tapi, bila menggunakan enzim sama yang telah direkayasa protein sehingga
lebih stabil, sel bahan bakar ini dapat bertahan sampai 22 jam.
Bahan bakar tidak hanya glukosa. Karena dapat mengenali substrat yang sejenis, enzim PQQ glukosa dehidrogenase pun dapat mengkatalis reaksi terhadap laktosa, maltosa, dan galaktosa.
Bila bahan bakar yang digunakan glukosa, energi yang dihasilkan dihitung 100 persen, sel bahan bakar dari enzim ini menghasilkan energi 59 persen dengan laktosa dan 56 persen ketika menggunakan maltosa dan galaktosa. Artinya, bila glukosa murni tidak ada,sumber gula lain yang lebih banyak dan murah tersedia,seperti gula pasir pun dapat digunakan.
Untuk apa kegunaan dari sel bahan bakar dari enzim ini? Saat ini yang paling diharapkan adalah untuk
digunakan sebagai penggerak alat pengukur gula darah yang dicangkokkan di bawah kulit penderita diabetes melitus.
Pada konsentrasi rata-rata glukosa dalam darah yang sebesar 5mM, sel bahan bakar ini bekerja dengan baik. Jadi alat pengukur tipe cangkokan yang lebih nyaman karena tidak melukai ini dapat bekerja aman dengan baterai alami terbuat dari enzim dan bahan bakar gula yang sudah berada dalam aliran darah.
Ke depannya, berbagai kemungkinan dapat dipertimbangkan, seperti menjadi pembangkit listrik berbahan bakar biomassa yang menjadi ciri kekayaan negara tropis seperti Indonesia.
Dr Arief Budi Witarto, M.Eng.
Ketua Kelompok Penelitian Rekayasa Protein Pusat
Penelitian Bioteknologi-LIPI Cibinong Science Center
Sumber : KORAN TEMPO - Ilmu dan Teknologi, Senin, 08 Mei 2006
http://www.korantempo.com/korantempo/2006/05/08/Ilmu_dan_Teknologi/krn,20060508,48.id.html
Padahal, kalau sel bahan bakar ditujukan untuk pengganti baterai konvensional, tentu harus dapat digunakan untuk berbagai keperluan, termasuk yang kecil, dari senter, jam dinding, sampai alat medis. Menggunakan sel bahan bakar dengan hidrogen tentu
menjadi tidak efisien untuk kepentingan seperti itu. Tidak adakah alternatif pengembangannya?
Jawabannya ada, yaitu menggunakan sel bahan bakar dari enzim atau dikenal dengan nama biofuel cell.
Sel bahan bakar dari enzim menggunakan bahan bakar glukosa dan enzim PQQ glukosa dehidrogenase sebagai katalis. Glukosa, yang setelah bercampur enzim, akan
menghasilkan senyawa glukono-delta-lakton dan satu elektron.
Ide ini muncul dari alat ukur gula darah yang digunakan penderita diabetes melitus. Alat ukur yang dahulu menggunakan enzim glukosa okidase sekarang diganti enzim PQQ glukosa dehidrogenase yang memiliki akurasi, efisiensi, dan kecepatan ukur lebih baik. Penulis terlibat penelitian itu di Jepang dan Indonesia.
Karena dalam reaksi enzim saat mengukur gula menghasilkan elektron, dalam prinsipnya dapat digunakan untuk membangun sel bahan bakar dari enzim.
Menggunakan enzim PQQ glukosa dehidrogenase sebanyak 100 unit pada anodanya dan enzim bilirubin oksidase sebanyak 5 unit pada katodanya, dalam eksperimen dengan sirkuit terbuka bertegangan 600 mV dapat dihasilkan kerapatan daya 61 mikro ampere/cm2 serta kerapatan tenaga 18 mikro watt/cm2.
Jumlah itu cukup untuk menggerakkan alat pengukur gula darah yang bertenaga internal. Karena enzim adalah molekul biologi yang dapat rusak, usia sel bahan bakar
dari enzim ini ada batasnya.
Menggunakan enzim PQQ glukosa dehidrogenase asli, sel ini dapat bekerja selama 5 jam. Tapi, bila menggunakan enzim sama yang telah direkayasa protein sehingga
lebih stabil, sel bahan bakar ini dapat bertahan sampai 22 jam.
Bahan bakar tidak hanya glukosa. Karena dapat mengenali substrat yang sejenis, enzim PQQ glukosa dehidrogenase pun dapat mengkatalis reaksi terhadap laktosa, maltosa, dan galaktosa.
Bila bahan bakar yang digunakan glukosa, energi yang dihasilkan dihitung 100 persen, sel bahan bakar dari enzim ini menghasilkan energi 59 persen dengan laktosa dan 56 persen ketika menggunakan maltosa dan galaktosa. Artinya, bila glukosa murni tidak ada,sumber gula lain yang lebih banyak dan murah tersedia,seperti gula pasir pun dapat digunakan.
Untuk apa kegunaan dari sel bahan bakar dari enzim ini? Saat ini yang paling diharapkan adalah untuk
digunakan sebagai penggerak alat pengukur gula darah yang dicangkokkan di bawah kulit penderita diabetes melitus.
Pada konsentrasi rata-rata glukosa dalam darah yang sebesar 5mM, sel bahan bakar ini bekerja dengan baik. Jadi alat pengukur tipe cangkokan yang lebih nyaman karena tidak melukai ini dapat bekerja aman dengan baterai alami terbuat dari enzim dan bahan bakar gula yang sudah berada dalam aliran darah.
Ke depannya, berbagai kemungkinan dapat dipertimbangkan, seperti menjadi pembangkit listrik berbahan bakar biomassa yang menjadi ciri kekayaan negara tropis seperti Indonesia.
Dr Arief Budi Witarto, M.Eng.
Ketua Kelompok Penelitian Rekayasa Protein Pusat
Penelitian Bioteknologi-LIPI Cibinong Science Center
Sumber : KORAN TEMPO - Ilmu dan Teknologi, Senin, 08 Mei 2006
http://www.korantempo.com/korantempo/2006/05/08/Ilmu_dan_Teknologi/krn,20060508,48.id.html
Monday, March 27, 2006
Book Charity
I. Pengantar
Indonesia merupakan salah satu pusat keanekaragaman hayati dunia (mega biodiversity center) yang memiliki keunggulan komparatif yang sangat strategis. Keanekaragaman tersebut antara lain meliputi keanekaragaman mikroba, tanaman, hewan dan manusia. Oleh karena itu usaha-usaha untuk melestarikan dan menguak rahasia yang terkandung dalam keanekaragaman hayati patut didukung pengembangannya sebagai riset strategis dengan sasaran jangka panjang. Keefektifan dukungan ilmu pengetahuan juga memerlukan dukungan informasi terbaru yang salah satunya bisa didapatkan di pusat informasi seperti perpustakaan.
Salah satu fungsi serta tugas pokok perpustakaan adalah memberikan layanan semaksimal mungkin kepada pemakai. Berbagai jasa layanan disediakan di Perpustakaan Pusat Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi LIPI (Puslit Bioteknologi LIPI). Mengingat banyaknya pengunjung yang datang & menggunakan fasilitas yang ada di perpustakaan, maka diperlukan koleksi terkini agar pemakai dan pustakawan mendapatkan informasi terbaru yang dibutuhkan.
II. Misi
“Book Charity for Library”
III. Macam dan Bentuk Kegiatan
Kegiatan ini adalah kegiatan menyumbang buku, jurnal, majalah dan pengembangan database perpustakaan maupun penunjang lainnya dari donatur kepada Perpustakaan Pusat Penelitian Bioteknologi – LIPI untuk meningkatkan kualitas perpustakaan. Bentuk publikasi berupa buku, jurnal dan majalah yang diterbitkan tahun 1998 ke atas yang sesuai pada daftar terlampir serta berupa materiil (dana).
Teknis kegiatan yaitu buku, jurnal dan majalah yang ingin disumbang dapat diserahkan melalui staf Perpustakaan Puslit Bioteknologi – LIPI ; atau dikirim ke alamat Perpustakaan Puslit Bioteknologi LIPI Jl. Raya Bogor Km. 46 Cibinong Kab. Bogor Jawa Barat – Indonesia 16911. Telp. (021) 875 1527 Fax. (021) 875 4588
IV. Pengorganisasian
1. Pelindung : Kapuslit Bioteknologi - LIPI
2. Panitia Pengarah : Kepala Bidang Biologi Sel dan Jaringan, Kepala Bidang Biologi Molekuler, Kepala Bidang Bioproses, Kepala Bidang Sarana Penelitian, dan Kepala Bagian Tata Usaha
3. Panitia Pelaksana : Panitia tercantum dalam lampiran
V. Penutup
Demikianlah proposal ini kami ajukan, untuk dijadikan kerangka acuan pelaksanaan kegiatan “Book Charity for Library, dengan harapan bantuan dari semua pihak demi berkembangannya perpustakaan kami.
Indonesia merupakan salah satu pusat keanekaragaman hayati dunia (mega biodiversity center) yang memiliki keunggulan komparatif yang sangat strategis. Keanekaragaman tersebut antara lain meliputi keanekaragaman mikroba, tanaman, hewan dan manusia. Oleh karena itu usaha-usaha untuk melestarikan dan menguak rahasia yang terkandung dalam keanekaragaman hayati patut didukung pengembangannya sebagai riset strategis dengan sasaran jangka panjang. Keefektifan dukungan ilmu pengetahuan juga memerlukan dukungan informasi terbaru yang salah satunya bisa didapatkan di pusat informasi seperti perpustakaan.
Salah satu fungsi serta tugas pokok perpustakaan adalah memberikan layanan semaksimal mungkin kepada pemakai. Berbagai jasa layanan disediakan di Perpustakaan Pusat Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi LIPI (Puslit Bioteknologi LIPI). Mengingat banyaknya pengunjung yang datang & menggunakan fasilitas yang ada di perpustakaan, maka diperlukan koleksi terkini agar pemakai dan pustakawan mendapatkan informasi terbaru yang dibutuhkan.
II. Misi
“Book Charity for Library”
III. Macam dan Bentuk Kegiatan
Kegiatan ini adalah kegiatan menyumbang buku, jurnal, majalah dan pengembangan database perpustakaan maupun penunjang lainnya dari donatur kepada Perpustakaan Pusat Penelitian Bioteknologi – LIPI untuk meningkatkan kualitas perpustakaan. Bentuk publikasi berupa buku, jurnal dan majalah yang diterbitkan tahun 1998 ke atas yang sesuai pada daftar terlampir serta berupa materiil (dana).
Teknis kegiatan yaitu buku, jurnal dan majalah yang ingin disumbang dapat diserahkan melalui staf Perpustakaan Puslit Bioteknologi – LIPI ; atau dikirim ke alamat Perpustakaan Puslit Bioteknologi LIPI Jl. Raya Bogor Km. 46 Cibinong Kab. Bogor Jawa Barat – Indonesia 16911. Telp. (021) 875 1527 Fax. (021) 875 4588
IV. Pengorganisasian
1. Pelindung : Kapuslit Bioteknologi - LIPI
2. Panitia Pengarah : Kepala Bidang Biologi Sel dan Jaringan, Kepala Bidang Biologi Molekuler, Kepala Bidang Bioproses, Kepala Bidang Sarana Penelitian, dan Kepala Bagian Tata Usaha
3. Panitia Pelaksana : Panitia tercantum dalam lampiran
V. Penutup
Demikianlah proposal ini kami ajukan, untuk dijadikan kerangka acuan pelaksanaan kegiatan “Book Charity for Library, dengan harapan bantuan dari semua pihak demi berkembangannya perpustakaan kami.
Thursday, March 09, 2006
Flash News Biotek
DORONGAN CINA AKAN STUDI BIOTEKNOLOGI
Cina sedang mempersiapkan kinerja menuju arah penerapan bioteknologi pertanian untuk lima tahun mendatang. Pertumbuhan sektor pertanian adalah salah satu bagian terpenting bagi pengembangan seluruh negara Cina. Menurut Qi Chengyuan, Direktur Departemen High and New Technology dibawah Komite Pengembangan dan Reformasi Nasional, Cina telah membuat garis besar strategi pengembangan biotek untuk periode 2006-2010. Salah satu adalah mengusahakan pengembangan benih biotek pada tanaman utama serta meningkatkan investasi dalam memonitor keamanan hayati dan kemantapan komite keamanan hayati yang baru.
Zhu Zhen, ketua penyelenggara teknologi padi hasil modifikasi genetika di Cina percaya bahwa strategi tersebut akan membantu meningkatkan jumlah penerapan bioteknologi pertanian. “Regulasi yang lebih baik menyangkut tanaman GM adalah hal penting,” ujar Zhu, “Dengan lebih banyak ilmuwan keamanan hayati dan lingkungan bergabung dengan tim peninjauan tanaman GM, tim tersebut akan memiliki pengalaman lebih banyak tentang keamanan dan efisiensi teknologi GM.”
Berdasarkan China Bio-Industrial Report, yang dikeluarkan oleh China National Center of Biotechnology Development (CNCBD), Kementrian Pertanian telah menyetujui percobaan 585 tanaman GM pada pertengahan 2003, meliputi 154 percobaan pelepasan lingkungan dan 48 pre-produksi. Pemerintah Cina menyetujui komersialisasi kapas GM, tomat, cabai dan sebuah spesies morning glory di akhir 1990-an.
Baca artikel selengkapnya di http://www.chinadaily.com.cn/english/doc/2006-02/14/content_519769.htm. Untuk informasi lebih lanjut, hubungi China Agricultural Biotechnology Information Center (CABIC) di cabic@cncbd.org.cn.
US DAN FILIPINA BERBAGI TANTANGAN BIOTEK YANG SAMA
United States menghadapi tantangan bioteknologi yang sama seperti halnya Filipina, ujar Yali Friedman, Ph.D, kepala Knowledge Officer dengan ruang lingkup pengembangan inovasi dan ekonomi di firma New Economy Strategies Washington DC. Artikel Yali Friedman, Ph.D dengan judul “Perkembangan Bioteknologi di Filipina- Berbagi Tantangan yang sama seperti Amerika,” muncul di isu terkini Manila Bulletin, surat kabar harian di Filipina.
Friedman menyatakan bahwa tantangan untuk mengembangkan bioteknologi mencakup infrastruktur R&D yang lemah, kurangnya pembiayaan dan dukungan awal, sedikitnya dukungan pemerintah – situasi yang umum baik di Amerika maupun Filipina. Dalam rangka mengembangkan bioteknologi di negara tersebut, Friedman menyarankan bahwa Filipina harus “memfokuskan diri kepada kombinasi unik kekayaan dan jurangnya (kelebihan dan kekurangannya). Sebuah perkembangan ekonomi tanaman harus disusun secara hati-hati guna pertimbangan kekuatan spesifik, kelemahan serta kesempatan yang ada di Filipina.”
Baca artikel selengkapnya di http://www.mb.com.ph/issues/2006/02/| 08/TECH2006020855842.html. Untuk informasi lebih lanjut, kirim email ke Philippine Biotechnology Information Center di bic@agri.searca.org atau kunjungi websitenya di http://www.bic.searca.org/.
NILAI TAMBAH PANGAN BIJI-BIJIAN INDIA
Tiga belas institusi penelitian perdana di India telah bekerjasama guna memastikan nilai tambah pangan biji-bijian dikembangkan untuk memerangi malnutrisi yang terjadi di seluruh dunia. Prakarsanya diawali oleh HarvestPlus, sebuah institusi dalam program biofortifikasi internasional. Prakarsa ini dipimpin oleh International Rice Research Institute (IRRI) dan International Food Policy Research Institute (IFPRI).
“Defisiensi zat besi dan seng merupakan masalah kesehatan masyarakat serius di India,” ujar M.K. Bhan, Sekretaris Bioteknologi, pada konferensi tiga hari dengan peserta tenaga ahli nasional dan internasional yang diselenggarakan di M.S. Swaminathan Research Foundation, “Bahkan jika kondisi sosial ekonomi kita telah diperbaiki, defisiensi zat besi tetap akan datang di tahun mendatang.”
Proyek ini diharapkan dapat mengubah kualitas hidup jutaan orang yang sekarang sedang mengalami “hidden hunger.” India dipercayai memiliki jumlah penduduk yang mengalami kekurangan nutrisi tertinggi di dunia, dengan separuh anak-anak dilaporkan kekurangan gizi.
Dalam berita yang terkait, pemerintah India saat ini sedang mempertimbangkan program diversifikasi makanan yang diharapkan dapat mengubah praktek budidaya padi dan gandum sekarang. Rencana tersebut adalah untuk mengadopsi varietas padi dan gandum berumur pendek bersamaan dengan sayur-sayuran dan kacang-kacangan pada saat budidaya kedua tanaman tersebut. Program ini awalnya akan diperkenalkan di Punjab dan Haryana tahun ini.
Baca cerita selengkapnya di http://ricenews.irri.cgiar.org/, http://www.newkerala.com/news2.php?action=fullnews&id=10133, dan http://www.thehindubusinessline.com/2006/02/18/stories/2006021802231200.htm. Untuk informasi lebih lanjut, hubungi Bhagirath Choudhary dari ISAAA South Asia Office di b.choudhary@cgiar.org.
KESUKSESAN PERTANIAN DI AUSTRALIA
The Agriculture and Food Policy Reference Group telah mengeluarkan sebuah laporan tentang “Merancang masa depan kita: Kebijakan pertanian dan pangan bagi generasi mendatang” yang disampaikan kepada Menteri Pertanian, Perikanan dan Kehutanan Australia. Laporan ini mengidentifikasi berbagai isu dan tantangan dasar yang seharusnya disadari negara tersebut bila sektor pertanian dan pangan menjadi sukses 10 sampai 15 tahun ke depan.
Isi laporan tersebut lebih ditekankan pada inovasi produksi dan pemasaran, menyuarakan kebijakan-kebijakan makro-ekonomi dan mikro-ekonomi, pengurangan beban peraturan, komunikasi yang akurat dari informasi yang relevan serta kerjasama antara bisnis dan pemerintah. Selain hal di atas, bioteknologi adalah salah satu bidang kajian yang diulas.
Laporan ini menyorot kebutuhan pemerintah Australia untuk:
* Memberikan prioritas lebih tinggi guna mengkomunikasikan keuntungan yang timbul dari bioteknologi pangan pertanian sekarang.
* Mempublikasikan kekuatan rezim peraturan bagi keamanan penelitian dan produk-produk hasilnya.
* Bekerja dengan bisnis pertanian dan pangan untuk memudahkan penerapan cepat bioteknologi pangan pertanian.
* Mencabut moratorium mengenai penggunaan secara komersial tanaman GM secepatnya.
Laporan selengkapnya tersedia online di http://www.agfoodgroup.gov.au/next_generation.html
CIMMYT MENGEMBANGKAN JAGUNG HIBRIDA TAHAN HERBISIDA
The International Maize and Wheat Improvement Center (CIMMYT), bekerjasama dengan rekan publik dan swasta telah mengembangkan dan menguji 26 Imidazolinone-resistant (IR) 3-Way hibrid jagung, di 18 lokasi dalam beberapa negara-negara sub-Saharan Afrika. Hibrida-hibrida ini disediakan untuk National Agricultural Research Systems (NARS) dan perusahaan-perusahaan benih di timur dan selatan Afrika untuk disertakan dalam percobaan guna meregistrasi varietas, pelepasan dan akhirnya komersialisasi di berbagai negara sub-Saharan Afrika.
Imidazolinone-resistance (IR) adalah bentuk alami dari resistensi hibrida yang mula-mula ditemukan dalam populasi mutasi. Herbisida Imidazolinone memiliki potensi biologi tinggi pada angka aplikasi rendah dengan demikian merupakan alternatif menarik untuk pengendalian gulma. Benih dari hibrida IR yang dilapisi oleh Imidazolinone memberikan perlindungan efektif melawan Striga, suatu parasit bunga dengan dampak merusakkan produksi tanaman di sub-Saharan Afrika. Dalam percobaan, hibrida IR menunjukkan peningkatan hasil sebesar 50% dan hampir 100% dapat mengendalikan Striga. Tanpa perlakuan benih dengan Imidazolinone hibrida yang sama dapat dikomersialkan dalam lokasi tanpa adanya Striga.
Untuk informasi lebih lanjut, hubungi Ms. Ebby Irungu (e.irungu@cgiar.org) atau kunjungi: http://www.africancrops.net/striga/CIMMYT-IR-Maize-Hybrids.pdf
PERTEMUAN AFRIKA TIMUR MENGENAI BIOTEKNOLOGI
Dialog Afrika Timur mengenai Pembuatan Kebijakan dan Bioteknologi, Perdagangan dan Pengembangan Dukungan telah diadakan pada tanggal 14-17 Februari 2006 di Jinja, Uganda. Pertemuan ini mengumpulkan bersama para pemegang kebijakan dalam skala luas dari wilayah Afrika Timur, meliputi anggota pemerintah dan organisasi antar pemerintah, kelompok masyarakat sipil, akademisi, industri dan media. Bersama, mereka kembali melepaskan perumusan perpaduan, penginformasian dan termasuk kebijakan perdagangan, bioteknologi serta pengembangan dukungan pada tingkat nasional, regional dan multilateral.
“Kebanyakan petani Afrika tetap berpenghidupan alami dan kebanyakan petani menumbuhkan tanaman yang tidak menghasilkan keuntungan. Pengenalan bioteknologi pertanian menyarankan suatu pergeseran ke arah tanaman menguntungkan dan pertanian industri. Hal ini digabungkan dengan reformasi kebijakan pertanian dan model ekonomi sehingga dapat segera diekspor-lebih dahulu menggunakan tanah dan pertanian,” ujar Ricardo MelĂ©ndez-Ortiz, direktur eksekutif ICTSD, dalam pidato pembukaannya, “Ini merupakan sebuah perubahan sosial budaya yang penting dan akan mencakup sejumlah besar orang dan lahan.”
Para peserta memaksa pemerintah untuk merumuskan sasaran kebijakan publik berkaitan dengan bioteknologi, meyakinkan bioteknologi meningkatkan sasaran kebijakan publik, memastikan partisipasi dan kesadaran masyarakat akan teknologi, menjamin hubungan kebijakan dalam bioteknologi, menambah sumberdaya keuangan dan pendanaan bagi bioteknologi serta memperkuat bantuan teknis dan membangun kapasitas.
Dialog tersebut diorganisir oleh International Center for Trade and Sustainable Development (ICTSD) dan African Technology Policy Studies Network (ATPS), serta wakil tuan rumah oleh African Union (AU) dan New Partnership for Africa's Development (NEPAD).
Ringkasannya disediakan oleh ATPS, di http://www.atpsnet.org. Temukan lebih lanjut di http://www.ictsd.org/dlogue/2006-02-14/2006-02-14-prog.htm atau hubungi Margaret Karembu dari ISAAA AfriCenter di m.karembu@isaaa.org.
-------------------------------------------------
PUBLIK MENDANAI PROYEK SEKUENSING UNTUK HAMA UTAMA KENTANG
Genus Phytophthora meliputi beberapa patogen penting tanaman penyebab penyakit hawar daun (late blight) pada tomat dan kentang, penyebab kehilangan sebagian besar produksi tanaman dunia. P. infestans, patogen penyebab menurunnya produksi kentang di Irlandia, adalah satu-satunya ancaman patogenik terbesar bagi keamanan pangan dunia, karena kentang merupakan makanan pokok di berbagai negara serta tanaman non sereal terpenting di dunia. Kerusakan yang diakibatkan oleh infeksi P. infestans diperkirakan melebihi US$ 5 miliar setahun di dunia.
National Science Foundation (NSF) US, departemen Riset Kerjasama Penelitian Pertanian, Pelayanan Penyuluhan dan Pendidikan dan Departemen Sumberdaya (DOE) Program Komunitas Pemerhati Sekuensing, mendanai dua proyek sebesar US$6.7 juta untuk sekuensing genom dua spesies Phytophthora. Proyek ini kerjasama antara Ohio State University, Massachusetts Institute of Technology (MIT), Cornell University, University of California-Riverside, dan North Carolina State University.
Prakarsa genom ini dirancang untuk memperoleh informasi mengenai 20000 gen Phytophthora guna identifikasi gen yang penyebab infeksi, sehingga strategi pengendalian penyakit dapat dikembangkan. Informasi tersebut juga penting untuk menemukan gen mana yang resisten terhadap Phytophthora dalam tanaman. “Ketika berhadapan dengan penyakit tanaman, langkah terpenting adalah mengetahui musuh, dan memperoleh sekuen genom dari patogen tersebut merupakan kunci untuk mempelajari mereka lebih jauh” ujar Sophien Kamoun, asisten profesor di Ohio State University. Proyek sangat bermanfaat bagi para petani miskin di negara berkembang. “Faktanya adalah bahwa anda tidak dapat menumbuhkan kentang tanpa menyemprot hawar daun,” Kamoun menambahkan. “Ini adalah suatu penyakit yang dapat dikendalikan namun mahal biayanya.
Bagaimanapun, pada banyak wilayah di dunia dimana petani tidak mengerti pengaplikasian bahan-bahan kimia, penyakit tersebut dapat menyebabkan kekurangan pangan dan kelaparan.
Untuk informasi lebih lanjut, kunjungi http://www.oardc.ohio-state.edu/story.php?id=3530.
PENGHARGAAN DANFORTH CENTER AWARD BAGI BORLAUG
Penerima nobel Dr. Norman E. Borlaug, yang sering dikenal sebagai “Bapak Revolusi Hijau” dalam pertanian, telah menerima Danforth Award untuk Plant Science dalam pengenalan komitmen sepanjang hidupnya guna meningkatkan produksi pertanian global melalui ilmu pengetahuan tanaman. The groundbreaking dikerjakan oleh tim riset dan rekannya dari seluruh dunia seputar kekurangan pangan kronis yang dialami oleh India dan Pakistan pada tahun 1960 an dan mengawali Penghargaan Nobel Perdamaiannya pada 1970.
Dr. Borlaug baru-baru ini menerima National Medal of Science, dan diberikan penghargaan Padma Vibhushan – penghargaan nasional tertinggi kedua India oleh pemerintah India. “Norman Borlaug telah memberikan banyak keuntungan kepada lebih banyak orang dibandingkan orang lain dalam hidupku serta telah menunjukkan bagaimana ilmu pengetahuan dapat memecahkan masalah kemanusiaan. Beliau adalah seorang pahlawan dan contoh pedoman bagi kita di Donald Danforth Plant Science Center,” ujar Ketua Danforth Center, Dr. William H. Danforth. “Bahwa seseorang dapat memberikan manfaat yang amat besar bagi dunia adalah suatu anugerah. Merupakan kebanggaan untuk sekali lagi menjadi tuan rumah bagi Dr. Borlaug di Danforth Center, serta sebuah kehormatan untuk memperkenalkan prestasi pentingnya yang mengagumkan sepanjang hidup.”
Baca artikel selengkapnya di http://www.danforthcenter.org/newsmedia/NewsDetail.asp?nid=114.
WEBSITE FAO DILUNCURKAN GUNA MEMBANTU PARA RIMBAWAN MENGATASI SPESIES PENGGANGGU
The Food and Agriculture Organization of the United Nations (FAO) telah merancang sebuah database online baru berisi informasi menyeluruh mengenai spesies pengganggu sebagai sebuah alat guna membantu para rimbawan menghadapi masalah pertumbuhan.
Spesies pengganggu tersebut antara lain tanaman, hewan atau organisme lainnya diperkenalkan dari ekosistem asing dan sering berdampak negatif dalam komunitas alami yang diserang olehnya, serta menyebabkan kerusakan ekonomis dan lingkungan penting. Total biaya kehilangan dalam pertanian dan kehutanan di enam negara telah diperkirakan mencapai US$314 miliar per tahun, menurut sebuah survei yang dilaporkan di jurnal pertanian, ekosistem dan lingkungan. Ancaman spesies pengganggu ini tumbuh secara dramatis seiring dengan peningkatan perdagangan dan perjalanan global baru-baru ini.
“Informasi menyeluruh mengenai spesies pengganggu terkait dengan hutan tidak ada sebelumnya. Untuk pertama kalinya gerbang telah terbuka mengenai spesies pengganggu terkait dengan kehutanan,” ujar Gillian Allard, ahli proteksi dan kesehatan hutan FAO. “Kami berharap website dan database mampu membantu meningkatkan kesadaran diantara para rimbawan akan kebutuhan yang ditujukan untuk masalah tersebut dari awal sampai akhir – dari ukuran pencegahan sampai manajemen.
Untuk informasi lebih lanjut, kunjungi: http://www.fao.org/newsroom/en/news/2006/1000233/index.html
IDENTIFIKASI: GEN PENYEBAB PEMASAKAN PEPAYA
Pepaya merupakan salah satu buah penting di daerah tropis, digunakan baik untuk industri kosmetik maupun pangan. Sebagai hasilnya, studi dilakukan pada genom pepaya guna mengidentifikasi gen-gen kandidat melalui penanda – bantuan pemuliaan atau rekayasa genetika. Luke C. Devitt beserta rekannya dari Queensland Agricultural Biotechnology Center menyumbangkan penemuannya berjudul “Penemuan gen-gen yang terkait dengan pemasakan buah Carica papaya menggunakan label sekuen yang terekspresi.” Hasil pekerjaan mereka muncul di isu terkini Plant Science.
Untuk mengidentifikasi gen-gen yang terlibat dalam pemasakan pepaya, para peneliti menghasilkan total 1171 label sekuen yang terekspresi (ESTs) dari klon-klon dua perpustakaan cDNA buah beraal dari varietas yang berdaging buah merah dan kuning. ESTs adalah fragmen DNA pendek dari gen yang terekspresi. Mereka telah digunakan secara luas dan efektif dalam sejumlah spesies buah sebagai sebuah alat cepat penemuan gen.
Para peneliti menemukan bahwa kebanyakan sekuen gen berlimpah diisolasi ketika mengkode enzim kitinase, yang memecah kitin;1-aminocyclopropane-1-carboxylic acid (ACC) oxidase, mengendalikan pelepasan etilen dalam tanaman; katalase, memecah hidrogen peroksida yang berbahaya menjadi hidrogen dan air serta methionine synthase, yang memproses asam amino. Para peneliti juga menemukan gen-gen putatif yang berperan dalam pelembutan buah, diantaranya hidrolisis dinding sel, hidrolisis dinding membran, dan sintesis etilen serta pengaturan sekuensing, Dengan membandingkan EST-EST sekuen gen dalam spesies tanaman lain, peneliti mengidentifikasi gen pepaya terekspresi yang berperan dalam pembentukan aroma dan warna buah.
Para pelanggan Plant Science dapat membaca artikel selengkapnya di http://dx.doi.org/10.1016/j.plantsci.2005.09.003.
ARABIDOPSIS MENYEBABKAN TOLERANSI TERHADAP GARAM
Lahan berkadar garam tinggi dapat membatasi produktivitas pertanian dan menurunkan kualitas tanaman. Seperti halnya tanah berkadar garam tinggi (tanah salin) merupakan masalah yang sedang berkembang di berbagai negara, perkembangan tanaman yang toleran terhadap salinitas adalah kunci prioritas. Salah satu pendekatan guna merekayasa toleransi terhadap garam dilaporkan dalam isu terakhir Plant Science oleh Eun-Ji Koh dan rekannya dalam artikel yang berjudul “Ekspresi dari yeast cadmium factor 1 (YCF1) memberikan toleransi terhadap garam bagi Arabidopsis thaliana.”
Studi-studi sebelumnya telah menunjukkan bahwa ketika yeast cadmium faktor 1 (YCF1) dimasukkan ke Arabidopsis, membuat tanaman dapat tumbuh dalam kondisi metal berat. Dalam tulisan ini, para peneliti menunjukkan bahwa lini Arabidopsis yang mengekspresikan YCF1 juga toleran terhadap garam. Menurut pengarang, peningkatan toleransi terhadap garam ini berkaitan dengan pergerakan ion-ion garam dari sitosol ke vakuola, membiarkan sel memelihara keseimbangan osmotiknya.
Para pelanggan Plant Science dapat membaca artikel selengkapnya di http://dx.doi.org/10.1016/j.plantsci.2005.10.007.
AGROBACTERIUM
Agrobacterium-perantara transformasi genetika merupakan teknologi yang paling banyak digunakan untuk mengekspresikan protein rekombinan (yang dikode dari DNA hasil rekayasa genetika) dalam tanaman inang.
Agrobacterium secara rutin digunakan dalam dua tipe utama terapan: dalam pembuatan tanaman transgenik yang menginginkan penggabungan stabil dari sekuen DNA asing kedalam genom inang, dan produksi protein rekombinan temporer yang mengikuti infeksi. Ekspresi temporer tidak menghendaki penggabungan transgen yang stabil, bagaimanapun juga menghasilkan level rendah ekspresi protein ketika tidak semua sel tanaman inang terinfeksi. Dalam tiga dekade penelitian Agrobacterium, banyak protokol telah dirancang dan dihubungkan dengan hak paten yang kadang kala berdampak negatif pada penelitian.
Sang-Min Chung dan rekannya dari State University of New York meninjau kembali kemajuan terkini dalam teknologi transformasi yang menggunakan inang alternatif untuk transformasi stabil dan vektor viral yang diperbaiki untuk ekspresi temporer. Artikel berjudul “Agrobacterium bukan satu-satunya: transfer gen ke tanaman oleh virus dan bakteri lainnnya,” dipublikasikan dalam isu terakhir dari tren dalam Plant Science.
Pengarang tersebut meninjau perkembangan terkini dalam perbaikan 3 spesies bukan Agrobacterium - Rhizobium sp. NGR234, Sinorhizobium meliloti dan Mesorhizobium loti - bagi pembuatan tanaman transgenik yang stabil. Spesies-spesies ini dapat lebih baik berinteraksi dengan spesies tanaman inang tertentu serta dengan demikian menghindari mekanisme pertahanan tanaman yang membatasi efisiensi transformasi.
Sebagai tambahan, mereka menyediakan sumber alternatif terbuka untuk klaim paten. Para pengarang juga melaporkan perkembangan vektor viral dengan pengaruh yang ditingkatkan guna perbaikan protokol ekspresi temporer.
Baca artikel selengkapnya di http://www.sciencedirect.com/science?_ob=MImg&_imagekey=B6TD1-4HK04VJ-2
-3&_cdi=5185&_user=677719&_orig=browse&_coverDate=01%2F31%2F2006&_sk=999889998&view=c&wchp=dGLbVlb-zSkzV&md5=deeb62540e2cdcf6a8caa40f8cdfba07&ie=/sdarticle.pdf dalam complimentary issue jurnal.
PENGARUH PUPUK DALAM PENELITIAN ANTIOKSIDAN TOMAT
Tomat adalah sumber antioksidan penting dan ternyata dapat mengurangi resiko kanker prostat dan berbagai bentuk kanker lainnya. Kandungan antioksidan dalam buah tomat, bagaimanapun dapat dipengaruhi oleh kultivar, kondisi pertumbuhan, musim, cara pemanenan dan pemasakan yang baik dan gagal.
R.K. Toora dari Lincoln University, Canterbury, New Zealand dan rekannya meneliti tentang “Pengaruh berbagai tipe pupuk yang berbeda-beda dalam komponen utama antioksidan dari tomat” dimuat dalam isu terkini Journal of Food Composition and Analysis. Para peneliti mengukur dampak cairan nutrisi mineral yang berbeda, kotoran ayam, dan pupuk yang terbuat dari campuran jerami dan rumput bagi kadar antioksidan dan kemasaman ketika pupuk tersebut diaplikasikan pada tomat yang ditumbuhkan dalam greenhouse.
Para pengarang menemukan bahwa: 1) tidak terdapat perbedaan besar dalam hasil, kandungan bahan kering atau bahan padat tomat yang dapat dimakan ketika ditumbuhkan dengan menggunakan berbagai bentuk pupuk yang berbeda; 2) kandungan utama lycopene suatu karotenoid potensial antioksidan 40% lebih rendah pada tomat yang tumbuh dengan kadar klorida tinggi dan campuran jerami-rumput dibandingkan dengan perlakuan lainnya; serta 3) aktivitas antioksidan utama dari tanaman yang diberikan ammonium 14% lebih rendah dibandingkan dengan perlakuan lainnya.
Baca artikel selengkapnya di http://dx.doi.org/10.1016/j.jfca.2005.03.003.
WORKSHOP BIOTEKNOLOGI ISLAM AKAN DISELENGGARAKAN DI KAIRO
Sebuah workshop bertema “Perkembangan Bioteknologi Pertanian Dalam Negara-Negara Islam: Berbagi Pengalaman Tentang Berbagai Isu dan Tantangan” diselenggarakan di Kairo, Mesir pada tanggal 6-8 Maret. Even ini diorganisir oleh Biotechnology Information Centers (BICs) of Egypt, Malaysia, Indonesia, Bangladesh dan Pakistan. BIC-BIC tersebut adalah urat nasional dari jaringan pengetahuan bioteknologi global yang dikoordinasikan oleh International Service for the Acquisition of Agri-biotech Applications (ISAAA). Baik BIC maupun ISAAA adalah organisasi non-profit.
Workshop tersebut diselenggarakan guna mengumpulkan bersama para peneliti, pembuat kebijakan dan otoritas agama untuk mendiskusikan perkembangan bioteknologi pertanian dalam negara-negara Islam tertentu. Suatu pemahaman yang baik akan bioteknologi pertanian diantara para pembuat kebijakan dan otoritas agama akan memungkinkan mereka memberikan pengetahuan kepada masyarakat serta merumuskan peraturan fatwa menurut ajaran Islam. Hal ini penting sehingga negara-negara Islam dapat memperoleh keuntungan dari bioteknologi serta pada saat yang sama mempertahankan keyakinannya.
Untuk informasi lebih lanjut, email ke: knowledge.center@isaaa.org
BEASISWA PREST BAGI PARA PROFESIONAL DI BIDANG ILMU PENGETAHUAN DAN TEKNOLOGI
Manchester Business School, University of Manchester, menerima lamaran untuk beasiswa PREST selama 3 bulan, didanai oleh Commonwealth Scholarship Commission. Beasiswa tersebut dimaksudkan untuk para profesional yang berkarier (bukan akademisi universitas) yang sedang bekerja dalam wilayah yang berhubungan dengan ilmu pengetahuan dan kebijakan teknologi serta manajemen yang membutuhkan beberapa pelatihan dalam wilayah ini serta sebuah kesempatan untuk membentuk jaringan di U.K. Seluruh pengeluaran termasuk perjalanan dan biaya tinggal disediakan oleh beasiswa.
Para pelamar harus memiliki pengalaman kerja sekurang-kurangnya 5 tahun dan diharapkan akan belajar serta membawa pelajaran mereka ke negaranya masing-masing. Tahun ini, lamaran dari berbagai negara yang sebelumnya belum melamar PREST terutama sekali didukung (khususnya Kenya, Afrika Selatan, Zambia, Botswana dan Gambia). Batas waktu akhir untuk lamaran adalah April 2006.
Untuk informasi lebih lanjut hubungi Dr.Khaleel Malik di khaleel.malik@manchester.ac.uk
SWITZERLAND MANJADI TUAN RUMAH BIOSQUARE 2006
Biosquare 2006 akan diselenggarakan pada 8-10 Maret 2006 di CICG Geneva, Switzerland. Konferensi ini didukung oleh EuropaBio dan akan menonjolkan Program Kerjasama. Program ini memberikan jarak waktu untuk privasi, 30 menit dari satu pertemuan ke pertemuan lain antara para eksekutif bioteknologi dan farmasi, para investor seperti halnya memimpin institusi riset akademik.
Untuk informasi lebih lanjut mengenai konferensi tersebu, kunjungi http://www.ebdgroup.com/biosquare/registration.htm.
WORKSHOP GANDUM DISELENGGARAKAN OLEH CIMMYT
The International Maize and Wheat Improvement Centre (CIMMYT) akan menyelenggarakan sebuah workshop dalam peningkatan hasil gandum pada 20-24 Maret 2006 di Obregon, Meksiko. Workshop tersebut ditujukan untuk meningkatkan potensi hasil gandum dalam area produksi tinggi dengan penekanan bagi negara-negara berkembang. Topik yang dibahas mencakup teknologi terbaru dalam pemuliaan, genetika, fisiologi dan manajemen tanaman yang dapat diterapkan guna memaksimalkan hasil genetika gandum dan ekspresinya. Presentasi lainnya akan berfokus pada bagaimana teknologi dapat meningkatkan dan menstabilkan hasil pertanian guna memperbaiki keamanan pangan dan mata pencaharian. Para ilmuwan gandum dari seluruh dunia termasuk para dari wilayah produksi gandum terbesar dan tertinggi akan ikut serta dalam workshop tersebut.
Untuk informasi lebih lanjut, hubungi M. Reynolds m.reynolds@cgiar.org, atau kunjungi http://www.cimmyt.org/english/wps/events/2006/intlIncreasYield.htm.
Cina sedang mempersiapkan kinerja menuju arah penerapan bioteknologi pertanian untuk lima tahun mendatang. Pertumbuhan sektor pertanian adalah salah satu bagian terpenting bagi pengembangan seluruh negara Cina. Menurut Qi Chengyuan, Direktur Departemen High and New Technology dibawah Komite Pengembangan dan Reformasi Nasional, Cina telah membuat garis besar strategi pengembangan biotek untuk periode 2006-2010. Salah satu adalah mengusahakan pengembangan benih biotek pada tanaman utama serta meningkatkan investasi dalam memonitor keamanan hayati dan kemantapan komite keamanan hayati yang baru.
Zhu Zhen, ketua penyelenggara teknologi padi hasil modifikasi genetika di Cina percaya bahwa strategi tersebut akan membantu meningkatkan jumlah penerapan bioteknologi pertanian. “Regulasi yang lebih baik menyangkut tanaman GM adalah hal penting,” ujar Zhu, “Dengan lebih banyak ilmuwan keamanan hayati dan lingkungan bergabung dengan tim peninjauan tanaman GM, tim tersebut akan memiliki pengalaman lebih banyak tentang keamanan dan efisiensi teknologi GM.”
Berdasarkan China Bio-Industrial Report, yang dikeluarkan oleh China National Center of Biotechnology Development (CNCBD), Kementrian Pertanian telah menyetujui percobaan 585 tanaman GM pada pertengahan 2003, meliputi 154 percobaan pelepasan lingkungan dan 48 pre-produksi. Pemerintah Cina menyetujui komersialisasi kapas GM, tomat, cabai dan sebuah spesies morning glory di akhir 1990-an.
Baca artikel selengkapnya di http://www.chinadaily.com.cn/english/doc/2006-02/14/content_519769.htm. Untuk informasi lebih lanjut, hubungi China Agricultural Biotechnology Information Center (CABIC) di cabic@cncbd.org.cn.
US DAN FILIPINA BERBAGI TANTANGAN BIOTEK YANG SAMA
United States menghadapi tantangan bioteknologi yang sama seperti halnya Filipina, ujar Yali Friedman, Ph.D, kepala Knowledge Officer dengan ruang lingkup pengembangan inovasi dan ekonomi di firma New Economy Strategies Washington DC. Artikel Yali Friedman, Ph.D dengan judul “Perkembangan Bioteknologi di Filipina- Berbagi Tantangan yang sama seperti Amerika,” muncul di isu terkini Manila Bulletin, surat kabar harian di Filipina.
Friedman menyatakan bahwa tantangan untuk mengembangkan bioteknologi mencakup infrastruktur R&D yang lemah, kurangnya pembiayaan dan dukungan awal, sedikitnya dukungan pemerintah – situasi yang umum baik di Amerika maupun Filipina. Dalam rangka mengembangkan bioteknologi di negara tersebut, Friedman menyarankan bahwa Filipina harus “memfokuskan diri kepada kombinasi unik kekayaan dan jurangnya (kelebihan dan kekurangannya). Sebuah perkembangan ekonomi tanaman harus disusun secara hati-hati guna pertimbangan kekuatan spesifik, kelemahan serta kesempatan yang ada di Filipina.”
Baca artikel selengkapnya di http://www.mb.com.ph/issues/2006/02/| 08/TECH2006020855842.html. Untuk informasi lebih lanjut, kirim email ke Philippine Biotechnology Information Center di bic@agri.searca.org atau kunjungi websitenya di http://www.bic.searca.org/.
NILAI TAMBAH PANGAN BIJI-BIJIAN INDIA
Tiga belas institusi penelitian perdana di India telah bekerjasama guna memastikan nilai tambah pangan biji-bijian dikembangkan untuk memerangi malnutrisi yang terjadi di seluruh dunia. Prakarsanya diawali oleh HarvestPlus, sebuah institusi dalam program biofortifikasi internasional. Prakarsa ini dipimpin oleh International Rice Research Institute (IRRI) dan International Food Policy Research Institute (IFPRI).
“Defisiensi zat besi dan seng merupakan masalah kesehatan masyarakat serius di India,” ujar M.K. Bhan, Sekretaris Bioteknologi, pada konferensi tiga hari dengan peserta tenaga ahli nasional dan internasional yang diselenggarakan di M.S. Swaminathan Research Foundation, “Bahkan jika kondisi sosial ekonomi kita telah diperbaiki, defisiensi zat besi tetap akan datang di tahun mendatang.”
Proyek ini diharapkan dapat mengubah kualitas hidup jutaan orang yang sekarang sedang mengalami “hidden hunger.” India dipercayai memiliki jumlah penduduk yang mengalami kekurangan nutrisi tertinggi di dunia, dengan separuh anak-anak dilaporkan kekurangan gizi.
Dalam berita yang terkait, pemerintah India saat ini sedang mempertimbangkan program diversifikasi makanan yang diharapkan dapat mengubah praktek budidaya padi dan gandum sekarang. Rencana tersebut adalah untuk mengadopsi varietas padi dan gandum berumur pendek bersamaan dengan sayur-sayuran dan kacang-kacangan pada saat budidaya kedua tanaman tersebut. Program ini awalnya akan diperkenalkan di Punjab dan Haryana tahun ini.
Baca cerita selengkapnya di http://ricenews.irri.cgiar.org/, http://www.newkerala.com/news2.php?action=fullnews&id=10133, dan http://www.thehindubusinessline.com/2006/02/18/stories/2006021802231200.htm. Untuk informasi lebih lanjut, hubungi Bhagirath Choudhary dari ISAAA South Asia Office di b.choudhary@cgiar.org.
KESUKSESAN PERTANIAN DI AUSTRALIA
The Agriculture and Food Policy Reference Group telah mengeluarkan sebuah laporan tentang “Merancang masa depan kita: Kebijakan pertanian dan pangan bagi generasi mendatang” yang disampaikan kepada Menteri Pertanian, Perikanan dan Kehutanan Australia. Laporan ini mengidentifikasi berbagai isu dan tantangan dasar yang seharusnya disadari negara tersebut bila sektor pertanian dan pangan menjadi sukses 10 sampai 15 tahun ke depan.
Isi laporan tersebut lebih ditekankan pada inovasi produksi dan pemasaran, menyuarakan kebijakan-kebijakan makro-ekonomi dan mikro-ekonomi, pengurangan beban peraturan, komunikasi yang akurat dari informasi yang relevan serta kerjasama antara bisnis dan pemerintah. Selain hal di atas, bioteknologi adalah salah satu bidang kajian yang diulas.
Laporan ini menyorot kebutuhan pemerintah Australia untuk:
* Memberikan prioritas lebih tinggi guna mengkomunikasikan keuntungan yang timbul dari bioteknologi pangan pertanian sekarang.
* Mempublikasikan kekuatan rezim peraturan bagi keamanan penelitian dan produk-produk hasilnya.
* Bekerja dengan bisnis pertanian dan pangan untuk memudahkan penerapan cepat bioteknologi pangan pertanian.
* Mencabut moratorium mengenai penggunaan secara komersial tanaman GM secepatnya.
Laporan selengkapnya tersedia online di http://www.agfoodgroup.gov.au/next_generation.html
CIMMYT MENGEMBANGKAN JAGUNG HIBRIDA TAHAN HERBISIDA
The International Maize and Wheat Improvement Center (CIMMYT), bekerjasama dengan rekan publik dan swasta telah mengembangkan dan menguji 26 Imidazolinone-resistant (IR) 3-Way hibrid jagung, di 18 lokasi dalam beberapa negara-negara sub-Saharan Afrika. Hibrida-hibrida ini disediakan untuk National Agricultural Research Systems (NARS) dan perusahaan-perusahaan benih di timur dan selatan Afrika untuk disertakan dalam percobaan guna meregistrasi varietas, pelepasan dan akhirnya komersialisasi di berbagai negara sub-Saharan Afrika.
Imidazolinone-resistance (IR) adalah bentuk alami dari resistensi hibrida yang mula-mula ditemukan dalam populasi mutasi. Herbisida Imidazolinone memiliki potensi biologi tinggi pada angka aplikasi rendah dengan demikian merupakan alternatif menarik untuk pengendalian gulma. Benih dari hibrida IR yang dilapisi oleh Imidazolinone memberikan perlindungan efektif melawan Striga, suatu parasit bunga dengan dampak merusakkan produksi tanaman di sub-Saharan Afrika. Dalam percobaan, hibrida IR menunjukkan peningkatan hasil sebesar 50% dan hampir 100% dapat mengendalikan Striga. Tanpa perlakuan benih dengan Imidazolinone hibrida yang sama dapat dikomersialkan dalam lokasi tanpa adanya Striga.
Untuk informasi lebih lanjut, hubungi Ms. Ebby Irungu (e.irungu@cgiar.org) atau kunjungi: http://www.africancrops.net/striga/CIMMYT-IR-Maize-Hybrids.pdf
PERTEMUAN AFRIKA TIMUR MENGENAI BIOTEKNOLOGI
Dialog Afrika Timur mengenai Pembuatan Kebijakan dan Bioteknologi, Perdagangan dan Pengembangan Dukungan telah diadakan pada tanggal 14-17 Februari 2006 di Jinja, Uganda. Pertemuan ini mengumpulkan bersama para pemegang kebijakan dalam skala luas dari wilayah Afrika Timur, meliputi anggota pemerintah dan organisasi antar pemerintah, kelompok masyarakat sipil, akademisi, industri dan media. Bersama, mereka kembali melepaskan perumusan perpaduan, penginformasian dan termasuk kebijakan perdagangan, bioteknologi serta pengembangan dukungan pada tingkat nasional, regional dan multilateral.
“Kebanyakan petani Afrika tetap berpenghidupan alami dan kebanyakan petani menumbuhkan tanaman yang tidak menghasilkan keuntungan. Pengenalan bioteknologi pertanian menyarankan suatu pergeseran ke arah tanaman menguntungkan dan pertanian industri. Hal ini digabungkan dengan reformasi kebijakan pertanian dan model ekonomi sehingga dapat segera diekspor-lebih dahulu menggunakan tanah dan pertanian,” ujar Ricardo MelĂ©ndez-Ortiz, direktur eksekutif ICTSD, dalam pidato pembukaannya, “Ini merupakan sebuah perubahan sosial budaya yang penting dan akan mencakup sejumlah besar orang dan lahan.”
Para peserta memaksa pemerintah untuk merumuskan sasaran kebijakan publik berkaitan dengan bioteknologi, meyakinkan bioteknologi meningkatkan sasaran kebijakan publik, memastikan partisipasi dan kesadaran masyarakat akan teknologi, menjamin hubungan kebijakan dalam bioteknologi, menambah sumberdaya keuangan dan pendanaan bagi bioteknologi serta memperkuat bantuan teknis dan membangun kapasitas.
Dialog tersebut diorganisir oleh International Center for Trade and Sustainable Development (ICTSD) dan African Technology Policy Studies Network (ATPS), serta wakil tuan rumah oleh African Union (AU) dan New Partnership for Africa's Development (NEPAD).
Ringkasannya disediakan oleh ATPS, di http://www.atpsnet.org. Temukan lebih lanjut di http://www.ictsd.org/dlogue/2006-02-14/2006-02-14-prog.htm atau hubungi Margaret Karembu dari ISAAA AfriCenter di m.karembu@isaaa.org.
-------------------------------------------------
PUBLIK MENDANAI PROYEK SEKUENSING UNTUK HAMA UTAMA KENTANG
Genus Phytophthora meliputi beberapa patogen penting tanaman penyebab penyakit hawar daun (late blight) pada tomat dan kentang, penyebab kehilangan sebagian besar produksi tanaman dunia. P. infestans, patogen penyebab menurunnya produksi kentang di Irlandia, adalah satu-satunya ancaman patogenik terbesar bagi keamanan pangan dunia, karena kentang merupakan makanan pokok di berbagai negara serta tanaman non sereal terpenting di dunia. Kerusakan yang diakibatkan oleh infeksi P. infestans diperkirakan melebihi US$ 5 miliar setahun di dunia.
National Science Foundation (NSF) US, departemen Riset Kerjasama Penelitian Pertanian, Pelayanan Penyuluhan dan Pendidikan dan Departemen Sumberdaya (DOE) Program Komunitas Pemerhati Sekuensing, mendanai dua proyek sebesar US$6.7 juta untuk sekuensing genom dua spesies Phytophthora. Proyek ini kerjasama antara Ohio State University, Massachusetts Institute of Technology (MIT), Cornell University, University of California-Riverside, dan North Carolina State University.
Prakarsa genom ini dirancang untuk memperoleh informasi mengenai 20000 gen Phytophthora guna identifikasi gen yang penyebab infeksi, sehingga strategi pengendalian penyakit dapat dikembangkan. Informasi tersebut juga penting untuk menemukan gen mana yang resisten terhadap Phytophthora dalam tanaman. “Ketika berhadapan dengan penyakit tanaman, langkah terpenting adalah mengetahui musuh, dan memperoleh sekuen genom dari patogen tersebut merupakan kunci untuk mempelajari mereka lebih jauh” ujar Sophien Kamoun, asisten profesor di Ohio State University. Proyek sangat bermanfaat bagi para petani miskin di negara berkembang. “Faktanya adalah bahwa anda tidak dapat menumbuhkan kentang tanpa menyemprot hawar daun,” Kamoun menambahkan. “Ini adalah suatu penyakit yang dapat dikendalikan namun mahal biayanya.
Bagaimanapun, pada banyak wilayah di dunia dimana petani tidak mengerti pengaplikasian bahan-bahan kimia, penyakit tersebut dapat menyebabkan kekurangan pangan dan kelaparan.
Untuk informasi lebih lanjut, kunjungi http://www.oardc.ohio-state.edu/story.php?id=3530.
PENGHARGAAN DANFORTH CENTER AWARD BAGI BORLAUG
Penerima nobel Dr. Norman E. Borlaug, yang sering dikenal sebagai “Bapak Revolusi Hijau” dalam pertanian, telah menerima Danforth Award untuk Plant Science dalam pengenalan komitmen sepanjang hidupnya guna meningkatkan produksi pertanian global melalui ilmu pengetahuan tanaman. The groundbreaking dikerjakan oleh tim riset dan rekannya dari seluruh dunia seputar kekurangan pangan kronis yang dialami oleh India dan Pakistan pada tahun 1960 an dan mengawali Penghargaan Nobel Perdamaiannya pada 1970.
Dr. Borlaug baru-baru ini menerima National Medal of Science, dan diberikan penghargaan Padma Vibhushan – penghargaan nasional tertinggi kedua India oleh pemerintah India. “Norman Borlaug telah memberikan banyak keuntungan kepada lebih banyak orang dibandingkan orang lain dalam hidupku serta telah menunjukkan bagaimana ilmu pengetahuan dapat memecahkan masalah kemanusiaan. Beliau adalah seorang pahlawan dan contoh pedoman bagi kita di Donald Danforth Plant Science Center,” ujar Ketua Danforth Center, Dr. William H. Danforth. “Bahwa seseorang dapat memberikan manfaat yang amat besar bagi dunia adalah suatu anugerah. Merupakan kebanggaan untuk sekali lagi menjadi tuan rumah bagi Dr. Borlaug di Danforth Center, serta sebuah kehormatan untuk memperkenalkan prestasi pentingnya yang mengagumkan sepanjang hidup.”
Baca artikel selengkapnya di http://www.danforthcenter.org/newsmedia/NewsDetail.asp?nid=114.
WEBSITE FAO DILUNCURKAN GUNA MEMBANTU PARA RIMBAWAN MENGATASI SPESIES PENGGANGGU
The Food and Agriculture Organization of the United Nations (FAO) telah merancang sebuah database online baru berisi informasi menyeluruh mengenai spesies pengganggu sebagai sebuah alat guna membantu para rimbawan menghadapi masalah pertumbuhan.
Spesies pengganggu tersebut antara lain tanaman, hewan atau organisme lainnya diperkenalkan dari ekosistem asing dan sering berdampak negatif dalam komunitas alami yang diserang olehnya, serta menyebabkan kerusakan ekonomis dan lingkungan penting. Total biaya kehilangan dalam pertanian dan kehutanan di enam negara telah diperkirakan mencapai US$314 miliar per tahun, menurut sebuah survei yang dilaporkan di jurnal pertanian, ekosistem dan lingkungan. Ancaman spesies pengganggu ini tumbuh secara dramatis seiring dengan peningkatan perdagangan dan perjalanan global baru-baru ini.
“Informasi menyeluruh mengenai spesies pengganggu terkait dengan hutan tidak ada sebelumnya. Untuk pertama kalinya gerbang telah terbuka mengenai spesies pengganggu terkait dengan kehutanan,” ujar Gillian Allard, ahli proteksi dan kesehatan hutan FAO. “Kami berharap website dan database mampu membantu meningkatkan kesadaran diantara para rimbawan akan kebutuhan yang ditujukan untuk masalah tersebut dari awal sampai akhir – dari ukuran pencegahan sampai manajemen.
Untuk informasi lebih lanjut, kunjungi: http://www.fao.org/newsroom/en/news/2006/1000233/index.html
IDENTIFIKASI: GEN PENYEBAB PEMASAKAN PEPAYA
Pepaya merupakan salah satu buah penting di daerah tropis, digunakan baik untuk industri kosmetik maupun pangan. Sebagai hasilnya, studi dilakukan pada genom pepaya guna mengidentifikasi gen-gen kandidat melalui penanda – bantuan pemuliaan atau rekayasa genetika. Luke C. Devitt beserta rekannya dari Queensland Agricultural Biotechnology Center menyumbangkan penemuannya berjudul “Penemuan gen-gen yang terkait dengan pemasakan buah Carica papaya menggunakan label sekuen yang terekspresi.” Hasil pekerjaan mereka muncul di isu terkini Plant Science.
Untuk mengidentifikasi gen-gen yang terlibat dalam pemasakan pepaya, para peneliti menghasilkan total 1171 label sekuen yang terekspresi (ESTs) dari klon-klon dua perpustakaan cDNA buah beraal dari varietas yang berdaging buah merah dan kuning. ESTs adalah fragmen DNA pendek dari gen yang terekspresi. Mereka telah digunakan secara luas dan efektif dalam sejumlah spesies buah sebagai sebuah alat cepat penemuan gen.
Para peneliti menemukan bahwa kebanyakan sekuen gen berlimpah diisolasi ketika mengkode enzim kitinase, yang memecah kitin;1-aminocyclopropane-1-carboxylic acid (ACC) oxidase, mengendalikan pelepasan etilen dalam tanaman; katalase, memecah hidrogen peroksida yang berbahaya menjadi hidrogen dan air serta methionine synthase, yang memproses asam amino. Para peneliti juga menemukan gen-gen putatif yang berperan dalam pelembutan buah, diantaranya hidrolisis dinding sel, hidrolisis dinding membran, dan sintesis etilen serta pengaturan sekuensing, Dengan membandingkan EST-EST sekuen gen dalam spesies tanaman lain, peneliti mengidentifikasi gen pepaya terekspresi yang berperan dalam pembentukan aroma dan warna buah.
Para pelanggan Plant Science dapat membaca artikel selengkapnya di http://dx.doi.org/10.1016/j.plantsci.2005.09.003.
ARABIDOPSIS MENYEBABKAN TOLERANSI TERHADAP GARAM
Lahan berkadar garam tinggi dapat membatasi produktivitas pertanian dan menurunkan kualitas tanaman. Seperti halnya tanah berkadar garam tinggi (tanah salin) merupakan masalah yang sedang berkembang di berbagai negara, perkembangan tanaman yang toleran terhadap salinitas adalah kunci prioritas. Salah satu pendekatan guna merekayasa toleransi terhadap garam dilaporkan dalam isu terakhir Plant Science oleh Eun-Ji Koh dan rekannya dalam artikel yang berjudul “Ekspresi dari yeast cadmium factor 1 (YCF1) memberikan toleransi terhadap garam bagi Arabidopsis thaliana.”
Studi-studi sebelumnya telah menunjukkan bahwa ketika yeast cadmium faktor 1 (YCF1) dimasukkan ke Arabidopsis, membuat tanaman dapat tumbuh dalam kondisi metal berat. Dalam tulisan ini, para peneliti menunjukkan bahwa lini Arabidopsis yang mengekspresikan YCF1 juga toleran terhadap garam. Menurut pengarang, peningkatan toleransi terhadap garam ini berkaitan dengan pergerakan ion-ion garam dari sitosol ke vakuola, membiarkan sel memelihara keseimbangan osmotiknya.
Para pelanggan Plant Science dapat membaca artikel selengkapnya di http://dx.doi.org/10.1016/j.plantsci.2005.10.007.
AGROBACTERIUM
Agrobacterium-perantara transformasi genetika merupakan teknologi yang paling banyak digunakan untuk mengekspresikan protein rekombinan (yang dikode dari DNA hasil rekayasa genetika) dalam tanaman inang.
Agrobacterium secara rutin digunakan dalam dua tipe utama terapan: dalam pembuatan tanaman transgenik yang menginginkan penggabungan stabil dari sekuen DNA asing kedalam genom inang, dan produksi protein rekombinan temporer yang mengikuti infeksi. Ekspresi temporer tidak menghendaki penggabungan transgen yang stabil, bagaimanapun juga menghasilkan level rendah ekspresi protein ketika tidak semua sel tanaman inang terinfeksi. Dalam tiga dekade penelitian Agrobacterium, banyak protokol telah dirancang dan dihubungkan dengan hak paten yang kadang kala berdampak negatif pada penelitian.
Sang-Min Chung dan rekannya dari State University of New York meninjau kembali kemajuan terkini dalam teknologi transformasi yang menggunakan inang alternatif untuk transformasi stabil dan vektor viral yang diperbaiki untuk ekspresi temporer. Artikel berjudul “Agrobacterium bukan satu-satunya: transfer gen ke tanaman oleh virus dan bakteri lainnnya,” dipublikasikan dalam isu terakhir dari tren dalam Plant Science.
Pengarang tersebut meninjau perkembangan terkini dalam perbaikan 3 spesies bukan Agrobacterium - Rhizobium sp. NGR234, Sinorhizobium meliloti dan Mesorhizobium loti - bagi pembuatan tanaman transgenik yang stabil. Spesies-spesies ini dapat lebih baik berinteraksi dengan spesies tanaman inang tertentu serta dengan demikian menghindari mekanisme pertahanan tanaman yang membatasi efisiensi transformasi.
Sebagai tambahan, mereka menyediakan sumber alternatif terbuka untuk klaim paten. Para pengarang juga melaporkan perkembangan vektor viral dengan pengaruh yang ditingkatkan guna perbaikan protokol ekspresi temporer.
Baca artikel selengkapnya di http://www.sciencedirect.com/science?_ob=MImg&_imagekey=B6TD1-4HK04VJ-2
-3&_cdi=5185&_user=677719&_orig=browse&_coverDate=01%2F31%2F2006&_sk=999889998&view=c&wchp=dGLbVlb-zSkzV&md5=deeb62540e2cdcf6a8caa40f8cdfba07&ie=/sdarticle.pdf dalam complimentary issue jurnal.
PENGARUH PUPUK DALAM PENELITIAN ANTIOKSIDAN TOMAT
Tomat adalah sumber antioksidan penting dan ternyata dapat mengurangi resiko kanker prostat dan berbagai bentuk kanker lainnya. Kandungan antioksidan dalam buah tomat, bagaimanapun dapat dipengaruhi oleh kultivar, kondisi pertumbuhan, musim, cara pemanenan dan pemasakan yang baik dan gagal.
R.K. Toora dari Lincoln University, Canterbury, New Zealand dan rekannya meneliti tentang “Pengaruh berbagai tipe pupuk yang berbeda-beda dalam komponen utama antioksidan dari tomat” dimuat dalam isu terkini Journal of Food Composition and Analysis. Para peneliti mengukur dampak cairan nutrisi mineral yang berbeda, kotoran ayam, dan pupuk yang terbuat dari campuran jerami dan rumput bagi kadar antioksidan dan kemasaman ketika pupuk tersebut diaplikasikan pada tomat yang ditumbuhkan dalam greenhouse.
Para pengarang menemukan bahwa: 1) tidak terdapat perbedaan besar dalam hasil, kandungan bahan kering atau bahan padat tomat yang dapat dimakan ketika ditumbuhkan dengan menggunakan berbagai bentuk pupuk yang berbeda; 2) kandungan utama lycopene suatu karotenoid potensial antioksidan 40% lebih rendah pada tomat yang tumbuh dengan kadar klorida tinggi dan campuran jerami-rumput dibandingkan dengan perlakuan lainnya; serta 3) aktivitas antioksidan utama dari tanaman yang diberikan ammonium 14% lebih rendah dibandingkan dengan perlakuan lainnya.
Baca artikel selengkapnya di http://dx.doi.org/10.1016/j.jfca.2005.03.003.
WORKSHOP BIOTEKNOLOGI ISLAM AKAN DISELENGGARAKAN DI KAIRO
Sebuah workshop bertema “Perkembangan Bioteknologi Pertanian Dalam Negara-Negara Islam: Berbagi Pengalaman Tentang Berbagai Isu dan Tantangan” diselenggarakan di Kairo, Mesir pada tanggal 6-8 Maret. Even ini diorganisir oleh Biotechnology Information Centers (BICs) of Egypt, Malaysia, Indonesia, Bangladesh dan Pakistan. BIC-BIC tersebut adalah urat nasional dari jaringan pengetahuan bioteknologi global yang dikoordinasikan oleh International Service for the Acquisition of Agri-biotech Applications (ISAAA). Baik BIC maupun ISAAA adalah organisasi non-profit.
Workshop tersebut diselenggarakan guna mengumpulkan bersama para peneliti, pembuat kebijakan dan otoritas agama untuk mendiskusikan perkembangan bioteknologi pertanian dalam negara-negara Islam tertentu. Suatu pemahaman yang baik akan bioteknologi pertanian diantara para pembuat kebijakan dan otoritas agama akan memungkinkan mereka memberikan pengetahuan kepada masyarakat serta merumuskan peraturan fatwa menurut ajaran Islam. Hal ini penting sehingga negara-negara Islam dapat memperoleh keuntungan dari bioteknologi serta pada saat yang sama mempertahankan keyakinannya.
Untuk informasi lebih lanjut, email ke: knowledge.center@isaaa.org
BEASISWA PREST BAGI PARA PROFESIONAL DI BIDANG ILMU PENGETAHUAN DAN TEKNOLOGI
Manchester Business School, University of Manchester, menerima lamaran untuk beasiswa PREST selama 3 bulan, didanai oleh Commonwealth Scholarship Commission. Beasiswa tersebut dimaksudkan untuk para profesional yang berkarier (bukan akademisi universitas) yang sedang bekerja dalam wilayah yang berhubungan dengan ilmu pengetahuan dan kebijakan teknologi serta manajemen yang membutuhkan beberapa pelatihan dalam wilayah ini serta sebuah kesempatan untuk membentuk jaringan di U.K. Seluruh pengeluaran termasuk perjalanan dan biaya tinggal disediakan oleh beasiswa.
Para pelamar harus memiliki pengalaman kerja sekurang-kurangnya 5 tahun dan diharapkan akan belajar serta membawa pelajaran mereka ke negaranya masing-masing. Tahun ini, lamaran dari berbagai negara yang sebelumnya belum melamar PREST terutama sekali didukung (khususnya Kenya, Afrika Selatan, Zambia, Botswana dan Gambia). Batas waktu akhir untuk lamaran adalah April 2006.
Untuk informasi lebih lanjut hubungi Dr.Khaleel Malik di khaleel.malik@manchester.ac.uk
SWITZERLAND MANJADI TUAN RUMAH BIOSQUARE 2006
Biosquare 2006 akan diselenggarakan pada 8-10 Maret 2006 di CICG Geneva, Switzerland. Konferensi ini didukung oleh EuropaBio dan akan menonjolkan Program Kerjasama. Program ini memberikan jarak waktu untuk privasi, 30 menit dari satu pertemuan ke pertemuan lain antara para eksekutif bioteknologi dan farmasi, para investor seperti halnya memimpin institusi riset akademik.
Untuk informasi lebih lanjut mengenai konferensi tersebu, kunjungi http://www.ebdgroup.com/biosquare/registration.htm.
WORKSHOP GANDUM DISELENGGARAKAN OLEH CIMMYT
The International Maize and Wheat Improvement Centre (CIMMYT) akan menyelenggarakan sebuah workshop dalam peningkatan hasil gandum pada 20-24 Maret 2006 di Obregon, Meksiko. Workshop tersebut ditujukan untuk meningkatkan potensi hasil gandum dalam area produksi tinggi dengan penekanan bagi negara-negara berkembang. Topik yang dibahas mencakup teknologi terbaru dalam pemuliaan, genetika, fisiologi dan manajemen tanaman yang dapat diterapkan guna memaksimalkan hasil genetika gandum dan ekspresinya. Presentasi lainnya akan berfokus pada bagaimana teknologi dapat meningkatkan dan menstabilkan hasil pertanian guna memperbaiki keamanan pangan dan mata pencaharian. Para ilmuwan gandum dari seluruh dunia termasuk para dari wilayah produksi gandum terbesar dan tertinggi akan ikut serta dalam workshop tersebut.
Untuk informasi lebih lanjut, hubungi M. Reynolds m.reynolds@cgiar.org, atau kunjungi http://www.cimmyt.org/english/wps/events/2006/intlIncreasYield.htm.
Tuesday, March 07, 2006
Diperkenalkan, Energi Alternatif di Wilayah Perbatasan
Kabupaten Belu dan Kabupaten Timor Tengah Utara di Nusa Tenggara Timur, yang berbatasan langsung dengan wilayah Timor Timur, seperti wilayah perbatasan umumnya di Indonesia merupakan daerah yang terisolasi karena minimnya sarana transportasi dan ketersediaan energi. Belum lagi adanya keterbatasan lain, terutama menyangkut akses komunikasi dan informasi serta pendidikan.
Mengatasi masalah tersebut, sejak dua tahun lalu Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dengan paket teknologinya melakukan pendekatan yang terintegrasi, termasuk mencari energi alternatif dengan memanfaatkan sumber daya energi lokal, antara lain dari pohon lontar untuk menghasilkan bioetanol. Tujuan akhir dari program di Kabupaten Belu adalah tumbuhnya kemandirian serta meningkatkan standar hidup dan kesejahteraan masyarakat di perbatasan.
Hal tersebut dipaparkan oleh Kepala LIPI Prof Umar A Jenie dalam kunjungan kerjanya di Atambua, Kamis (17/2), untuk meresmikan beroperasinya stasiun pemancar TV, radio, telepon pedesaan, serta instalasi pembuatan es balok untuk pengawetan ikan. Kegiatan ini merupakan bagian dari program kerja 100 hari LIPI.
Lebih lanjut dijelaskan oleh Dr Joko Sulityo APU, ahli teknologi pangan dari LIPI, Belu merupakan salah satu daerah di Nusa Tenggara Timur yang dikenal sebagai "kepulauan lontar" karena di sini terdapat ratusan ribu pohon lontar. Saat ini tumbuhan alam itu baru dimanfaatkan sekitar 1-2 persen saja untuk gula lontar dan minuman beralkohol.
Potensi itu sebenarnya dapat dikembangkan menjadi bioetanol dan alkohol medik. Pembuatan bioetanol dari lontar saat ini tengah diteliti. Apalagi teknologi pembuatan alkohol medik akan dapat menggerakkan industri rumah tangga melalui pembentukan kelompok usaha di daerah ini.
"Untuk membangun usaha tersebut, diperlukan dana Rp 20 juta per kelompok," urai Joko, yang juga Kepala Konsorsium Pembangunan Agroindustri Terpadu Bogor Agribio.
Belu yang memiliki padang savana yang luas dan kurang produktif, menurut Dr Arjuno Brodjonegoro, Koordinator Program LIPI untuk Wilayah Perbatasan, juga dapat mengembangkan budidaya tanaman jarak pagar dan mengolahnya menjadi minyak jarak. Bahan bakar ini dapat menggantikan minyak tanah yang selama ini harus didatangkan dari luar pulau. Produksi minyak jarak nantinya dapat memenuhi kebutuhan rumah tangga di pedesaan yang banyak bergantung pada sumber energi ini.
Wilayah di sebelah selatan Atambua seluas ratusan hektar itu diketahui dapat ditanami jarak pagar. Pembibitan jarak saat ini tengah dirintis oleh LIPI bekerja sama dengan Dinas Kehutanan Belu. Penelitian jarak untuk energi ini juga akan melibatkan peneliti dari Institut Teknologi Bandung.
"Untuk menghasilkan minyak jarak, prosesnya relatif sederhana, yaitu dengan cara dipres. Hal ini dapat melibatkan masyarakat setempat," ujarnya.
PLTS
Pemenuhan kebutuhan listrik di Belu saat ini juga merupakan masalah lain. Kebutuhan listrik masyarakat di perbatasan itu, kata Wakil Bupati Belu Gregorius Mau Bili, saat ini masih dipasok dari pembangkit listrik tenaga diesel. Untuk meningkatkan pasokan daya itu di desa-desa yang terpencil, Pemerintah Kabupaten Belu akan bekerja sama dengan BPPT membangun pembangkit listrik tenaga surya (PLTS). Energi matahari di daerah yang bersuhu udara sekitar 40 derajat Celsius itu tergolong potensial.
"Dengan PLTS, masyarakat dapat memperpanjang jam kerja pada malam hari. Melalui sentuhan teknologi, juga dapat dimanfaatkan potensi sumber energi lain, seperti air dan angin. Dengan energi alternatif ini dapat meningkatkan kegiatan usaha dan kesejahteraan keluarga masyarakat Belu," urainya.
Sementara itu, menurut Kepala Puslitbang Bioteknologi LIPI Bambang Prasetyo, etanol juga dapat dihasilkan dari proses biodegradasi bagas atau ampas tebu oleh jamur pelapuh putih (white rot fungi).
Penelitian yang dilakukan Bambang bekerja sama dengan Muhammad Samsuri dari Kementerian Negara Riset dan Teknologi menggunakan kapang S cerevisiae AM12 menghasilkan enzim selulase (meicellase) untuk mengurai bagas menjadi etanol. Proses penguraian itu adalah fermentasi dan sakarifikasi simultan.
Ia melihat selama ini ampas tebu dibuang begitu saja sehingga menimbulkan pencemaran, seperti yang terjadi di perkebunan dan industri gula di Lampung. Pemanfaatan bagas akan mendatangkan keuntungan tinggi karena bagas sebagai bahan baku dapat diperoleh secara cuma-cuma.
Sumber : Kompas (19 Februari 2005)
Mengatasi masalah tersebut, sejak dua tahun lalu Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dengan paket teknologinya melakukan pendekatan yang terintegrasi, termasuk mencari energi alternatif dengan memanfaatkan sumber daya energi lokal, antara lain dari pohon lontar untuk menghasilkan bioetanol. Tujuan akhir dari program di Kabupaten Belu adalah tumbuhnya kemandirian serta meningkatkan standar hidup dan kesejahteraan masyarakat di perbatasan.
Hal tersebut dipaparkan oleh Kepala LIPI Prof Umar A Jenie dalam kunjungan kerjanya di Atambua, Kamis (17/2), untuk meresmikan beroperasinya stasiun pemancar TV, radio, telepon pedesaan, serta instalasi pembuatan es balok untuk pengawetan ikan. Kegiatan ini merupakan bagian dari program kerja 100 hari LIPI.
Lebih lanjut dijelaskan oleh Dr Joko Sulityo APU, ahli teknologi pangan dari LIPI, Belu merupakan salah satu daerah di Nusa Tenggara Timur yang dikenal sebagai "kepulauan lontar" karena di sini terdapat ratusan ribu pohon lontar. Saat ini tumbuhan alam itu baru dimanfaatkan sekitar 1-2 persen saja untuk gula lontar dan minuman beralkohol.
Potensi itu sebenarnya dapat dikembangkan menjadi bioetanol dan alkohol medik. Pembuatan bioetanol dari lontar saat ini tengah diteliti. Apalagi teknologi pembuatan alkohol medik akan dapat menggerakkan industri rumah tangga melalui pembentukan kelompok usaha di daerah ini.
"Untuk membangun usaha tersebut, diperlukan dana Rp 20 juta per kelompok," urai Joko, yang juga Kepala Konsorsium Pembangunan Agroindustri Terpadu Bogor Agribio.
Belu yang memiliki padang savana yang luas dan kurang produktif, menurut Dr Arjuno Brodjonegoro, Koordinator Program LIPI untuk Wilayah Perbatasan, juga dapat mengembangkan budidaya tanaman jarak pagar dan mengolahnya menjadi minyak jarak. Bahan bakar ini dapat menggantikan minyak tanah yang selama ini harus didatangkan dari luar pulau. Produksi minyak jarak nantinya dapat memenuhi kebutuhan rumah tangga di pedesaan yang banyak bergantung pada sumber energi ini.
Wilayah di sebelah selatan Atambua seluas ratusan hektar itu diketahui dapat ditanami jarak pagar. Pembibitan jarak saat ini tengah dirintis oleh LIPI bekerja sama dengan Dinas Kehutanan Belu. Penelitian jarak untuk energi ini juga akan melibatkan peneliti dari Institut Teknologi Bandung.
"Untuk menghasilkan minyak jarak, prosesnya relatif sederhana, yaitu dengan cara dipres. Hal ini dapat melibatkan masyarakat setempat," ujarnya.
PLTS
Pemenuhan kebutuhan listrik di Belu saat ini juga merupakan masalah lain. Kebutuhan listrik masyarakat di perbatasan itu, kata Wakil Bupati Belu Gregorius Mau Bili, saat ini masih dipasok dari pembangkit listrik tenaga diesel. Untuk meningkatkan pasokan daya itu di desa-desa yang terpencil, Pemerintah Kabupaten Belu akan bekerja sama dengan BPPT membangun pembangkit listrik tenaga surya (PLTS). Energi matahari di daerah yang bersuhu udara sekitar 40 derajat Celsius itu tergolong potensial.
"Dengan PLTS, masyarakat dapat memperpanjang jam kerja pada malam hari. Melalui sentuhan teknologi, juga dapat dimanfaatkan potensi sumber energi lain, seperti air dan angin. Dengan energi alternatif ini dapat meningkatkan kegiatan usaha dan kesejahteraan keluarga masyarakat Belu," urainya.
Sementara itu, menurut Kepala Puslitbang Bioteknologi LIPI Bambang Prasetyo, etanol juga dapat dihasilkan dari proses biodegradasi bagas atau ampas tebu oleh jamur pelapuh putih (white rot fungi).
Penelitian yang dilakukan Bambang bekerja sama dengan Muhammad Samsuri dari Kementerian Negara Riset dan Teknologi menggunakan kapang S cerevisiae AM12 menghasilkan enzim selulase (meicellase) untuk mengurai bagas menjadi etanol. Proses penguraian itu adalah fermentasi dan sakarifikasi simultan.
Ia melihat selama ini ampas tebu dibuang begitu saja sehingga menimbulkan pencemaran, seperti yang terjadi di perkebunan dan industri gula di Lampung. Pemanfaatan bagas akan mendatangkan keuntungan tinggi karena bagas sebagai bahan baku dapat diperoleh secara cuma-cuma.
Sumber : Kompas (19 Februari 2005)
Subscribe to:
Posts (Atom)
Tiga Tahun Lagi, Indonesia Yakin Lepas dari Impor Sapi
Jumat, 8 Januari 2016 Program sapi unggulan berhasil dikembangkan. VIVA.co.id - Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) bekerjasa...
-
Nature 451 , 397-399 (24 January 2008) | doi :10.1038/451397a ; Published online 23 January 2008 A tale of two citations M...
-
Sabtu, 5 Desember 2015 11:39 WIB | 8.491 Views Para peneliti menemukan resep baru untuk mengembangkan penawar rasa sakit generasi selan...
-
Jumat, 8 Januari 2016 Program sapi unggulan berhasil dikembangkan. VIVA.co.id - Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) bekerjasa...